Mahasiswa KKN Unhas Dokumentasikan Sejarah dan Tradisi Desa Bonto Loe Lewat Film Dokumenter
BANTAENG, TEKAPE.co – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin Posko Desa Bonto Loe, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, memaparkan hasil program kerja individu berupa pendokumentasian sejarah, tradisi, dan kearifan lokal Desa Bonto Loe sebagai upaya memperkuat identitas desa, Senin (10/8/2026).
Program tersebut dipresentasikan dalam Seminar Hasil Program Kerja KKNT Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Posko Desa Bonto Loe 2 yang dihadiri pemerintah desa, masyarakat, dan mahasiswa KKN.
Pemapar program, Adrian Zet Patoding, menjelaskan bahwa dokumentasi sejarah dan budaya desa dilatarbelakangi oleh pentingnya menjaga warisan adat, tradisi, dan kearifan lokal yang selama ini lebih banyak diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
“Program ini kami buat karena melihat bahwa sejarah, adat, tradisi, dan kearifan lokal merupakan bagian penting dari identitas Desa Bonto Loe. Selama ini sebagian besar pengetahuan tersebut diwariskan secara lisan. Karena itu, kami mencoba mendokumentasikannya dalam bentuk film dokumenter dan buku saku agar dapat menjadi arsip yang bisa dipelajari dan dimanfaatkan oleh generasi berikutnya,” ujar Adrian.
Melalui program tersebut, berbagai informasi mengenai budaya lokal dikemas dalam bentuk dokumentasi yang lebih sistematis, menarik, dan mudah diakses, terutama oleh generasi muda.
Hasilnya berupa film dokumenter dan buku saku yang diharapkan menjadi arsip budaya sekaligus media edukasi bagi masyarakat Desa Bonto Loe maupun masyarakat di luar desa.
Film dokumenter yang dipaparkan mengangkat kehidupan budaya masyarakat Desa Bonto Loe sebagai salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN dalam mendukung pelestarian budaya lokal.
Selain menghasilkan dokumentasi visual, program ini juga diarahkan untuk membangun basis data budaya yang informatif dan edukatif sehingga dapat dimanfaatkan pemerintah desa dalam memperkenalkan sekaligus mempromosikan potensi budaya Desa Bonto Loe di masa mendatang.
Usai pemaparan, mahasiswa KKNT menyerahkan film dokumenter tersebut kepada Pemerintah Desa Bonto Loe sebagai bentuk keberlanjutan program setelah masa pelaksanaan KKN berakhir.
Sekretaris Desa Bonto Loe mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang dinilai mampu menghadirkan arsip budaya yang bermanfaat bagi desa.
“Kami dari pemerintah desa tentu sangat mengapresiasi program ini. Dokumentasi seperti ini penting bagi desa karena bisa menjadi arsip tentang adat, tradisi, dan sejarah yang ada di Bonto Loe. Harapan kami, hasil dokumentasi ini tidak berhenti setelah KKN selesai, tetapi dapat terus dimanfaatkan dan menjadi bahan bagi generasi muda untuk mengenal budaya yang ada di desanya,” katanya.
Menurutnya, dokumentasi budaya tersebut tidak hanya berfungsi sebagai arsip, tetapi juga dapat menjadi media untuk memperkenalkan identitas dan potensi budaya Desa Bonto Loe kepada masyarakat yang lebih luas.
Program tersebut juga menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui pelestarian pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan lokal.
Adrian berharap hasil program yang telah disusun dapat terus dimanfaatkan oleh pemerintah desa dan masyarakat.
“Kami berharap film dokumenter ini tidak hanya menjadi output dari program kerja KKN, tetapi benar-benar dapat digunakan oleh pemerintah desa dan masyarakat. Semoga dokumentasi ini bisa menjadi pengingat bahwa Bonto Loe memiliki sejarah, tradisi, dan kearifan lokal yang penting untuk terus dijaga,” ujarnya.
Melalui pendokumentasian sejarah, tradisi, dan kearifan lokal tersebut, mahasiswa KKNT Universitas Hasanuddin Gelombang 116 berharap warisan budaya Desa Bonto Loe dapat terus dikenali, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. (*)





Tinggalkan Balasan