oleh

SALAM REDAKSI: Hadir Dengan Rubrik Berbahasa Daerah

RUBRIK LONTARA, berita berbahasa daerah (Luwu, Makassar, Bugis) ini diadobsi dari rubrik Koran TEKAPE.

Berhubung karena TEKAPE tak lagi cetak, dan fokus di media online, maka kami menyiapkan rubrik berhasa daerah, Lontara. Sebab bahasa daerah tidak boleh punah.

Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), ada 646 bahasa daerah di Indonesia.

Khusus di Pulau Sulawesi sebanyak 53 bahasa daerah, Bali dan Nusa Tenggara 73 bahasa, Maluku 65 bahasa, Papua 376 bahasa, Kalimantan 53 bahasa, Sumatera 21 bahasa, dan Jawa 5 bahasa.

Utamakan Bahasa Indonesia, namun jangan lupa lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.

Kehadiran rubrik ini membawa misi untuk memelihara kearifan lokal dan warisan budaya nenek moyang kita, khususnya di Sulsel.

Salah satu warisan adalah bahasa daerah yang terus tergerus zaman. Generasi yang disebut ‘jaman now’ banyak yang tidak lagi paham bahasa orangtuanya, khususnya yang hidup di kota.

Untuk itu, kami hadir dengan berita berbahasa daerah. Rubrik berbahasa daerah ini kami beri nama ‘LONTARA.’

Dalam rubrik ini ada tiga bahasa daerah yang mewakili kelompok suku yang dominan di Sulsel, yakni Bahasa Luwu atau Tae, Bahasa Makassar, dan Bugis.

Bahasa ini juga mewakili tiga kerajaan besar di Sulsel, yakni Kedatuan Luwu, Kerajaan Gowa, dan Kerajaan Bone. Tiga kerajaan tua di Sulsel ini dikenal dengan sebutan ‘Tellupoccoe.’ Juga dikenal istilah ‘Pajung ri Luwu, Somba ri Gowa, Mangkau ri Bone.’

Nama Rubrik LONTARA, berita berbahasa daerah, ini kami ambil dari simbol literasi yang dipakai di Sulsel.

LONTARA selama ini dikenal sebagai nama aksara tradisional di Sulsel. Tulisan LONTARA kini hampir punah dan tak banyak yang bisa membacanya.

Rubrik ini pada awalnya kami berniat menggunakan tulisan akasara LONTARA, namun karena keterbatasan aplikasi di komputer, sehingga kami memutuskan untuk menggunakan akasara latin atau yang lazim digunakan, dengan bahasa daerah.

Paling tidak, ada upaya kami untuk merawat bahasa nenek moyang kita yang cenderung tergerus, kalau tidak bisa akasaranya, minimal pengucapan atau percakapannya yang terus terpelihara.

Rubrik berita berbahasa daerah ini kami upayakan bisa hadir sekali dalam sepekan.

Rubrik ini kami harus akui, masih terdapat banyak kekurangan. Utamanya dari sisi kualitas dan kuantitas.

Namun demikian, kami terus berupaya, dengan SDM anak muda yang kami miliki, kami yakin akan tampil lebih fleksibel dan membawa warna tersendiri.

Selain itu, melalui tulisan ini, kami memperkenalkan badan hukum yang kita pakai, namanya PT Tempat Kreatifitas Anak Muda Pore (TEKAPE).

Nama itu kami pilih, karena di TEKAPE, semuanya energi muda, menjadi wadah menuangkan kreativitas anak muda hebat atau ‘pore.’

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada para mitra dan pembaca, atas dukungannya. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan masukan yang positif dan sifatnya membangun. Selamat membaca. (*)

Komentar

Berita Terkait