Di Balik Kabut Buntu Talinga Toraja, Jejak Leluhur dan Panorama yang Menanti untuk Kembali Dikenal
TIDAK semua destinasi wisata menawarkan cerita. Di Pitung Penanian, Kecamatan Rantebua, Toraja Utara, keindahan alam justru berjalan beriringan dengan kisah-kisah yang diwariskan lintas generasi. Buntu Talinga menjadi saksi bisu tentang tempat bertapa para leluhur, pos pengintaian pada masa kolonial, sekaligus panorama eksotis yang kini perlahan terlupakan.
Laporan: Erlinuddin
*Wartawan Tekape.co di Toraja
KABUT tipis perlahan menyelimuti perbukitan ketika matahari mulai menghangatkan hamparan sawah di Pitung Penanian, Kecamatan Rantebua, Toraja Utara.
Dari ketinggian, bentangan alam terlihat bak lukisan; pegunungan hijau, petak-petak persawahan, dan rumah-rumah warga berpadu menghadirkan panorama yang memanjakan mata.
Namun, keindahan Pitung Penanian bukan hanya tentang lanskap alamnya. Kampung yang oleh sebagian anak muda dijuluki ‘Kampung Tujuh Lagu’ (bahasa Toraja: Pitung Penanian) itu juga menyimpan kisah-kisah leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satunya berada di Buntu Talinga, sebuah bukit yang hingga kini masih diselimuti cerita, mitos, dan jejak sejarah.
Berlokasi sekitar 27 kilometer dari Kota Rantepao, perjalanan menuju Pitung Penanian memerlukan waktu sekitar dua jam menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Meski jalannya berkelok mengikuti kontur pegunungan, setiap tikungan menyuguhkan pemandangan yang membuat perjalanan terasa begitu berharga.
Di balik keelokan alamnya, masyarakat setempat meyakini kawasan ini memiliki nilai historis dan budaya yang kuat.
Berdasarkan penelusuran Tekape.co, wilayah Pitung Penanian dikenal dalam dialek Toraja Padang sebagai “Issong Digente’ Tondok Dipomaririnna Tallo’ lan Lili’na Penanian, Tondok Na Palan Tangnga’ 6 Kaparengesan”, yang bermakna sebuah kampung yang berada di tengah enam wilayah kepemangkuan adat atau Kaparengesan.
Kepercayaan itulah yang membuat Buntu Talinga bukan sekadar bukit biasa. Bagi masyarakat, tempat ini menjadi bagian dari identitas budaya yang terus dijaga meski hanya melalui cerita lisan.
Di Dusun Pa’tambenan, seorang warga lanjut usia, Melia, masih mengingat kisah yang diwariskan para orang tua terdahulu.
Menurutnya, Buntu Talinga dahulu dipercaya sebagai tempat para leluhur bertapa, sekaligus menjadi titik pengintaian pada masa penjajahan Belanda.
“Kami hanya mendengar cerita dari orang-orang dulu. Benar atau tidaknya tentu bisa ditelusuri lagi oleh pemerintah maupun para pemangku adat. Tapi kalau soal pemandangan dari atas Buntu Talinga, memang luar biasa indah dan tidak kalah menarik dibanding objek wisata lain di Toraja Utara,” tuturnya.
Melia mengisahkan, beberapa puluh tahun lalu Buntu Talinga masih menjadi tujuan warga, terutama kalangan muda yang gemar mendaki hingga ke puncak.
Dari atas bukit, hamparan pegunungan dan lembah Toraja terlihat begitu memesona.
Kini, jalur menuju puncak nyaris tak lagi dilalui. Semak belukar menutup akses, membuat kawasan tersebut perlahan terlupakan.
Padahal, menurut warga, potensi wisata alam yang dimiliki Buntu Talinga sangat besar jika mendapat penataan yang baik.
“Dulu orang sering naik ke atas. Sekarang sudah jarang karena jalannya tertutup semak. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, khususnya Dinas Pariwisata, agar tempat ini bisa direvitalisasi. Sayang sekali kalau potensi wisata seindah ini tidak dikembangkan, apalagi Toraja sudah dikenal sebagai destinasi wisata nasional hingga mancanegara,” harap Melia.
Buntu Talinga menjadi pengingat bahwa Toraja Utara tidak hanya kaya akan ritual adat dan budaya, tetapi juga memiliki bentang alam yang menyimpan cerita-cerita lama yang belum banyak tersentuh.
Di tengah sejuknya udara pegunungan, Buntu Talinga seolah mengajak setiap orang untuk tidak sekadar datang menikmati panorama, tetapi juga menyelami jejak sejarah, kearifan lokal, dan kisah leluhur yang masih hidup dalam ingatan masyarakat.
Mungkin suatu hari nanti, ketika jalur menuju puncaknya kembali dibuka, Buntu Talinga akan kembali menjadi salah satu permata wisata Toraja Utara yang bersinar di antara megahnya pegunungan Sulawesi Selatan. (*)





Tinggalkan Balasan