IMIP Jadi Motor Ekonomi Bahodopi, Ribuan UMKM Ikut Tumbuh
Survei menunjukkan sekitar 82,6 persen pekerja tinggal di rumah kos atau kontrakan dengan biaya rata-rata Rp 1,26 juta per bulan. Sementara 79,3 persen responden mengaku rutin mengeluarkan biaya transportasi yang turut menggerakkan sektor jasa lokal.
Menariknya, mayoritas pekerja lebih memilih berbelanja di warung atau kios milik warga setempat dibanding toko modern.
Sebanyak 57 persen responden menyebut faktor kedekatan lokasi, harga yang lebih terjangkau, dan hubungan sosial dengan penjual menjadi alasan utama.
Dengan dominasi tenaga kerja usia produktif dan tingkat konsumsi yang tinggi, kawasan IMIP diproyeksikan tetap menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang dinamis serta membuka ruang pertumbuhan yang inklusif bagi pelaku UMKM.
Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah menilai kondisi tersebut menjadi sinyal penting perlunya penguatan sektor ekonomi padat karya di sekitar kawasan industri padat modal.
“Langkah ini bertujuan membantu memperluas distribusi manfaat ekonomi dari aktivitas industri. Selain itu, dapat membantu menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat lokal,” tulis BI Sulteng dalam keterangan tertulisnya.
BI Sulteng memandang sektor perdagangan, jasa logistik, konstruksi, dan UMKM pendukung lainnya perlu terus diperkuat agar dampak ekonomi industri dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Dalam jangka panjang, diversifikasi ekonomi daerah juga dinilai penting agar perekonomian tidak terlalu bergantung pada satu sektor utama. Beberapa sektor potensial yang dinilai dapat dikembangkan antara lain pertanian, perikanan, pariwisata, serta industri pengolahan skala menengah.





Tinggalkan Balasan