Diskusi Konservasi Latimojong di Luwu, Yayasan Lestari Alam Serukan Pembentukan Taman Nasional
LUWU, TEKAPE.co – Yayasan Lestari Alam Kabupaten Luwu menyerukan pembentukan Taman Nasional Latimojong dalam kegiatan Diskusi dan Seruan Konservasi Pegunungan Latimojong yang digelar di Aula Bapelitbangda Kabupaten Luwu, Jumat (8/5/2026).
Seruan tersebut disampaikan sebagai upaya menjaga kelestarian Pegunungan Latimojong yang dinilai memiliki fungsi ekologis, hidrologis, dan keanekaragaman hayati yang sangat penting di Sulawesi Selatan.
Ketua Yayasan Lestari Alam Kabupaten Luwu, Ismail Ishak, mengatakan pembentukan Taman Nasional Latimojong menjadi langkah penting untuk melindungi ekosistem Pegunungan Latimojong yang kini mulai terancam akibat perburuan liar, perambahan hutan, hingga kerusakan habitat.
“Salah satu alasan mendesak dibentuknya Taman Nasional Latimojong adalah untuk melindungi satwa endemik seperti anoa yang populasinya terus menurun akibat perburuan liar dan kerusakan habitat,” ujar Ismail Ishak.
Menurutnya, Pegunungan Latimojong bukan hanya menjadi paru-paru alam dan sumber air bagi masyarakat, tetapi juga habitat berbagai flora dan fauna endemik Sulawesi.
Selain anoa, kawasan tersebut juga menjadi habitat tarsius, Julang Sulawesi, rusa, serta berbagai jenis burung dan tumbuhan khas pegunungan Sulawesi.
Dengan status taman nasional, pengawasan terhadap kawasan hutan dinilai dapat diperkuat sehingga aktivitas pembalakan liar, perambahan, dan perburuan satwa dapat ditekan.
Ismail Ishak juga menegaskan pentingnya menjaga fungsi hidrologi Pegunungan Latimojong sebagai ‘menara air’ bagi sejumlah daerah di Sulawesi Selatan.
Kawasan ini menjadi sumber sejumlah daerah aliran sungai (DAS) yang menopang kebutuhan air masyarakat dan sektor pertanian di Kabupaten Luwu, Sidrap, Wajo, hingga Pinrang.
Di sisi lain, status taman nasional dinilai dapat membuka peluang pengembangan ekowisata berbasis konservasi.
Pegunungan Latimojong diketahui sebagai salah satu tujuan pendakian nasional karena memiliki salah satu dari tujuh puncak tertinggi di Indonesia.
“Karena itu, pembentukan Taman Nasional Latimojong bukan hanya tentang menjaga hutan, tetapi juga upaya menyelamatkan satwa endemik, melindungi sumber kehidupan masyarakat, dan mewariskan kekayaan alam Sulawesi kepada generasi mendatang,” lanjut Ismail Ishak.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, aktivis lingkungan, dan instansi kehutanan.
Di antaranya Dr. Abdurahman Nur yang juga menjabat Presidium Dewan Kehutanan Nasional, Dr. Hadija Azis Karim dari Fakultas Kehutanan Universitas Andi Djemma (Unanda), Muh. Idham Aliem dari BKSDA Sulawesi Selatan, serta Kepala KPH Latimojong, Hasrul.
Diskusi dipandu langsung oleh Ketua Yayasan Lestari Alam Kabupaten Luwu, Ismail Ishak.
Peserta diskusi berasal dari berbagai unsur, mulai dari OPD lingkup Pemerintah Kabupaten Luwu, kelompok tani hutan pemegang izin perhutanan sosial, kepala desa sekitar kawasan hutan, komunitas pecinta alam, LSM, hingga insan media.





Tinggalkan Balasan