Tekape.co

Jendela Informasi Kita

OPINI: Pers Adalah Mata, Telinga, dan Jantung Demokrasi

Muallim Tampa. (ist)

Oleh: Muallim Tampa (MTP)
(Tokoh Masyarakat, Praktisi Hukum asal Bulukumba)

Memperingati Hari Pers Sedunia, 3 Mei 2026

Dunia hari ini bergerak dalam arus informasi yang nyaris tak terbendung. Di tengah kebisingan digital dan kepungan informasi palsu (hoax), keberadaan pers yang sehat bukan lagi sekadar pelengkap demokrasi, melainkan syarat mutlak bagi keberlangsungan sebuah bangsa yang beradab.

Pada peringatan Hari Pers Sedunia, 3 Mei 2026 ini, kita kembali diingatkan bahwa kebebasan pers adalah oksigen bagi keadilan. Bagi saya, pers memiliki peran trinitas yang tak terpisahkan: ia adalah Mata, Telinga, dan Jantung Demokrasi.

  1. Pers sebagai Mata: Menembus Tabir Kegelapan

Sebagai “Mata”, pers bertugas melihat apa yang luput dari pandangan publik. Pers yang berintegritas memiliki ketajaman untuk menyoroti sudut-sudut gelap kekuasaan, mengungkap ketidakadilan yang tersembunyi, dan memastikan bahwa transparansi bukan sekadar jargon politik. Tanpa mata pers yang awas, penyimpangan akan tumbuh subur dalam kegelapan.

  1. Pers sebagai Telinga: Menangkap Suara yang Terbungkam

Sebagai “Telinga”, pers adalah pendengar yang paling setia bagi rakyat. Pers harus mampu menangkap getaran keresahan di akar rumput, mendengar rintihan mereka yang terpinggirkan, dan menyambungkan lidah mereka ke telinga para pengambil kebijakan. Di sinilah pers berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan aspirasi dengan aksi.

  1. Pers sebagai Jantung: Memompa Kebenaran ke Seluruh Tubuh Bangsa

Inilah peran yang paling krusial. Sebagai “Jantung”, pers bertugas memompa informasi yang bersih, akurat, dan mencerdaskan ke seluruh aliran darah masyarakat.

Jika jantungnya sehat, maka dialektika publik akan sehat. Namun, jika jantung ini tercemar oleh kepentingan sempit atau disinformasi, maka seluruh tubuh demokrasi akan mengalami kelumpuhan moral.

Kita menyadari bahwa tantangan pers saat ini semakin kompleks. Independensi ekonomi media, keselamatan jurnalis, hingga gempuran algoritma kecerdasan buatan menjadi ujian nyata. Namun, saya percaya, selama pers tetap memegang teguh kode etik dan keberpihakan pada kebenaran, ia tidak akan pernah lekang oleh zaman.

“Pers yang bebas tidak menjamin segalanya akan baik-baik saja, namun tanpa pers yang bebas, tidak akan ada hal baik yang bisa dipertahankan.”

Demokrasi hanya akan tumbuh kuat jika ia memiliki napas yang panjang, dan napas itu ditiupkan oleh jurnalisme yang berani. Kita membutuhkan pers yang tidak hanya melaporkan fakta, tetapi juga mampu memberikan makna.

Selamat Hari Pers Sedunia, 3 Mei 2026. Terima kasih kepada seluruh insan pers yang tetap teguh berdiri di garis depan, menjadi garda penjaga akal sehat bangsa. Teruslah menyala, teruslah bersuara, demi Indonesia yang lebih transparan, adil, dan bermartabat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini