Tekape.co

Jendela Informasi Kita

AJI Makassar Soroti Ancaman Kebebasan Pers, Kasus Darwin Fatir Kembali Disinggung

Fajrini Langgeng saat menjadi narasumber dalam diskusi bertema Sensor dan Intimidasi: Ancaman Kebebasan Pers di Sulawesi Selatan yang digelar AJI Makassar di Sekretariat AJI Makassar, Sabtu (9/5/2026). (ist)

MAKASSAR, TEKAPE.co – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Makassar menggelar diskusi bertema “Sensor dan Intimidasi: Ancaman Kebebasan Pers di Sulawesi Selatan” dalam rangka memperingati World Press Freedom Day.

Forum tersebut menyoroti kembali kasus pengeroyokan jurnalis Darwin Fatir yang sempat mandek bertahun-tahun.

Kegiatan berlangsung di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Kota Makassar, Jalan Toddopuli, Makassar, Sabtu (9/5/2026).

BACA JUGA: Makassar Raih Paritrana Award 2025, Terbaik se-Indonesia di Bidang Ketenagakerjaan

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kompol Sahar, Direktur LBH Pers Makassar Fajrini Langgeng, akademisi Universitas Muslim Indonesia M Fachri Said, serta Darwin Fatir sebagai penyintas. Jalannya forum dipandu Sekretaris AJI Makassar, Chaerani Arief.

Dalam forum tersebut, Darwin menyampaikan pengalamannya saat menjadi korban pengeroyokan oleh oknum aparat ketika meliput aksi demonstrasi di Makassar pada 24 September 2019.

Kasus yang menimpa jurnalis LKBN Antara itu sempat tidak berjalan selama sekitar enam tahun sebelum kembali diproses tahun ini.

BACA JUGA: IMIP Jadi Motor Ekonomi Bahodopi, Ribuan UMKM Ikut Tumbuh

Perkara tersebut kembali mendapat perhatian setelah Pengadilan Negeri Makassar mengabulkan gugatan praperadilan pada Maret 2026.

Dalam putusannya, hakim meminta penyidik melanjutkan proses hukum yang sebelumnya terhenti.

Diketahui, kasus pengeroyokan itu sempat mengendap di Polda Sulawesi Selatan meski empat anggota polisi telah ditetapkan sebagai tersangka sejak 2020.

Tahun ini, penyidikan kembali dibuka untuk memberikan kepastian hukum kepada korban.

Akademisi UMI, M Fachri Said, dalam paparannya menyebut Indeks Kebebasan Pers (IKP) di Sulsel mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menilai profesi jurnalis memiliki tantangan besar di lapangan sebelum sebuah informasi dipublikasikan.

“IKP nasional juga turun, kalau saya tidak bisa menyalahkan polisi dan TNI, tapi mereka juga menjaga ketertiban. Jadi kadang kala berbenturan, pihak kepolisian juga menjaga ketertiban,” ujar Fachri.

Menurutnya, perlu ada ruang pembelajaran bersama antara aparat keamanan dan insan pers agar masing-masing pihak memahami tugas dan fungsi di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini