Tekape.co

Jendela Informasi Kita

OPINI: Hardiknas 2026: Pendidikan Bukan Sekadar Formalitas, Tapi Pembentuk Nalar Bangsa

Nur Iyut. (ist)

Oleh: Nur Iyut
Ketua Himpunan Mahasiswa Informatika (HMTI) UNCP

Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi ruang refleksi yang jujur tentang arah dan kualitas pendidikan Indonesia.

Di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, pendidikan nasional masih dihadapkan pada tantangan mendasar: bagaimana menjadikannya sebagai sarana pembentukan nalar, bukan sekadar pemenuhan formalitas administratif.

Selama ini, praktik pendidikan kerap terjebak pada orientasi capaian yang bersifat teknis dan prosedural. Ukuran keberhasilan sering kali direduksi menjadi angka-angka, kelulusan, atau indikator formal lainnya.

Padahal, esensi pendidikan jauh melampaui itu. Pendidikan seharusnya menjadi ruang yang hidup, tempat lahirnya daya pikir kritis, kesadaran sosial, dan kemampuan reflektif peserta didik dalam membaca realitas.

Di titik ini, penting untuk menegaskan kembali bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan. Ia adalah proses memanusiakan manusia.

Artinya, pendidikan harus mampu membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Nilai-nilai humanis menjadi fondasi yang tak terpisahkan dalam proses tersebut.

Lebih jauh, pendidikan perlu diarahkan untuk melahirkan nalar yang merdeka. Nalar yang tidak tunduk pada sekadar hafalan, tetapi mampu bertanya, mengkritik, dan mencari makna.

Dalam konteks masyarakat yang semakin kompleks, kemampuan berpikir kritis bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Tanpa itu, generasi muda berisiko menjadi pasif di tengah derasnya arus informasi dan perubahan.

Momentum Hardiknas 2026 seharusnya menjadi pengingat kolektif bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau infrastruktur, tetapi juga oleh keberanian untuk mereorientasi tujuan pendidikan itu sendiri.

Pendidikan yang inklusif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat harus menjadi prioritas bersama. Ini mencakup kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Tantangan ke depan menuntut sinergi semua pihak, pemerintah, pendidik, mahasiswa, hingga masyarakat luas, untuk memastikan bahwa pendidikan benar-benar menjadi alat pembebasan, bukan sekadar rutinitas. Pendidikan harus hadir sebagai kekuatan yang membentuk kesadaran, bukan hanya menghasilkan lulusan.

Dengan demikian, Hardiknas tidak hanya menjadi peringatan historis, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun sistem pendidikan yang lebih bermakna. Sebab pada akhirnya, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana pendidikan hari ini mampu membentuk nalar dan karakter generasinya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini