Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Smart-AR PAI UNCP Mulai Diuji di Sekolah, Bawa Pembelajaran Agama ke Era Digital

Uji lapangan Smart-AR PAI melibatkan guru dan peserta didik di SDN 45 Padang Alipan dan MAN Palopo, Kamis (20/8/2026), sebagai bagian dari tahapan hilirisasi inovasi media pembelajaran Pendidikan Agama Islam. (Dok: UNCP)

Dua instrumen digunakan dalam pengujian tersebut, yakni System Usability Scale (SUS) dan Single Ease Question (SEQ).

SUS digunakan untuk mengetahui tingkat kegunaan sistem secara umum. Adapun SEQ digunakan untuk mengukur persepsi pengguna terhadap tingkat kemudahan suatu tugas atau aktivitas setelah berinteraksi dengan aplikasi.

Pengujian tersebut diperlukan karena keberhasilan sebuah media pembelajaran berbasis teknologi tidak cukup hanya diukur dari berfungsinya fitur-fitur yang tersedia.

“Fungsi aplikasi perlu diikuti dengan kemudahan penggunaan. Guru dan peserta didik harus dapat memahami alur serta berinteraksi dengan sistem tanpa mengalami hambatan yang berarti,” demikian penjelasan dalam pengembangan Smart-AR PAI.

Respons Pengguna Positif

Hasil uji lapangan menunjukkan respons positif dari pengguna. Peserta didik dinilai mampu mengikuti tahapan penggunaan Smart-AR PAI dengan baik dan menunjukkan ketertarikan terhadap pengalaman belajar yang memanfaatkan teknologi AR.

Dari perspektif guru, Smart-AR PAI dinilai memiliki potensi sebagai media pendukung pembelajaran PAI yang lebih interaktif.

Teknologi tersebut tidak hanya memberikan alternatif dalam memvisualisasikan materi, tetapi juga membuka ruang bagi penerapan pembelajaran berbasis teknologi yang dapat mendorong keterlibatan peserta didik.

Sementara itu, hasil pengujian UI/UX menggunakan SUS dan SEQ menunjukkan bahwa aplikasi relatif mudah digunakan serta memberikan pengalaman penggunaan yang positif.

Pengguna dapat memahami alur aplikasi dan menjalankan fitur utama tanpa menemukan kendala berarti.

Hasil tersebut sekaligus memperkuat hasil validasi sebelumnya dari para ahli yang menyatakan Smart-AR PAI layak digunakan.

Dengan demikian, kelayakan produk tidak hanya didukung penilaian ahli, tetapi juga mulai mendapatkan konfirmasi dari pengalaman pengguna dalam lingkungan pembelajaran nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini