Wajah Senja Lapangan Bakti Rantepao: Antara Harapan UMKM dan Fasilitas yang Terlupa
SENJA perlahan turun di jantung ibukota Kabupaten Toraja Utara, Rantepao. Lampu-lampu mulai menyala, dan angin pegunungan membawa hawa sejuk yang semestinya mengundang orang-orang untuk singgah. Namun suasana di Lapangan Bakti sore hingga malam hari belakangan ini terasa berbeda, lebih lengang dari biasanya.
Laporan: Erlinuddin
*Jurnalis Tekape.co di Toraja
Di sudut lapangan, beberapa lapak UMKM masih setia berdiri. Aroma gorengan, kopi hangat, dan minuman manis tetap menguar, seolah menunggu pembeli yang tak kunjung ramai.
Padahal, tempat ini menyimpan potensi besar sebagai ruang publik sekaligus pusat ekonomi rakyat.
Ignasius, seorang pengunjung yang bekerja di sektor kuliner di Bali, menatap sekeliling dengan ekspresi setengah berharap.
Dia melihat Lapangan Bakti bukan sekadar ruang terbuka, tapi peluang yang belum digarap maksimal.
“Tempat ini sebenarnya sudah bagus, tapi belum ditata dengan baik. Harusnya bisa jadi tempat orang santai, apalagi ini daerah wisata,” ujarnya saat ditemui, Selasa (7/4/2026).
Bagi Ignasius, kenyamanan adalah kunci. Lantai yang belum rapi, drainase yang kurang memadai, hingga genangan air saat hujan menjadi catatan kecil yang berdampak besar.
Hal-hal sederhana itu, menurutnya, justru menentukan apakah orang akan betah berlama-lama atau memilih pulang lebih cepat.
Sementara itu, Mama Willy, salah satu pelaku UMKM, hanya bisa berharap malam segera berubah nasib. Dalam sepekan terakhir, dagangannya jauh dari kata laris.
“Iya pembeli sepi, satu minggu ini cuma dapat sekitar 350 ribu. Biasanya malam minggu ramai, tapi sekarang malah sunyi,” tuturnya lirih.
Ia mengaitkan kondisi ini bukan hanya pada cuaca, tapi juga pada kenyamanan tempat.
Ketika pengunjung enggan datang atau cepat pergi, otomatis roda ekonomi kecil seperti miliknya ikut tersendat.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah sisa-sisa kegiatan lama yang belum sepenuhnya dibersihkan.
Bekas bambu dan potongan kayu dari panggung konser beberapa waktu lalu masih terlihat berserakan di sekitar lapangan.
Bagi Annas, yang rutin berolahraga di area itu, kondisi tersebut bukan sekadar mengganggu estetika, tapi juga berbahaya.
“Masih ada kayu yang menancap. Kalau anak-anak main dan tidak lihat, bisa tertusuk. Ini harus segera dibersihkan,” tegasnya.
Lapangan Bakti sejatinya bukan hanya ruang terbuka, melainkan wajah kota yang pertama kali dilihat wisatawan saat datang ke Rantepao.
Di tempat inilah interaksi sosial, geliat ekonomi, dan citra daerah bertemu dalam satu ruang.
Ketika penataan dilakukan dengan serius, mulai dari perbaikan infrastruktur kecil, penataan lapak, hingga kebersihan, Lapangan Bakti bisa menjelma menjadi ruang hidup yang tak hanya indah dipandang, tapi juga menghidupkan ekonomi warga.
Untuk saat ini, Lapangan Bakti masih berdiri di antara dua sisi: potensi yang besar dan perhatian yang belum maksimal. Dan di antara keduanya, para pedagang kecil tetap bertahan, menunggu keramaian yang semoga segera kembali. (*)





Tinggalkan Balasan