Tak Menunggu APBD, Warga Pitung Penanian Patungan Rp280 Juta Perbaiki Jalan
RANTEBUA, TEKAPE.co – Ketika anggaran pemerintah belum mampu menjangkau seluruh kebutuhan infrastruktur, warga memilih tidak tinggal diam.
Puluhan warga Lembang Pitung Penanian, Kecamatan Rantebua, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, bahu-membahu mengecor jalan yang selama ini rusak parah, Selasa (25/8/2026) siang.
Bukan proyek dengan anggaran pemerintah yang menggerakkan pekerjaan tersebut. Jalan itu dibangun melalui Pa’ Misaran, dana swadaya yang dihimpun dari masyarakat Pitung Penanian, termasuk dukungan para perantau.
Dengan tenaga warga sendiri, rabat beton sepanjang 350 meter, lebar 3,60 meter dan ketebalan 15 sentimeter itu mulai dikerjakan. Total anggaran yang terkumpul mencapai Rp280 juta.
Bagi warga, pengecoran ini bukan sekadar membangun badan jalan. Ini adalah bentuk gotong royong untuk menjawab kebutuhan yang belum mampu ditutupi anggaran pemerintah.
Keterbatasan anggaran, termasuk efisiensi dana desa tahun ini, membuat pembangunan jalan di setiap dusun belum bisa dilakukan secara menyeluruh.
Kondisi itu membuat warga dan pemerintah setempat memilih mencari jalan keluar sendiri. Mereka menggalang Pa’ Misaran dari perantau maupun masyarakat yang masih berdomisili di kampung.
“Sekalipun belum tersentuh bantuan pemerintah kabupaten, kami warga berupaya memperbaiki jalan kami dengan swadaya masyarakat, tanpa berharap penuh dari bantuan pemerintah kabupaten,” ujar Luter, salah seorang warga.
Semangat swadaya itu sekaligus menjadi penanda bahwa persoalan infrastruktur di Pitung Penanian belum selesai.
Sejumlah titik jalan lainnya yang dinilai urgent dan rawan dilalui masih menunggu giliran untuk diperbaiki. Warga berencana melakukan pengerjaan secara bertahap, menyesuaikan kemampuan dana yang berhasil dihimpun.
Bagi warga, jalan bukan sekadar akses keluar-masuk kampung. Jalan menjadi urat nadi aktivitas sehari-hari—mengangkut hasil pertanian, mengantar anak sekolah, hingga menghubungkan masyarakat dengan pusat pelayanan.
Karena itu, ketika anggaran pemerintah belum mampu menjangkau seluruh titik, masyarakat memilih patungan dan bekerja bersama.
(Erlin)





Tinggalkan Balasan