oleh

Komitmen Merawat Alam, PT Vale Kokohkan Pondasi Hingga 2050

Perseroan juga melanjutkan program penggantian HSFO dengan batubara pada tanur pengering. Penggantian HSFO dimaksudkan untuk mendukung pencapaian target penurunan emisi SO2.

Dari hasil pemantauan dan pengukuran yang dilakukan selama tahun 2017, diketahui emisi rata-rata SO2 adalah 0,75 kg SO2/kg Ni, sehingga telah memenuhi ambang batas sebesar 0,86 SO2/kg Ni seperti diatur dalam Permen LH No. 4 Tahun 2014.

Nilai emisi rata-rata SO2 pada tahun 2017 lebih tinggi dibanding emisi rata-rata SO2 pada tahun 2016 sebesar 0,72 kg SO2/kg Ni. Sehingga hal ini membuat PT Vale memiliki capaian bahwa di tahun 2030 mendatang, PT Vale telah mengurangi emisi scope 1 dan 2 sebesar 33% dan emisi scope 3 sebesar 15% pada tahun 2035, dengan baseline penghitungan tahun 2017.

“Untuk merealisasikan hal tersebut, pada tahun 2020, kami memulai langkah strategis menerapkan Vale Power Shift yang berfokus pada penggunaan energi terbarukan dan bahan bakar alternatif, serta efisiensi dengan menggunakan teknologi baru. Inisiatif yang dilaksanakan akan memberikan kontribusi sekitar 40% dari pengurangan yang direncanakan,” terang Presiden Director PT Vale Indonesia, Febriany Eddy, belum lama ini.

Tidak hanya itu, untuk jangka panjangnya, PT Vale telah menyadari adanya perubahan iklim yang akan menjadi salah satu tantangan kedepan menjalan operasi penambangnya. Sehingga, PT Vale memiliki itikad menjadikan perusahaannya menjadi perusahaan dengan karbon netral pada tahun 2050.

“PT Vale telah mengadopsi target tersebut, dan untuk mewujudkannya, maka kita harus mencari sumber-sumber energi terbarukan untuk mengurangi 33% emisi GRK, dan mencapai 100% target kemandirian energi pada tahun 2030. Kita sudah memulainya dengan pengoperasian PLTA, electric boiler, biodiesel, dan mobile screening station. Pencarian kita terhadap sumber energi bersih akan terus berlanjut sebagai bagian dari komitmen melestarikan bumi sekaligus menerapkan continuous improvement,” ujar Febriany Eddy.

Pada kesempatan visit media ke PT Vale tahun 2019 itu, kami juga diperlihatkan system kerja Boiler listrik yang berbasis energy terbarukan, hal ini tentu menjadikan PT Vale sebagai perusahan pertama di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi terkini. Disisi lain, menjadi perusahan yang komitmen dan konsisten dalam menerapkan antisipasi pencemaran lingkungan.

“Boiler baru ini mendapat suplai listrik dari PLTA kami. Sehingga bisa dikatakan nol emisi. Sedangkan pada model sebelumnya menggunakan bahan bakar HSFO (high sulfur fuel oil),” ujar Senior Manager Communications PT Vale, Bayu Aji, saat mengajak wartawan melihat langsung proses pengolahan nikel di Sorowako, 2019 lalu.

Boiler Elcetric ini merupakan salah satu alat penting dalam produksi nikel PT Vale. Sebab, uap yang dihasilkan alat ini berguna untuk proses atomisasi di burner rotary dryer dan reduction kiln, memanaskan sulfur yang digunakan pada proses reduction kiln dan berfungsi untuk memanaskan pipa bahan bakar.

Selain ramah lingkungan, kinerja boiler ini juga lebih efisien dan efektif. Mampu memproduksi uap dalam tempo hanya 10 menit dari kondisi warm. Sedangkan boiler model sebelumnya perlu beberapa jam.

Di sisi lain, biaya operasional boiler baru ini lebih ekonomis 33 kali dibanding model sebelumnya atau dapat menghemat sekitar 5 juta dollar AS per tahun. Sedangkan kapasitas produksi uap boiler ini sebesar 31 ton per jam. Tapi untuk kebutuhan saat ini hanya di set 14 ton per jam dengan power yang dibutuhkan sebesar 8 megawatt.

Penggunaan Boiler listrik ini yang merupakan produksi dari Amerika Serikat telah mendapat izin dari pemerintah Indonesia melalui Disnakertrans Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam kesempatan yang sama, Manager Boiler Electric, Zainuddin menjelaskan proses kerja dari mesin Uap tersebut.

Zainuddin menjelaskan bahwa mesin uap atau boiler electric ini tidak menggunakan elemen apapun untuk menciptakan uap.

“Jadi banyak jenis boiler (ketel) atau mesin uap yang dipakai oleh perusahan, kalau boiler yang menggunakan bahan bakar seperti batu bara, selain akan berdampak pada masalah lingkungan juga akan mengalami peladakan ketika air dalam pipa habis,” jelasnya.

Begitu pula boiler yang menggunakan elemen listrik, lanjut dia, ketika kekurangan air, listriknya pun juga tetap mengalir.

“Sedangkan yang kami pakai merupakan Boiler yang tidak menggunakan elemen apapun, ketika kekurangan air, maka boiler tidak akan menyalakan listrik dan menghasilkan uap,” jelasnya.

Pengoperasian Boiler Electric ini telah mendapat apresiasi dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Selatan.

“Kami dari disnakertrans, sangat mengapresiasi dari PT Vale Indonesia, Tbk. Karena telah melakukan perubahan dan terobosan baru bagi dunia pertambangan khususnya di wilayah Indonesia,” ungkap perwakilan Disnakertrans Sulsel, Sudirman Musry.

Merehabilitasi Lahan Menjaga Biodersivitas

Dalam menjaga stabilitas lingkungan terhadap aktivitas tambang serta pascatambang, PT Vale berkomitmen untuk melaksanakan reklamasi yang merupakan bagian dari Rencana Pascatambang (RPT) sesuai Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2010 Tentang Reklamasi dan Pascatambang.

Kesungguhan PT Vale melaksanakan rehabilitasi lahan ini, diketahui telah dimulai sejak pembukaan lahan. PT Vale telah menerapkan kebijakan menjaga total luasan lahan tambang terbuka dibawah 1.450 ha.

Komentar

Berita Terkait