Sejumlah Babi Mati Mendadak, Wabah Dugaan ASF Kembali Hantui Peternak di Toraja Utara
RANTEPAO, TEKAPE.co – Sejumlah warga di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, kembali diresahkan dengan kematian mendadak hewan ternak babi mereka sepanjang Januari hingga April 2026.
Kejadian ini memicu kekhawatiran peternak terhadap kemungkinan merebaknya kembali virus African Swine Fever (ASF) atau flu babi Afrika, penyakit mematikan yang sebelumnya juga sempat menyerang wilayah tersebut.
Beberapa peternak menduga kematian ternak dipicu oleh dua faktor, yakni kualitas pakan berupa dedak (awang) yang diduga tidak murni, hingga kemungkinan kuat akibat paparan virus ASF.
BACA JUGA: DPRD Bulukumba Sidak Sistem Kelistrikan RSUD Andi Sulthan, Soroti Gangguan Listrik
Warga pun menilai Dinas Pertanian Kabupaten Toraja Utara, khususnya Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (BPKH), perlu lebih proaktif dalam merespons keluhan yang berkembang di tengah masyarakat.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pertanian Toraja Utara melalui dokter hewan BPKH, drh Silta, membenarkan adanya peningkatan laporan kematian ternak babi dalam beberapa waktu terakhir.
“Memang ada beberapa peternak yang melapor babinya mati karena sakit. Setiap laporan yang masuk, kami langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan,” ujar drh Silta, saat ditemui, Rabu (29/4/2026).
Dia menjelaskan, kematian mendadak ternak sangat kuat berkaitan dengan dugaan virus ASF yang hingga kini belum memiliki vaksin.
“Virus ASF ini memang belum ada vaksinnya dan kondisi di Toraja Utara saat ini belum sepenuhnya stabil. Tren kasus juga menunjukkan peningkatan, bahkan dalam minggu ini diperkirakan mencapai 75 persen,” jelasnya.
Peternak Diimbau Lapor Pemerintah Jika Ada Ternak Baru Masuk atau Sakit
Menurutnya, salah satu kendala di lapangan adalah masih banyak peternak yang tidak melaporkan secara dini ketika ternaknya mulai sakit.
“Seringkali peternak mencoba menangani sendiri berdasarkan informasi dari internet. Padahal, penanganan yang tidak tepat justru memperparah kondisi ternak,” tambahnya.
Dia mengimbau masyarakat agar segera berkoordinasi dengan pihak dinas, terutama saat membeli ternak baru, guna mendapatkan edukasi terkait penanganan dan pencegahan penyakit.
“Kalau ada ternak baru, sebaiknya kami dilibatkan untuk memberikan pendampingan. Ini penting untuk mencegah penularan,” tegasnya.
Sementara itu, seorang warga Kelurahan Buangin, Kecamatan Rantebua, Marten Parinding, mengaku kehilangan empat ekor babinya secara mendadak pada pertengahan April lalu.
“Empat ekor babi saya mati tiba-tiba. Saya langsung gali lubang untuk dikubur karena khawatir menyebar. Dugaan saya ini penyakit ASF,” ungkapnya.
Ia memastikan bahwa faktor pakan bukan penyebab utama kematian ternaknya, melainkan lebih mengarah pada serangan penyakit.
Ada Dedak Diduga Dioplos Sebabkan Ternak Sakit
Di sisi lain, seorang peternak Arlin mengungkapkan kekhawatirannya terkait kualitas pakan ternak yang beredar di pasaran.
Ia menduga dedak yang dibelinya tidak murni, melainkan campuran berbahan ampas kayu.





Tinggalkan Balasan