Diskusi Konservasi Latimojong di Luwu, Yayasan Lestari Alam Serukan Pembentukan Taman Nasional
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Bapelitbangda Kabupaten Luwu, Muh. Arsal, yang mewakili Bupati Luwu.
Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya menjaga kawasan Pegunungan Latimojong sebagai kawasan strategis penyangga kehidupan masyarakat.
Diskusi berlangsung hingga menjelang magrib dan diakhiri dengan konferensi pers. Dalam forum tersebut, peserta sepakat mendukung pengusulan Pegunungan Latimojong menjadi taman nasional.
“Latimojong harus dikonservasi karena fungsi-fungsinya. Pertama, untuk mencegah agar tidak menjadi sumber bencana. Kalau tidak dikonservasi, Latimojong akan menjadi sumber ancaman serius seperti yang sudah terjadi dua tahun lalu,” ungkap salah satu pernyataan dalam forum.
Berdasarkan pemaparan BBKSDA Sulawesi Selatan, kawasan hutan Pegunungan Latimojong mengalami deforestasi sekitar 16 ribu hektare selama periode 2010 hingga 2024.
Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi 25 ribu hektare pada 2035 jika tidak ada langkah pengendalian serius.
Selain itu, Pegunungan Latimojong juga disebut memiliki fungsi hidrologi penting karena menopang sekitar 41 persen produksi padi Sulawesi Selatan.
Kawasan tersebut dialiri sembilan DAS yang mengalir ke Kabupaten Luwu, Sidrap, Wajo, dan Pinrang sebagai daerah produsen padi utama di Sulawesi Selatan.
Pegunungan Latimojong juga tercatat memiliki sekitar 407 spesies satwa dan tumbuhan, dengan sekitar 60 persen di antaranya merupakan spesies endemik Sulawesi, termasuk Julang Sulawesi, rusa, tarsius, dan dua jenis anoa. (*)





Tinggalkan Balasan