oleh

Hadis Huru-hara Jumat 15 Ramadan yang Menakutkan

Oleh: Dr Abbas Langaji
(Donsen IAIN Palopo)

KOLOM RAMADHAN – Di tengah upaya bersama melakukan pemutusan mata rantai penyebaran covid-19, dalam beberpa waktu terakhir beredar viral video tentang huru-hara yang akan terjadi pada Jumat subuh, 15 Ramadhan.

Di antara video itu naratornya seorang yang berjubah dengan latar belakang kitab-kitab berbahasa Arab yang tertata rapi di rak, ada juga video dengan ilustrasi ledakan dahsyat, sehingga terkesan peristiwa yang begitu menakutkan.

Cerdiknya, ada yang mengaitkan video tersebut dengan penyebaran covid-19, tapi video-vidio tersebut marak, tampak sudah ditonton puluhan ribu hingga ratusan ribu kali. Belum lagi yang dishare dari gadget ke gadget melalui berbagai flatform.

Saya tidak begitu mengenal latar belakang keilmuan para penyusun narasi dan pembuat video tersebut, hingga saya bertanya, apakah naratornya memiliki otoritas menjelaskannya?.

Beberapa hari terakhir, beberapa mahasiswa saya, dari jenjang sarjana dan pascasarjana bertanya tentang hadis huru-hara di subuh hari Jumat 15 Ramadhan. Saya arahkan mereka agar menyimak penjelasan ulama yang sudah ada.

Penjelasan mereka sudah lebih dari cukup. Kalau saya jelaskan lagi, penjelasan saya tidak lebih baik dari mereka, boleh jadi apa yang akan saya jelaskan toh pengulangan, karena rujukannya kurang lebih sama!.
Bagaimana sesungguhnya “hadist” tersebut?.

Berikut saya kutipkan terjemahan teksnya (dalam kitab al-Fitan), Nu’aim bin Hammad berkata, Abu ‘Umar telah menceritakan kepada (riwayat) dari Ibnu Luhai’ah, (dengan mengatakan) Abdul Wahhab bin Husain telah menceritakan kepadaku (riwayat) dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani (meneruskan riwayat) dari ayahnya, (riwayat itu) dari Al-Harits Al-Hamdani, (riwayat itu) dari Ibnu Mas’ud ra, (riwayat) dari Nabi SAW.

Beliau bersabda, Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan di bulan Zul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Zul Hijjah dan Muharram.

Para sahabat bertanya, suara apakah, wahai Rasulullah?. Beliau menjawab, suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa.

Jika kalian telah melaksanakan shalat subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian.

Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah, Subhâna al-Quddûs, Subhâna al-Quddûs, Rabbanâ al-Quddûs).

Barang siapa yang melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan binasa.

Teks hadist tersebut tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadist mu’tabar. Ulama yang sudah meneliti hadist menunjukkan sumbernya yaitu kitab al-Fitan karya Nu’aym bin Hammad, Nomor 638 dan kitab Kanzul ‘Ummal karya al-Hindi, Nomor 39627.

Sejumlah ulama besar memberikan penilaian terhadap hadist tersebut, antara lain, Al-Uqaily rahimahullah dalam al-Dhu’afa al-Kabir III 52, mengatakan, hadist ini tidak memiliki dasar dari hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang siqah (terpercaya), atau dari jalan yang sabit (kuat dan benar adanya).

Ibn Jawzi dalam al-Mawdhu’aat, secara tegas nyatakan bahwa hadist tersebut palsu. Nashir al-Din al-Albani dalam Silsilah al-Ahadis al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah no.6178, 6179 menyatakan bahwa hadist ini palsu (maudhu’).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, mantan mufti Arab Saudi, dalam Majmu’ Fatawa Bin Baz XXVI/339-34,1 menyakan bahwa hadist ini tidak mempunyai dasar yang benar, bahkan ini adalah hadis yang batil dan dusta.

Singkat kata, ulama sejak zaman baheula hingga sekarang sudah menyatakan hadist tersebut tidak shahih dari Nabi SAW, riwayat tersebut munkar dan palsu yang didustakan atas nama Nabi SAW.

Ketika sejak ratusan tahun yang lalu ulama sudah menegaskan kepalsuan berita tersebut, ada apa segelintir orang menyusun narasi dan membuat video-vidio, kemudian mem-viral-kannya?.

Apakah pembuat (penyebar) video-vidio tersebut hanya sekedar memburu target jumlah subscriber dan likers?.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa fenomena kegemaran berceramah dengan tema-tema futuristik yang (ternyata) berdasarkan hadist dhaif dan mawdhu berlangsung luas.

Kemudian ada kecenderungan sebagian masyarakat muslim Indonesia menyukai ceramah-ceramah bertema futuristik tersebut.

Hal tersebut tentu saja membuat sebagian masyarakat resah, sehingga beribadah dalam ketakutan, bukan beribadah karena kesadaran nuraninya sebagai hamba Tuhan.

Islam (yang antara berarti damai), selalu mengajarkan pemeluknya agar menciptakan ketenangan, mewujudkan kedamaian dalam masyarakat, bukan justru menyebarkan berita yang membuat sesama manusia justru berada dalam ketakutan.

Ramadhan bulan ibadah, seharusnya digunakan beribadah dalam khusyu.
Beribadah dalam suasana tenang-damai akan lebih baik daripada beribadah dalam ketakutan.

Kesadaran penghambaan kepada Tuhan yang menjadi motif beribadah kepadanya lebih baik, daripada beribadah kepadanya karena takut seakan mengalami kematian (kiamat) dan menghadapi siksa nerakaNya.

Oleh karenanya Nabi SAW pernah bersabda,  “basysyiruu wa laa tunaffiruu,” yang artinya gembirakanlah dan janganlah menakut-nakuti.

Islam itu damai! (*/Is)

Komentar

Berita Terkait