Dari Bulukumba ke Dunia: Andi Reski Membawa Akar Keberlanjutan ke Panggung Global
BULUKUMBA, TEKAPE.co – Di tengah riuh perbincangan global tentang keberlanjutan, Andi Reski Anggraini memilih kembali ke akar.
Bukan sekadar konsep, melainkan praktik hidup yang telah dijalankan turun-temurun di kampung halamannya, Kabupaten Bulukumba.
Ia menyampaikan itu dalam YSEALI Fellows Forum, penutup rangkaian Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Professional Fellows Program Spring 2026.
Dalam forum tersebut, Reski tidak hanya memaparkan gagasan, tetapi juga pengalaman yang ia sebut telah teruji.
“YSEALI Fellows Forum menjadi ruang refleksi sekaligus langkah awal untuk kolaborasi yang lebih luas. Saya percaya bahwa kepemimpinan adalah tentang bagaimana kita membawa pulang manfaat dan menciptakan dampak bagi komunitas,” ujar Reski.
Forum itu mempertemukan para fellows untuk mempresentasikan rencana tindak lanjut yang berfokus pada isu-isu strategis kawasan.
Reski memanfaatkan momentum tersebut untuk menjajaki peluang kerja sama Indonesia–Amerika Serikat, terutama dalam penguatan industri kopi berkelanjutan dan kewirausahaan sosial.
Di hadapan peserta, ia mengajukan satu tesis sederhana: dunia tidak kekurangan konsep keberlanjutan, tetapi sering kehilangan pijakan. “Akar itu ada di Bulukumba,” katanya.
Ia merujuk pada praktik hidup Masyarakat Adat Kajang yang mengedepankan keseimbangan dengan alam.
Filosofi “kamase-masea” hidup secukupnya dan menahan diri dari eksploitasi berlebihan menurut Reski, bukan sekadar nilai budaya, melainkan sistem keberlanjutan yang konkret.
Apa yang kini dikenal sebagai rantai pasok berkelanjutan, konservasi hutan, hingga produksi etis, telah lama dijalankan masyarakat Kajang, jauh sebelum istilah-istilah itu menjadi arus utama dalam diskursus global.
Narasi ini pula yang menjadi dasar berdirinya Ondeway Sinergi Indonesia, perusahaan sosial yang ia dirikan bersama pasangannya, Andi Awal Irsyad, yang akrab disapa Boim.
Melalui Ondeway, keduanya membangun ekosistem kopi berbasis dampak yang menghubungkan petani, pasar dan komunitas, sekaligus membuka ruang bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas.
Namun, kata Reski, Ondeway tidak berhenti pada produk. “Ondeway membangun ulang cara pandang,” ujarnya.
Selama menjalani penempatan di Westrock Coffee Company di Little Rock, Arkansas, ia mempelajari cara kerja industri kopi global dalam skala besar, dari efisiensi rantai pasok hingga standar kualitas internasional.
Di sana, ia melihat kekuatan sekaligus keterbatasan sistem global.
Menurut dia, sistem tersebut kuat secara struktur, tetapi sering kali lemah dalam memahami konteks lokal, terutama realitas petani di tingkat akar rumput.
“Keberlanjutan tidak bisa hanya dibangun dari atas. Ia harus tumbuh dari bawah, dari komunitas yang hidup langsung dengan alam,” kata Reski.
Melalui forum YSEALI, ia menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam sistem global.
Visi yang ia dorong adalah industri kopi yang tidak semata berbicara tentang kualitas dan keuntungan, tetapi juga distribusi nilai yang adil, pelestarian lingkungan, dan inklusi sosial.
Dalam kerangka itu, petani ditempatkan sebagai pusat ekosistem, bukan lagi titik paling lemah dalam rantai pasok.
Komunitas adat diakui sebagai penjaga pengetahuan, sementara kelompok rentan tidak sekadar dilibatkan, tetapi diberdayakan.
Dari Bulukumba hingga Washington, D.C., pesan yang dibawa Reski terbilang lugas, masa depan industri global tidak hanya ditentukan oleh inovasi, tetapi juga oleh kemampuan untuk belajar kembali dari akar. Melalui Ondeway, ia berupaya menjembatani keduanya.
Ondeway Sinergi Indonesia sendiri merupakan perusahaan sosial berbasis kopi yang berfokus pada pemberdayaan petani, peningkatan kualitas produk, dan inklusi sosial.
Berbasis di Bulukumba, Sulawesi Selatan, Ondeway mengembangkan ekosistem kopi berkelanjutan yang menghubungkan nilai lokal dengan standar global.(*)






Tinggalkan Balasan