Bos APLSI Ungkap RI Masih Impor 1 Juta Barel Minyak per Hari
“Tantangannya bukan lagi apakah kita punya potensi, tetapi apakah kita mampu mengubah potensi tersebut menjadi teknologi, inovasi, dan industri yang memberi kesejahteraan bagi bangsa,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Eka juga memaparkan empat tren utama dalam transformasi energi global, yakni decarbonization, digitalization, decentralization, dan electrification.
Ia menilai transformasi energi tidak cukup hanya mengganti energi fosil dengan energi terbarukan.
Indonesia, kata dia, perlu membangun sistem energi yang lebih pintar, efisien, bersih, andal, sekaligus terjangkau.
“Transformasi energi harus mencari titik optimum antara affordability, sustainability, dan reliability,” ucapnya.
Eka menambahkan, gas bumi dan batu bara masih akan dibutuhkan selama masa transisi energi berlangsung. Namun penggunaannya perlu dikombinasikan dengan teknologi penangkapan karbon atau carbon capture storage (CCS).
Di sisi lain, digitalisasi disebut akan menjadi penggerak utama sistem energi masa depan.
Pemanfaatan smart meter, artificial intelligence (AI), drone inspection, predictive maintenance, hingga digital twin diyakini mampu meningkatkan efisiensi dan keandalan sektor energi.
Karena itu, ia mendorong lahirnya engineer yang tidak hanya memahami mesin dan pembangkit listrik, tetapi juga menguasai teknologi digital seperti AI, perangkat lunak, hingga keamanan siber.
“Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan tetap manusianya. Saya percaya generasi kalian akan menjadi bagian dari perubahan tersebut,” kata Eka di hadapan para wisudawan.






Tinggalkan Balasan