Bos APLSI Ungkap RI Masih Impor 1 Juta Barel Minyak per Hari
JAKARTA, TEKAPE.co – Ketua Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Eka Satria menyoroti pentingnya peran engineer dalam menghadapi era digitalisasi dan transisi energi di Indonesia.
Hal itu disampaikannya saat memberikan orasi ilmiah pada Wisuda ke-48 Institut Teknologi PLN di Sasana Kriya TMII, Jakarta Timur, Kamis (21/5/2026).
Dalam pemaparannya, Eka menyebut kebutuhan energi global terus meningkat seiring pertumbuhan industri, transportasi, hingga perkembangan teknologi digital.
Namun di sisi lain, Indonesia masih menghadapi persoalan tingginya ketergantungan terhadap impor energi fosil, terutama minyak dan gas.
“Indonesia saat ini masih mengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari dan LPG sekitar 6-7 juta ton per tahun,” kata Eka.
CEO Medco Power Indonesia itu menjelaskan, kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gejolak global.
Ketika harga energi dunia naik atau pasokan terganggu, dampaknya langsung dirasakan oleh sektor industri hingga masyarakat luas.
“Ketika energi terganggu dan harga minyak naik, industri, ekonomi, biaya hidup, dan kehidupan masyarakat ikut terdampak,” ujarnya.
Menurut Eka, posisi Indonesia kini telah berubah menjadi negara net importer energy dengan tingkat impor yang cukup besar.
Meski demikian, ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam energi bersih dunia.
Ia mengungkapkan, Indonesia mempunyai potensi energi baru terbarukan (EBT) lebih dari 3.600 gigawatt (GW), jauh melampaui kebutuhan listrik nasional saat ini yang berada di kisaran 100 GW.
Potensi tersebut terdiri atas energi surya sekitar 3.300 GW, angin 155 GW, hidro 95 GW, bioenergi 57 GW, hingga panas bumi sebesar 24 GW yang disebut sebagai salah satu terbesar di dunia.
“Indonesia memiliki hampir seluruh potensi untuk menjadi pemain energi bersih dunia di masa depan,” ujarnya.
Meski memiliki sumber daya melimpah, Eka menilai tantangan terbesar terletak pada kemampuan mengubah potensi tersebut menjadi teknologi dan industri yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Tantangannya bukan lagi apakah kita punya potensi, tetapi apakah kita mampu mengubah potensi tersebut menjadi teknologi, inovasi, dan industri yang memberi kesejahteraan bagi bangsa,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Eka juga memaparkan empat tren utama dalam transformasi energi global, yakni decarbonization, digitalization, decentralization, dan electrification.
Ia menilai transformasi energi tidak cukup hanya mengganti energi fosil dengan energi terbarukan.
Indonesia, kata dia, perlu membangun sistem energi yang lebih pintar, efisien, bersih, andal, sekaligus terjangkau.
“Transformasi energi harus mencari titik optimum antara affordability, sustainability, dan reliability,” ucapnya.
Eka menambahkan, gas bumi dan batu bara masih akan dibutuhkan selama masa transisi energi berlangsung. Namun penggunaannya perlu dikombinasikan dengan teknologi penangkapan karbon atau carbon capture storage (CCS).
Di sisi lain, digitalisasi disebut akan menjadi penggerak utama sistem energi masa depan.
Pemanfaatan smart meter, artificial intelligence (AI), drone inspection, predictive maintenance, hingga digital twin diyakini mampu meningkatkan efisiensi dan keandalan sektor energi.
Karena itu, ia mendorong lahirnya engineer yang tidak hanya memahami mesin dan pembangkit listrik, tetapi juga menguasai teknologi digital seperti AI, perangkat lunak, hingga keamanan siber.
“Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan tetap manusianya. Saya percaya generasi kalian akan menjadi bagian dari perubahan tersebut,” kata Eka di hadapan para wisudawan.
Eka yang merupakan lulusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung itu mengawali kariernya sebagai structural engineer di perusahaan migas asal Amerika Serikat, ARCO, di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Menurut dia, tantangan seorang engineer bukan sekadar menguasai kemampuan teknis, melainkan juga mampu bekerja sama dalam tim, mengambil keputusan, dan menjaga integritas.
“Engineer bukan hanya membangun mesin atau pembangkit, tetapi juga membangun kepercayaan dan masa depan, karena masa depan energi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam yang kita miliki, tetapi juga oleh kualitas dan inovasi manusia yang mengelolanya,” tandasnya. (*)






Tinggalkan Balasan