oleh

Bersama Dinas Pertanian, Petani Muda Luwu Belajar Langsung di Lokasi Pengolahan Kopi Kintamani Bali

LUWU, TEKAPE.co – Menindaklanjuti pertemuan dengan pihak Dinas Pertanian Provinsi Bali, Kadis Pertanian Kabupaten Luwu, Albaruddin Andi Picunang, Anggota DPRD Luwu Ridwan Bakokang, dan Sejumlah Petani Muda Luwu, melakukan kunjungan langsung ke pusat pengolahan Kopi Kintamani, di Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Provinsi Bali.

Kedatangan Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, Dewan Luwu, berserta Petani Muda Luwu disambut langsung oleh Pihak Dinas Pertanian Provinsi Bali, dan Ketua Kelompok Tani Kopi Kintamani, Gusti Mangku Rupa.

Kedatangan Dinas Pertanian beserta petani muda Luwu ini untuk belajar tentang pengolahan pascapanen Kopi. Dipilihnya tempat tersebut agar para petani bisa mencari informasi lebih banyak tentang teknik budidaya tanaman kopi, mulai dari awal tanam hingga hingga masa panen dan proses pengolahan pasca panennya sampai tahap pemasaran.

Dalam Kujungan tersebut dijelaskan oleh I Gusti Mangku Rupa selaku pelaku pertanian, mengatakan bahwa biji kopi Arabika ditanam pada ketinggian di atas 900 mdpl di dataran tinggi Kintamani. Kopi Kintamani 100 persen Arabika yang dikembangkan dengan sistem Subak Abian, kopi ini diolah secara organik, dengan aroma kopi rempah-rempah, dan beraroma Citrus.

Untuk proses pemeliharaan tanaman kopi dari proses penanaman  hingga menghasilakan, di sampaikan bahwa dalam pengolahan biji kopi semua elemen tidak ada yang terbuang mulai dari biji, lendir, kulit kopi dan daun kopi.  

Lendir dan kulit kopi yang dapat dimanfatakan menjadi pupuk organik untuk pupuk tanaman itu sendiri. Daun kopi yang dipisahakan dari tangakinya diolah menjadi teh kopi, sehingga semua elemen dari tanaman kopi dapat dimanfaatkan.

“Alur produksi kopi green bean (Fullwash) kopi arabika Kintamani yang perlu diperhatikan ialah salah satunya adalah pada proses panen. Menggunakan pengolahan secara basah dimulai dengan melakukan pemetikan yang benar, yaitu secara manual dengan menggunakan tangan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan kualitas buah kopi yang berwarna merah sekitar 95 persen, buah kopi yang berwarna merupakan kualitas biji yang terbaik bagi kopi Kintamani,” ujarnya.

Sambung, Gusti Mangku, mengatakan buah kopi yang sudah dipetik kemudian dilakukan perendaman dengan menggunakan air bersih, selanjutnya dilakukan fullper atau pengelupasan kulit merah untuk fermentasinya dilakukan selama 12, 24, atau 35 jam, kemudian dilanjutkan dengan washer atau pembersihan lendir.

“Kemudian dilakukan penjemuran dengan menggunakan para-para hal itu dilakukan karena kopi ini menyerap aroma yang terbawa udara sehingga akan mempengaruhi rasa kopi tersebut, menurutnya kalau dijemur langsung dari bawah tanah maka aromanya juga akan berbau tanah, setelah itu kita lakukan Huller atau pengelupasan kulit tanduk. Sementara untuk alur produksi kopi bubuk Kintamani, setelah kita mendapatkan Kopi Green Bean dengan kadar air 12 persen, selanjutnya dilakukan roasting, dimana citarasa tersebut sangat dipengaruhi oleh profil roasting dengan level Light, Medium, dan Dark, kemudian dilanjutkan dengan packing, dan pemasaran,” jelasnya.

Lanjutnya, Gusti, menyampaikan dalam tahap pemasaran pertama yang menjadi bagian penting yakni Petani sebagai pemasok bahan baku kopi, Pemerintah yang ikut membantu dalam pemasaran, Perbankan sebagai permodalan dan iklan, BUMN/BUMD, para Akademisi, dan tentunya dengan bantuan Media Sosial. Selain itu, yang menjadi nilai tambah di lokasi kopi Kintamani juga di gagas Agrowisata Kopi.

“Juga yang terpenting dari pengolahan kopi adalah mutu. Kami di Bali memiliki kualitas kopi yang baik tetapi tentunya di Sulawesi juga memiliki kopi dengan kualitas yang baik,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Luwu, Albaruddin Andi Picunang, mengharapkan agar para petani muda khususnya komoditi Kopi ini bisa memaksimalkan kunjungan ini dan bisa menerapkan inovasi ini di Kabupaten Luwu.

“Kita berharap agar kunjungan ini bisa dimaksimalkan sehingga apa yang didapatkan bisa diterapkan di Kabupaten Luwu, mengingat bahwa Kabupaten Luwu juga memiliki Tanaman kopi di Wilayah Kecamatan Suli Barat, Bastem, Bastem Utara, Latimojong, dan Walenrang Barat, kopi yang banyak ditanam petani ialah varietas kopi Arabika dibanding varietas Robusta. Untuk luas areal tanaman kopi di 5 kecamatan Kabupaten Luwu, yakni untuk tanaman kopi varietas arabika seluas 4.162,50 Ha, sementara varietas Robusta 791,50 Ha, sementara produksi kopi untuk varietas arabika pertahunnya mencapai 1.963.000 Kg, sedangkan untuk produksi varietas Robusta pertahun 450.000 kg, kopi di kabupaten Luwu juga memiliki citarasa dan aroma yang bisa bersaing dengan daerah lain,” jelasnya.

Dalam kunjungan ke lokasi Pengolahan Kopi Kintamani Bali, Anggota DPRD Luwu, Ridwan Bakokang, mengatakan bahwa para petani Kopi di Bali memiliki wawasan yang baik dalam pengolahan kopi, baik dari budidaya kopi sampai pada pengolahan dan pemasaran.

“Para Petani Kopi Kintamani Bali memang memiliki wawasan yang baik dalam pengolahan Kopi, dalam penanaman kopi mereka memiliki bibit yang unggul, selain itu, dalam proses pemetikan kopi juga dilakukan dengan manual atau menggunakan tangan, hal tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan kualitas buah kopi yang berwarna merah, sementara petani kopi kita dalam pemetikan buah kopi itu masih di campur buah kopi mentah dan masak, selain itu mereka juga unggul pada alat pendukung produksi mereka mampu mengelola sendiri hasil kopi mereka sampai pada tahap pemasaran, dalam persoalan pemasaran Pemerintah Provinsi Bali membuat kebijakan satu pintu dalam memasarkan kopi Kintamani bali. Harapan kita kedepan Petani Kopi di Luwu dalam proses penanaman kopi, Pengolahan Kopi Pasca panen, sampai pada pemasaran harus melibatkan pendamping dan penyuluh baik dari Pemerintah, dan akademisi, untuk turun ke lapangan, serta yang terpenting alat-alat produksi pengolahan kopi, serta pemerintah juga harus hadir sebagai fasilitator dalam pemasaran. Potensi keunggulan kita di Luwu pertama kita memiliki keunggulan luas lahan, minat masyarakat untuk menanam kopi cukup tinggi,” jelasnya.

Disamping itu, Petani muda Luwu, Sabir, menanyakan terkait dengan jenis varietas kopi yang cocok ditanam di ketinggian 900 MDPL keatas dan 900 MDPL kebawah, dari hasil penelitian Dinas Pertanian Provisi Bali menyampaikan bahwa untuk kopi jenis Arabika cocok ditanam di ketinggian 900 MDPL keatas, sedangkan pada ketinggian 900 MDPL ke bawah cocok ditanam adalah kopi jenis Robusta. (Ham)

Komentar

Berita Terkait