Tekape.co

Jendela Informasi Kita

11 Tahun Menanti Perbaikan, Siswa SDN Tlomar 2 Bangkalan Masih Belajar di Lantai Tanah

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas SDN Tlomar 2, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, yang masih berlantaikan tanah dan batu. Kondisi bangunan sekolah yang rusak bertahun-tahun itu hingga kini belum mendapatkan perbaikan menyeluruh. (ist)

BANGKALAN, TEKAPE.co – Di tengah berbagai program pembangunan pendidikan yang terus digulirkan pemerintah, puluhan siswa di SDN Tlomar 2, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, masih menjalani kegiatan belajar mengajar di ruang kelas yang jauh dari kata layak.

Lantai ruang kelas di sekolah tersebut bukan keramik atau semen, melainkan tanah bercampur batu. Kondisi itu telah berlangsung bertahun-tahun dan hingga kini belum mendapat penanganan berarti.

Kepala SDN Tlomar 2, Okta Tricahyana mengatakan, kerusakan bangunan sekolah sudah terjadi bahkan sejak dirinya pertama kali bertugas di sekolah tersebut pada 2015.

BACA JUGA: Banyak Kritik Program MBG, Qodari: Salah Besar Kalau Minta Dihentikan

Bukan hanya lantai yang rusak. Sejumlah bagian atap bangunan juga berada dalam kondisi memprihatinkan dan dinilai berpotensi membahayakan keselamatan siswa maupun tenaga pendidik.

“Kami khawatir kalau atap di sini jebol, kasian para siswa dan guru,” kata Okta, Kamis (18/6/2026).

Kekhawatiran itu semakin besar ketika musim hujan tiba. Menurut Okta, bangunan sekolah rentan terdampak hujan deras dan angin kencang.

BACA JUGA: Kemnaker Buka Program Magang Jepang dan Pelatihan Kaigo, Peluang Kerja Internasional Kian Terbuka

Sebaliknya, saat musim kemarau, kata Okta, persoalan lain muncul dari lantai tanah yang mengering dan menimbulkan debu di dalam ruang kelas.

Debu tersebut kerap beterbangan saat proses belajar berlangsung dan mengganggu kenyamanan siswa.

Meski kondisi bangunan terus memburuk, pihak sekolah mengaku belum mampu melakukan perbaikan secara menyeluruh. Berbagai usulan rehabilitasi telah diajukan, namun belum membuahkan hasil.

Menurut Okta, salah satu kendala utama terletak pada status lahan sekolah yang masih tercatat sebagai aset desa atau tanah percaton.

“Memang kendalanya itu karena tanah sekolah ini masih percaton (aset desa) sehingga belum bisa diperbaiki. Ya, kami hanya bisa memperbaiki meja bangku agar tetap bisa digunakan siswa,” ujarnya.

Minimnya fasilitas dan kerusakan bangunan berdampak langsung terhadap jumlah peserta didik. Sejumlah orang tua memilih memindahkan anak mereka ke sekolah lain yang dianggap lebih layak.

Akibatnya, jumlah siswa di SDN Tlomar 2 terus menyusut. Saat ini sekolah tersebut hanya memiliki sekitar 50 siswa dengan jumlah murid per kelas berkisar enam hingga sepuluh orang.

“Kami hanya bisa mengharapkan perbaikan supaya anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” kata Okta.

Keterbatasan sarana tidak berhenti pada kondisi ruang kelas. Sekolah itu juga tidak memiliki ruang guru, perpustakaan, maupun toilet yang memadai.

Dari enam ruang yang tersedia, tiga di antaranya mengalami kerusakan berat. Sementara tiga ruang lainnya masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dengan cara disekat agar dapat menampung beberapa kelas sekaligus.

“Ada 6 ruang, tapi yang 3 sudah rusak berat dan yang 3 masih bisa digunakan namun harus disekat saat digunakan,” ujarnya.

Di balik keterbatasan tersebut, para siswa tetap datang ke sekolah setiap hari.

Nafa, salah seorang siswa, mengaku sudah terbiasa belajar di ruang kelas berlantai tanah sejak duduk di bangku kelas satu. Namun, ia tidak menampik bahwa kondisi itu sering mengganggu proses belajar.

“Biasanya juga masuk ke mata kalau ada angin. Ya tidak nyaman jadinya belajar,” kata Nafa.

Kisah SDN Tlomar 2 menunjukkan masih adanya kesenjangan fasilitas pendidikan di sejumlah daerah. Ketika ruang belajar yang aman dan layak belum sepenuhnya tersedia, proses pendidikan berjalan dalam keterbatasan yang harus ditanggung oleh siswa dan guru setiap hari. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini