Tekape.co

Jendela Informasi Kita

OPINI: Masa Depan UMKM Palopo di Tengah Gempuran AI

Nadia Nikita dan Tiwi. (ist)

Oleh: Nadia Nikita dan Tiwi
(Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Palopo)

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi teknologi masa depan. AI telah hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari membantu membuat desain promosi, menulis deskripsi produk, hingga melayani pelanggan secara otomatis. Perkembangan ini menjadi peluang besar bagi dunia usaha. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul pertanyaan penting: apakah UMKM di Kota Palopo siap menghadapi era AI, atau justru akan tertinggal oleh perubahan yang begitu cepat?

Sebagai kota yang memiliki banyak pelaku UMKM di sektor kuliner, fesyen, kerajinan, dan jasa, Palopo memiliki potensi ekonomi yang besar. Sayangnya, masih banyak pelaku UMKM yang mengandalkan cara-cara konvensional dalam menjalankan usahanya. Ketika para pesaing mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi dan memperluas pasar, UMKM yang tidak mampu beradaptasi berisiko kehilangan daya saing.

Sebagian pelaku UMKM mungkin melihat AI sebagai ancaman karena teknologi mampu menggantikan beberapa pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia. Namun, jika dilihat lebih jauh, AI justru dapat menjadi peluang besar. Teknologi ini dapat membantu UMKM memasarkan produk dengan lebih efektif, memahami kebutuhan pelanggan, mengelola stok barang, hingga membuat laporan keuangan secara lebih cepat dan akurat.

Dalam perspektif etika ekonomi dan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK), perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk menciptakan kemaslahatan bersama. AI seharusnya menjadi alat yang membantu manusia meningkatkan produktivitas, bukan menggantikan peran manusia sepenuhnya. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu mengembangkan kemampuan digital tanpa mengabaikan nilai-nilai moral dalam menjalankan bisnis.

UMKM di Palopo sendiri menghadapi kondisi transisi. Sebagian berpotensi tertinggal karena rendahnya literasi digital dan keterbatasan modal, namun sebagian lainnya mulai siap beradaptasi dengan memanfaatkan pemasaran digital dan e-commerce. Agar tidak tertinggal, pelaku usaha perlu beralih dari strategi konvensional dan mulai memanfaatkan teknologi secara bertahap. Kondisi kesiapan UMKM di Palopo masih diwarnai oleh beberapa tantangan utama, yaitu keterbatasan literasi digital, keterbatasan infrastruktur dan modal, serta penerapan teknologi keuangan yang belum optimal.

Pelaku UMKM di Palopo tidak harus langsung memahami algoritma yang rumit untuk dapat bersaing di era AI. Oleh sebab itu, dalam menghadapi era AI dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Pemerintah daerah dapat menyediakan pelatihan-pelatihan digital bagi pelaku UMKM. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pendampingan dan edukasi teknologi. Sementara itu, pelaku usaha harus memiliki kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan memengaruhi UMKM Palopo, tetapi apakah UMKM Palopo siap menghadapi perubahan tersebut. Masa depan UMKM Palopo tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang hadir, melainkan oleh keberanian untuk belajar dan beradaptasi. Mereka yang mampu beradaptasi akan menemukan peluang baru, sedangkan mereka yang tertinggal berisiko kehilangan daya saing. Karena itu, kesiapan sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam menentukan masa depan UMKM di tengah pesatnya perkembangan teknologi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini