Ramadan di Benhil, Antusiasme Berburu Takjil Jadi Ajang Kebersamaan
JAKARTA, TEKAPE.co – Suasana Pasar Takjil Bendungan Hilir (Benhil), Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, kembali dipadati warga pada Ramadan tahun ini.
Tradisi berburu takjil atau yang populer disebut “war takjil” tidak hanya diikuti umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, tetapi juga masyarakat dari berbagai latar belakang.
Salah satunya Dahlia (55), warga Jakarta Barat, yang tampak mengantre di salah satu lapak pada Minggu (22/2/2026). Ia mengaku hampir setiap tahun menyempatkan diri datang ke Pasar Takjil Benhil.
“Hampir tiap tahun ke sini,” ujar Dahlia.
Ia mengatakan, bubur Madura menjadi menu favoritnya meski harus mengantre cukup lama. Setelah mendapatkan bubur tersebut, ia biasanya berkeliling mencari jajanan lain.
“Buburnya enak. Biasanya setelah antre bubur, lanjut cari yang lain. Tahun lalu juga ke sini,” katanya.
Meski jarak rumahnya cukup jauh, Dahlia datang bersama anaknya menggunakan mobil pribadi.
Ia mengaku harus menghadapi kemacetan dan kesulitan mencari tempat parkir demi bisa menikmati suasana pasar takjil.
“Tadi muter dulu cari parkir, jalannya lumayan jauh,” ujarnya sambil tersenyum.
Selain bubur Madura, ia juga menyukai lontong, gorengan, dan lemang. Untuk menyiasati antrean panjang, Dahlia berbagi tugas dengan adiknya yang ikut datang.
Mereka mengantre di lapak berbeda agar bisa mendapatkan lebih banyak pilihan makanan.
“Adik saya muter di dalam. Bagi tugas biar tidak terlalu lama antre,” katanya.
Pasar Takjil Benhil memang menjadi salah satu destinasi favorit warga Ibu Kota setiap Ramadan.
Lapak-lapak pedagang berdiri di pelataran gedung balai warga, menawarkan beragam hidangan berbuka.
Meski areanya tidak terlalu luas, pilihan makanan terbilang lengkap. Selain aneka gorengan, lontong, dan bihun, tersedia pula menu berat seperti ayam bakar, ayam goreng, hingga masakan Padang.
Berbagai jajanan tradisional seperti bubur sumsum, ketan hitam, siomay, batagor, surabi, pempek, hingga dimsum juga mudah ditemukan.
Safi’i, salah satu pedagang takjil di Benhil, mengatakan bazar mulai ramai sejak pukul 14.00 WIB dan pembeli terus berdatangan hingga menjelang waktu berbuka.
“Biasanya sebelum buka sudah habis,” ujarnya.
Ia mengaku telah lama berjualan di lokasi tersebut dengan menjajakan aneka gorengan, lontong, dan bihun.
Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, mulai dari sekitar Rp2.000 hingga puluhan ribu rupiah.
Menurut Safi’i, pembeli tidak hanya berasal dari Jakarta Pusat, tetapi juga dari wilayah lain seperti Jakarta Barat, Timur, Utara, Selatan, hingga Tangerang.
Selama Ramadan, ia merasakan peningkatan pendapatan yang signifikan. Dalam satu bulan berjualan takjil, omzetnya dapat mencapai belasan juta rupiah.
Antusiasme warga yang datang dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa tradisi berburu takjil bukan sekadar aktivitas membeli makanan, melainkan juga menjadi bagian dari suasana kebersamaan yang mewarnai Ramadan di Ibu Kota.(*)





Tinggalkan Balasan