oleh

Pasca Pembekuan SK, Anak Suku di Matano Diminta Ajukan Nama Calon Mokole

SOROWAKO, TEKAPE.co – Pasca pembekuan SK Mokole Nuha dan Mokole Wawa Inia Rahampu’u Matano di wilayah adat Matano, pilar Kedatuan Luwu meminta kepada anak suku agar mengusulkan nama calon Mokole Rahampu’u Matano yang baru.

Nama yang diusul itu harus memenuhi kriteria, yang diantaranya dari sisi silsilah. Sebab kedudukan Mokole sebagai pemimpin adat adalah berdasarkan darah atau garis keturunan, bukan seperti penunjukan ketua organisasi.

Hal itu disampaikan Makole Baebunta, Andi Suriadi Opu Topasolongi SE, dalam keterangan tertulisnya, Minggu 4 Oktober 2020.

“Pasca pembekuan SK dua Mokole, dan saya ditunjuk sebagai Pelaksana tugas (Plt) Mokole Rahampu’u Matano, maka saat ini kita ingin menyepakati Mokole Rahampu’u Matano yang definitif. Untuk itu, anak suku yang ada di wilayah adat Matano, diminta mengusul nama, untuk ditetapkan sebagai Mokole Rahampu’u Matano,” ujarnya.

Soal mekanisme penunjukan Mokole, Andi Suriadi mengatakan, karena ini gerakan perbaikan adat, maka prosesnya tidak lagi melibatkan dewan adat 12. Tapi pilar Kedatuan Luwu, yakni Macoa Bawalipu dan Pancai Pao, yang dalam tatanan adat, berwenang mengambil keputusan, jika terjadi kekeliruan tatanan adat berlarut-larut.

Selain itu, Ia mengatakan, sesuai tatanan adat Kedatuan Luwu, maka setelah penyatuan 2 Mokole ini, maka kedepan tidak boleh lagi ada 2 Mokole di wilayah adat Matano.

“Kami mengimbau, kepada anak suku yang terlanjur mengikuti sejarah dan tatanan adat yang keliru, silahkan bergabung ke Matano Rahampu’u. Tidak usah malu,” tandasnya.

Sebab, kata dia, tujuan kehadiran pilar adat Kedatuan Luwu, semata-mata untuk perbaikan tatanan adat, demi orang banyak, terkhusus masyarakat adat, serta para anak suku Matano Rahampu’u.

“Jangan biarkan sejarah dan adat kita dinodai. Sebab yang rugi adalah kita sendiri,” tegasnya.

Sementara itu, Pua Oragi Datu Kemacoaan Bawalipu, Andi Sumardi Noppo To Mecce, mengatakan, setelah defenitifnya Mokole Matano, maka pihaknya berharap agar Mokole Nuha hilang dengan sendirinya.

“Namun, jika masih tetap eksis, maka memang niat merusak tatanan adat Kedatuan Luwu sangat jelas. Jangan salahkan jika ada pihak yang bertindak. Sebab sebagai wija to Luwu, yang cinta adat atau sejarahnya, tentu tidak ingin dicederai sejarahnya, serta tidak akan pernah tinggal diam,” tegasnya. (*)

Komentar

Berita Terkait