oleh

Pancai: Datu Luwu Support Upaya Perbaikan Tatanan Adat di Matano

PALOPO, TEKAPE.co – Upaya perbaikan tatanan adat di Matano oleh tiga pilar adat di Kedatuan Luwu, mendapat support dari Datu Luwu ke-40, YM H Andi Maradang Mackulau Opu To Bau SH.

Hal itu disampaikan Pemegang Adat Pancai Pao, Abidin Arief SH, Minggu 19 Juli 2020.

Abidin mengungkapkan, support Datu Luwu Andi Maradang itu disampaikan kepada dirinya, lewat pesan pribadi di whatsapp Datu Luwu.

BACA JUGA:
Diminta Anak Suku, 3 Pilar Kedatuan Luwu Turun Tangan Perbaiki Tatanan Adat di Matano

“Kami telah menyampaikan khusus kepada YM Datu Luwu, terkait upaya kami bersama Kemacoaan Bawalipu dan Makole Baebunta, yang turun tangan meluruskan tatanan adat di wilayah adat Matano, terkait Mokole Nuha dan pengklaiman adanya Kerajaan Matano,” ujar Abidin.

Mendengar upaya itu, kata Abidin, Datu Luwu menyampaikan sepakat atas upaya itu.

“Saya sepakat dengan apa yang diinisiasi oleh Macoa,” tegas Datu Luwu Andi Maradang, yang ditirukan Abidin.

Abidin juga menyampaikan, apa yang dilakukan itu, untuk mengembalikan tatanan adat ke yang semestinya. Sebab di wilayah adat Matano, telah jauh bergeser dari tatanan adat Kedatuan Luwu.

Dimana, telah dibentuk Mokole Nuha, padahal dalam sejarah Kedatuan Luwu, tidak pernah dikenal Mokole Nuha, yang ada hanya Kemokolean Rahampu’u Matano.

Sementara Kemokolean Rahampu’u Matano, yang menjabat Mokole, H Umar Ranggo, kini sudah tidak mengakui Kedatuan Luwu, dan mendeklarasikan diri sebagai kerajaan yang berdiri sendiri.

“Atas kerancuan tatanan adat di Matano ini, maka kami telah bergerak, atas nama adat Kedatuan Luwu, untuk secepatnya membekukan SK H Umar Ranggo sebagai Mokole Matano dan H Baso AM sebagai Mokole Nuha. Ini dilakukan agar kembali ke tatanan adat yang semestinya,” tegasnya.

Abidin menyebutkan, dalam waktu dekat ini, pihaknya, tiga pilar adat Kedatuan Luwu, Macoa Bawalipu, Pancai Pao, dan Makole Baebunta, akan mengeluarkan surat guna perbaikan adat di Matano.

Ini dilakukan, kata dia, tidak ada lagi yang membawa-bawa nama adat Luwu, untuk kepentingan pribadi atau golongannya.

“Saat ini, kami sementara sibuk membantu saudara kita yang tertimpa musibah. Setelah ini berlalu, kita akan kembali fokus di perbaikan tatanan adat kita,” katanya. (*)

Komentar

Berita Terkait