oleh

OPINI: Gen Z dan Milenial Harus Ikut Lawan Corona

Oleh: Muh Nur Fikran
(Departemen Bidang Hikmah Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar)

INI adalah tanggapan atas pernyataan sikap PBB yang begitu histerisnya disampaikan oleh kepala PBB sendiri.

Teknokrat yang histeris ini mengklaim sedang menangani pandemi Corona dengan meyakinkan kita bahwa untuk menekan pandemi kita memerlukan sebuah “perang ekonomi” di berbagai bidang dari negara-negara besar dunia.

Ia menyerukan perang antar negara dalam bentuk ekonomi dimana akan lebih banyak persaingan yang melibatkan pekerja untuk melayani kepentingan pasar menaikkan penjualan yang telah goyang akibat virus SARS-Cov-2 atau Virus Corona yang menakutkan. Saya hanya berkata: brengsek!

Oleh karenanya saya menulis mengenai hal ini untuk menindaklanjuti sikap PBB itu. Dalam beberapa waktu, saya telah mengamati bahwa virus corona tidak menyurutkan keinginan untuk berkumpul dari anak-anak muda yang ingin membantu masyarakat: mulai dari pengumuman sumbangan dan aksi sosialisasi mengenai corona di tempat publik pun berjalan, dimana aksi anak-anak muda ini menuai represi dari pihak kepolisan.

Bukan hanya itu, keinginan berkumpul juga ditunjukkan dari banyak tempat makan dan nongkrong yang belum sepi dari kedatangan anak muda di dalamnya.

Ini adalah tampilan yang mengejutkan di tengah kepanikan banyak orang tua yang mengalami kepanikan menyerbu indomaret dan pasar untuk menyetok barang kebutuhan dasar dan obat-obatan.

Ini adalah bibit pembangkangan sipil, tindakan tak bertanggung jawab, dan tolakan bekerja sama atas himbauan pemerintah yang menggencarkan kampanye kerja di rumah dan tetap stay di rumah.

Selain itu saya sendiri pun dan beberapa kawan di kampung dan sekitarnya masih sering berkumpul untuk ngobrol juga menghilangkan jenuh di rumah.

Namun, dalam strategi penaklukan waktu, kampus masih diaktifkan melalui pertemuan online untuk merepotkan (baca: mengisi) waktu anak-anak muda yang tak bisa datang ke kampus.

Anak muda mengabaikan rasa takut yang dipromosikan oleh pemerintah dan menikmati diri mereka sendiri sementara orang tua mereka berdiri ngeri di depan penyebaran virus corona.

Mudah untuk mengutuk perlakuan anak muda layaknya orang tua mereka yang memarahi dan protektif melarang mereka pergi keluar.

Namun saya tak akan ikut andil dalam kutuk-mengutuk dan rasa takut yang histeris ini, karena: Jika anak muda masih bisa memutuskan untuk keluar dari rumahnya di tengah wabah, mengapa mereka tidak bisa memulai pertarungan demi masa depannya di seluruh Indonesia?

Anak-anak muda memiliki pengaruh dimana ia lebih tak rentan pada penyakit virus corona ketimbang orang yang sudah berumur tua.

Mereka juga adalah angkatan baru yang akan dijual menjadi komoditi segar di pasaran ketika Indonesia mengalami regenerasi berlipat ganda dalam bonus demografi.

Anak muda memiliki keberanian, semangat dan hasrat untuk mempertarungkan masa depannya menentang penguncian serta menyerukan pengurangan waktu kerja dengan kenaikan upah termasuk didalamnya.

Anak muda dapat menunjukkan dalam jumlah besar kepada masyarakat bahwa mereka menginginkan kepastian dari pemerintah berupa jaminan untuk kebutuhan dasar seluruh masyarakat di tengah pandemi.

Sebuah usaha yang akan membuat politisi dan birokrat tua kita, dimana mereka lebih rentan terhadap penyakit, berfikir ulang mengenai kebijakan lockdown.

Bukan Nekat, Tapi Mari Kita #BersamaLawanCorona

Apakah anak muda kebal terhadap penyakit? Tentu saja tidak, namun kerentanan atas penyakit umumnya terjadi di usia yang lebih tua.

Bukan berarti seruan ini mengajak kawan-kawan muda untuk tak memperitungkan resiko dan antisipasi penyakit: namun kita bisa melihat kekuatan sekaligus bukti bahwa anak muda penting di saat-saat seperti ini dengan menengok jumlah relawan muda yang ada di sistem medis.

Jika warga negara yang lebih tua menginginkan kerja sama dengan warga yang lebih muda, para politisi tua yang duduk berkuasa di bangku jabatannya harus bersedia secara adil memenuhi kebutuhan ekonomi kita semua dengan memberlakukan:

Pertama, Menurunkan harga sewa rumah: dengan menanggung beberapa persen harga kost-kostan atau kontrakan. Masyarakat membutuhkan tempat berlindung. Di tengah wabah corona yang menyebar ini orang-orang tak berumah dan perantau di suatu kota akan sangat rentan terkena virus karena tak memiliki atau berpindah-pindah rumah.

Kedua, Tunda penagihan hutang terkait lembaga peminjaman uang. Segalanya membutuhkan uang, termasuk kebutuhan hidup dan item kesehatan. Seruan penundaan tagihan ini adalah cara untuk mempertahankan akses kebutuhan hidup sementara masyarakat.

Ketiga, Semua proyek penggusuran harus dihentikan apapun status tanahnya. Masyarakat membutuhkan ruang untuk memudahkan social distancing, sebuah ruang dimana kita tak harus hidup dengan jangkauan gerak yang semakin padat karena digusur. Ini syarat yang harus dipenuhi untuk mengurangi kepadatan tempat tinggal di tengah wabah corona.

Keempat, Data dan Keluarkan Narapidana dari Penjara. Dalam artian ini, orang yang dianggap bersalah oleh hukum harus tetap tinggal di rumah secara sementara karena kepadatan dalam penjara akan mengancam kesehatan mereka.

Dan juga mengingat TNI-POLRI bersama kami (segenap masyarakat Indonesia) di slogan iklannya selama ini, maka kami akan membantu mereka membuktikan hal itu kepada masyarakat dengan:
Kelima, Demobilisasi Militer.

Usaha yang akan mencangkup pemotongan anggaran militer untuk menambah anggaran lain di bidang kesehatan serta kebutuhan dasar masyarakat yang akan segera ditanggung pemerintah. Karena kami lebih membutuhkan 5 hal ini ketimbang persenjataan untuk berperang.

Dimana uang untuk semua tanggungan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat?

Insentif dana sebesar 405,1 Trilliun Rupiah yang pemerintah gelontorkan dalam rangka merespon dan menanggulangi, atau setidaknya meminimalisir dampak Covid-19, terhadap segenap masyarakat Indonesia dalam segala aspek, baik itu sosio-ekonomi dan sosio-politik di tengah wabah pandemi Covid-19.

Ini benar-benar harus teralokasikan dengan sebenar-benarnya dan sampai kepada segenap masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan berupa kebutuhan dasar dan pokoknya sehari-hari.

Juga kepada segenap Oligarki dan Para Kapitalis yang memiliki watak dan wajah yang bermacam-macam motif dan bentuknya saya sebagai generasi millenial, menyerukan kepada anda para oligarki dan para kapitalis yang terkaya dan tidak terhormat sekalian, agar sementara ini saja menghentikan semua pemaksaan kehendak logika kapitalisme anda yang berlandaskan pada dorongan turbulensi produksi nan surplulisasi komoditas dan eksplorasi.

Serta eksploitasi terhadap sumber daya alam dan manusia, utamanya buruh dan pekerja upah harian, dengan mengenyampingkan semua logika kapitalisme anda yang hanya mengutamakan kepentingan dan keuntungan pribadi semata, berupa akumulasi kapital (modal) tanpa memikirkan nasib, hak dan keberlangsungan kehidupan bumi dan manusia.

Serta turun tangan untuk membantu masyarakat meringankan beban dan penderitaan yang dirasakan saat ini akibat dari pandemi Covid-19 dengan memberikan bantuan baik itu bantuan berupa material maupun yang non-material.

Generasi milenial dan Gen Z bukanlah mereka yang tak memiliki rencana untuk masa depan mereka seperti yang disuarakan beberapa media dengan perubahan sistem kerja menjadi lebih fleksibel dan tak pasti oleh industri/perusahaan.

Generasi Milenial dan Gen Z adalah Human Kapital, atau istilah yang paling mainstream kita dengar yaitu anak muda adalah generasi pelanjut (Agent of Change) dari generasi tua yang akan melanjutkan perjuangan dan memimpin negara di masa depan.

Jadi sepatutnya pemerintah memberikan ruang seluas-luasnya dan memfasilitasi anak muda untuk terus berkembang baik dari segi pengetahuan maupun dari segi tindakan, agar nantinya negara memiliki pemimpin yang mampu mengembang amanah dan memimpin negara dengan sebaik-baiknya sesuai dengan cita-cita bangsa yaitu mencerdaskan dan mensejahterakan kehidupan bangsa dan negara.

Jadi sekali lagi, seruan untuk Gen Z dan Milenial mari kita #BersamaMelawanCorona atas nama kemanusiaan dan demi masa depan kita sebagai generasi penerus kepemimpinan bangsa dan negara di masa yang akan datang.

Billahi Fii SabililHaq.
Fastabiqul Khairat!

Komentar

Berita Terkait