oleh

OPINI: Andai Literasi Bagai Pandemi Covid-19

Oleh: Saifullah Bonto
(Ketum PC IMM Pangkep)

SEORANG sejarawan lulusan Oxford University dalam sebuah narasinya di Homo Deus mengatakan bahwa ada tiga masalah terbesar yang selalu dihadapi masyarakat global yaitu kelapara, wabah dan perang. Sekarang masyarakat global disibukkan lagi dengan wabah covid-19.

Sebuah virus mematikan sedang menggerogoti dan menghantui kita semua yang dinamai dengan Corona Virus. Virus ini diketahui berasal dari salah satu daerah di China yaitu Wuhan.

Pertama kali ditemukan pada bulan Desember 2019. WHO atau Badan Kesehatan Dunia pada tanggal 11 Februari 2020 kemudian memberi nama dengan Covid-19.

Covid-19 sendiri merupakan singkatan dari Corona Virus Disease-2019.

Mari kita sedikit membahas tentang virus ini. Virus ini pada mulanya hanya dapat ditemukan pada hewan kemudian mengalami proses mutasi. Reseptor yang dimiliki oleh virus corona hanya mampu menempel pada sel inang hewan saja.

Lambat laun, virus ini dapat bermutasi merubah susunan dirinya sehingga memiliki reseptor yang kompatibel untuk menempel pada sel manusia. Untuk memahami dengan mudah kita ibaratkan virus ini sebagai kabel charger sedangkan sel inang adalah smartphone.

Sedangkan reseptor ini kita ibaratkan sebagai colokan USB. Penelitian mengungkapkan bahwa reseptor yang cocok dengan virus corona adalah ACE-2 dan itu terdapat pada sel manusia.

ACE-2 ini juga ditemukan banyak terdapat pada orang yang merokok. Sekitar 90% dari 500 orang yang terkena Covid-19 memiliki riwayat sebagai perokok.

Sebelumnya, kita tahu bahwa Corona Virus ini berasal dari China. Ada apa dengan China? China memiliki banyak kebiasaan yang unik terlebih dalam persoalan kuliner.

Corona Virus ini diduga kuat berasal dari sana tepatnya di Wuhan. Di Wuhan terdapat sebuah pasar yang memperjualbelikan hewan liar dan seafood termasuk kelelawar.

Menurut dr. Atoillah Isfandiari, DNA dari virus Corona ini memiliki kemiripan dengan DNA yang ada pada kelelawar.

Sehingga dengan kebiasaan ektstrem ini mengonsumsi hewan liar dapat membuat virus bermutasi sehingga bias menular dari hewan ke manusia.

Bagaimana Covid-19 ini bisa dengan cepat menular? Virus harus berada dalam sel makhluk hidup untuk bertahan hidup. Virus hanya bertahan beberapa waktu di luar sel.

Virus ini dapat ditularkan oleh orang yang sudah terinfeksi melalui cairan tubuh ketika bersin atau batuk. Cairan yang dikeluarkan mengandung virus dan dapat menularkan ke orang yang sehat. Cairan ini biasa disebut dengan sebutan droplets.

Droplets yang dikeluarkan melalui bersin dapat mencapai 2 meter kemudian jatuh ke bawah. Droplets dapat langsung mengenai anggota tubuh orang sekitar atau dapat juga hinggap di benda-benda sekitar. Virus Corona dapat bertahan 1 s/d 2 x 24 jam setelah keluar dari tubuh (droplets).

Perlu kita ketahui dalam dunia medis ada yang disebut dengan Mukosa. Mukosa adalah selaput lender atau lapisan kulit dalam seperti mulut, hidung dan mata. Ketika droplets mencapai bagian mukosa baik secara langsung atau melalui tangan maka virus akan masuk ke dalam tubuh.

Kita tidak akan membahas lebih jauh lagi tentang Covid-19 ini. Paling tidak, kita bisa sedikit memberikan gambaran tentang virus tersebut. Seyogianya kita sebagai masyarakat awam minimal juga harus tahu sejarah virus ini dan tahu bagaimana mekanisme penyebaran virus ini.

Kedua, dampak dari pandemi Covid-19 ini begitu sangat terasa di berbagai belahan bumi lain. Beberapa negara bahkan telah melakukan lockdown yang berarti negara telah memberlakukan larangan kepada warganya, untuk masuk ke suatu tempat karena kondisi darurat atau dalam arti lain, memberlakukan penutupan akses perbatasan agara tidak ada yang keluar masuk dari dan ke negaranya.

Di negara kita Indonesia pemerintah hanya menghimbau kita untuk physical distancing atau social distancing dalam mencegah penyebaran pandemi Covid-19 ini.

Presiden kita memiliki analisis-analisis tertentu dan berpendapat bahwa setiap negara memiliki karakter, budaya dan kedisiplinan tertentu sehingga tidak memilih langkah untuk lockdown.

Padahal update terakhir sebagaimana yanag saya akses di situs resmi pemerintah, pasien positif Covid-19 Sabtu 28 Maret 2020 ada 1.115 yang positif, 59 sembuh dan 102 meninggal.

Tapi yang namanya pilihan pasti ada konsekuensi. Bisa kita lihat dari beberapa langkah yang diambil oleh pemerintah memberikan dampak yang sangat signifikan baik bagi kalangan elit terlebih bagi kita masyarakat awam.

Mayoritas sektor perekonomian lumpuh, mal, toko-toko dan para pedagang-pedagang serta mereka yang freelance hampir bisa dikatakan pendapatan mereka tidak pernah mencapai target perharinya.

Dampak buruknya pun dirasakan oleh kita generasi pelajar dan mahasiswa yang harus memberlakukan sistem pembelajaran online.

Syukur-syukur kita bisa paham apa yang disampaikan oleh dosen atau guru kita, bertatap muka saja belum tentu paham, apalagi tidak bertatap muka langsung (bisa jadi karena belum terbiasa atau karena banyaknya faktor yang menyebabkan kurangnya konsentrasi, salah satunya kita bisa melihat wajah bantal beberapa teman kita di layar aplikasi).

Ini semua dampak dari sosial distanding yang merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Namun, entah itu lockdown ataupun social distanding pemerintah juga harus memperhatikan dengan serius sisi ekonomi masyarakat bukan saja dari segi kesehatan.

Yang hidup di istana dan yang hidup digubuk tentu memiliki agenda yang berbeda, bagi orang elite bisa jadi kesehatan adalah hal yang utama tapi bagi kalangan bawah tentu ekonomilah yang diprioritaskan.

Karena bagi mereka, pendapatan hari ini adalah kelangsungan hidup untuk hari esok. Sehingga pemerintah diharapkan mampu memberikan alternatif perekonomian sembari memprioritaskan kesehatan warganya.

Terakhir. Sebagai generasi pelajar yang merupakan bibit dan tunas bangsa ke depan, tentunya kita harus mengambil peran di tengah-tengah pandemi Covid-19 ini.

Ada banyak kegiatan positif yang bisa kita laksanakan. Seperti turut memberikan edukasi bagi para warga agar tidak terkena virus di sosial media.

Kita juga bisa terjun langsung ke masyarakat secara kolektif dengan membantu menyemprotkan cairan disinfectan baik dengan racikan sendiri ataupun dari pabrik.

Kelas online yang kita lakukan pun merupakan salah satu kegiatan positif yang bisa kita lakukan di tengah-tengah pandemi ini.

Meskipun kita dibatasi oleh jarak dan tempat namun itu tidak menghalangi kita untuk bersua di dunia maya.

Tentu kita sama-sama tahu sekarang merupakan era Revolusi Industri 4.0 kita bisa memanfaatkan jejaring internet untuk berdiskusi. Kita jangan kaku memahami bahwa berdiskusi itu harus dengan berhadap-hadapan atau bertatapan langsung, di dunia maya pun bisa.

Sebagai generasi pelajar kita punya tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat, melakukan tranformasi masyarakat dari tradisional ke modern, menurut istilah Muhammadiyah yaitu masyarakat berkemajuan.

Meskipun modern, tentunya tidak terlepas dari apa yang menjadi dasar pijakan syariat-syariat kita sebagai umat muslim.

Generasi pelajar juga harus memiliki semangat berliterasi. Prof Haedar Nashir menyampaikan bahwa semangat literasi yang dimaksud adalah memiliki tradisi membaca, berdiskusi dan menulis.

Sehingga dari tradisi literasi kita ini, ke depan kita tidak gagap dalam menerjemahkan zaman. Semakin kita memiliki banyak informasi, semakin sering kita berdialektika maka semakin banyak alternatif-alternatif yang kita peroleh untuk bisa menghadapi tantangan zaman.

Kita bisa belajar dari Covid-19 ini dari sisi positifnya. Sesuai dengan tema “Andai Literasi Bagai Pandemi Covid-19”, andai semangat literasi kita seperti Covid-19 yang begitu sangat cepat tersebar dalam hitungan jam bahkan hitungan pekan, sudah ribuan orang yang terkena, maka tentu kita akan memiliki banyak alternatif untuk menghadapinya karena sebelumnya kita sudah banyak memperoleh informasi dan sudah sering mendiskusikannya sehingga dari diskusi tersebut kita bisa mendapat kejelasan.

Teringat pesan salah seorang sejarawan, Yuval Noah Harari dalam salah satu bukunya berjudul 21 Lessons. Beliau berpesan bahwa di dunia yang dibanjiri informasi ini kejelasan adalah kekuatan. Kurang lebih demikian. (*)

Komentar

Berita Terkait