oleh

Dinilai Tidak Layak, Poktan di Walenrang Tolak Bantuan 12 Ribu Bibit Kakao

LUWU, TEKAPE.co – Kelompok Tani Komoditi Kakao Sikamali dan Cahaya Sejahtera Desa Tombang, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, menolak 12 ribu bantuan bibit Kakao yang dinilai tidak layak karena rusak dan layu.

Poktan menolak bantuan bibit ini berlangsung di Desa Tombang, Jum’at 27 November 2020, kemarin.

Bantuan Bibit Kakao ini merupakan manfaat dari Manfaat program Rural Empowerment and Agricultural Development Scalling Up Innitiative (READSI).

Bibit Kakao yang berjumlah kurang lebih 12 ribu bibit ini dimuat 2 kendaraan roda 6 (Truck) dan rencananya akan dibagikan untuk 2 Kelompok Tani.

Menurut kepala BPP Walenrang Lukman, SP bahwa bibit yang diantarkan itu usianya sudah tua dan akarnya sudah keluar dan menjalar ke tanah serta tidak segar lagi.

“Jadi tugas kami seorang penyuluh, selama ini memberikan pemahaman kepada petani bagaimana cara melihat dan memilih bibit yang bagus sehingga petani paham betul tentang itu,” ungkapnya Sabtu, 28 November 2020.

Kemarin itu walaupun petani belum sempat melihat label atau sertifikasinya namun mereka sudah tahu kalau bibit itu tidak sehat, makanya petani menolak karena mereka sudah paham betul tentang bibit Kakao yang baik.

“Petani yang langsung menolak karena melihat kondisi bibit yang sudah layu, tua dan tidak ada daunnya yang segar” tuturnya.

Lukman melanjutkan kalau menurut penyedia bibit Kakao ini, pihaknya akan mengganti dengan bibit yang sehat atau bagus sesuai dengan jumlah yang seharusnya.

Sementara itu Fasilitator Desa Tombang Ahmadi saat dihubungi media juga membenarkan penolakan bibit Kakao tersebut karena tidak sehat.

“Petani baru mengambil beberapa contoh bibit, begitu petani melihat bibit tersebut, petani langsung menolak karena tidak sesuai dengan harapannya” ungkap Ahmadi.

Menurut Ahmadi kalau bibit Kakao yang diantarkan itu jumlahnya baru sebagian, baru sekitar 12 ribu bibit dan sisanya akan diantarkan kemudian, namun petani ini sudah paham dan tahu betul mana bibit bagus dan mana bibit jelek, karena mereka kan selalu diberikan pengetahuan tentang cara melihat bibit yang bagus.

Ahmadi juga menjelaskan kalau kemungkinan karena bibitnya lama di atas mobil sehingga kepanasan apalagi ditutup dengan Terpal sehingga bibitnya jadi stres.

“Kemungkinan bibitnya stres karena lama di atas mobil sehingga bibitnya kelihatan layu” ucapnya.

Namun Ahmadi juga menyampaikan kalau penyedia bibit ini siap mengganti dengan bibit yang bagus, namun waktunya belum diketahui.

“Penyedia bibit siap mengganti tapi belum kami ketahui kapan mereka akan mengganti karena waktunya belum ditentukan” ucap Ahmadi.

Sementara itu Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Luwu, Uchu Butun Manurung SP, saat dihubungi via WhatsApp Sabtu, 28 November 2020, mengatakan kalau bibit yang diberikan tersebut kualitasnya bagus.

“Kualitas Bibitnya bagus cuma sudah diantar sebelumnya tapi petani belum siap akhirnya kembali natinggal di atas mobil jadi agak layu” ucapnya.

Lanjut, saat dikonfirmasi terkait syarat sehingga bibit dikatakan layak tanam, ia mengatakan bibit yang Bersertifikat dan Berlabel.

“Kalau tidak diakui petani atau tidak layak akan dikembalikan bibitnya,” tandasnya.

Program READSI merupakan salah satu bagian dari program Kementerian Pertanian yang mendukung terwujudnya Visi Pembangunan Pertanian yaitu tercapainya kedaulatan pangan dan meningkatnya kesejahteraan petani serta mendukung suksesnya program regenerasi petani.

Sasaran Program READSI adalah petani, termasuk Petani miskin yang aktif dan memiliki sumberdaya seperti lahan yang berpotensi untuk meningkatkan taraf hidupnya dengan bantuan program, petani aktif dan memiliki potensi sebagai ‘agen perubahan’ untuk memotivasi petani lainnya terutama kelompok miskin dan memperbaiki penghidupannya.

Termasuk petani yang tidak memiliki lahan, petani pemilik lahan sempit dan kepala keluarga perempuan yang akan dilibatkan secara langsung dalam usaha pengembangan lahan pekarangan, nomfarm, kegiatan perbaikan gizi dan kegiatan pengelolaan keuangan.

Program ini dilakukan pada tahun 2019-2023 dengan sumber pembiayaan dari International Fund for Agriculture Development (IFAD) dalam bentuk Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN). (*)

Komentar

Berita Terkait