OPINI: Lebaran Bisa Berbeda, Bukan Soal Siapa Lebih Cepat atau Lambat
Oleh: Prof. Dr. Ir. Jasruddin Daud M.
*Akademisi asal Luwu Timur
PERBEDAAN penetapan Hari Raya Idul Fitri kembali terjadi pada 2026. Sejumlah negara seperti Australia menetapkan Idul Fitri pada 20 Maret 2026, sementara Pemerintah Indonesia menetapkannya pada 21 Maret 2026.
Di dalam negeri, perbedaan juga kerap muncul antara organisasi keagamaan. Kondisi ini sering menimbulkan pertanyaan di masyarakat: apakah perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan metode antar organisasi Islam?
Bukan Sekadar Perbedaan Metode, Tapi Cara Pandang Ilmiah
Penentuan awal bulan Hijriah, termasuk Idul Fitri, didasarkan pada posisi bulan (hilal) terhadap matahari saat matahari terbenam.
Dua parameter penting yang digunakan adalah Ketinggian hilal dan Elongasi (jarak sudut bulan–matahari). Namun, perbedaan terjadi karena ada cara pandang ilmiah yang berbeda dalam membaca data astronomi tersebut.
Pendekatan Pemerintah: Kriteria Lokal-Regional
Pemerintah Indonesia menggunakan kriteria Imkanur Rukyat (MABIMS) tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Artinya, awal bulan ditetapkan jika hilal secara ilmiah mungkin terlihat di wilayah Indonesia. Jika belum memenuhi kriteria ini, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari.
Pendekatan ini bersifat lokal-regional, karena mempertimbangkan kondisi langit Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Pendekatan Muhammadiyah: Hisab dengan Prinsip Global
Di sisi lain, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal yang kini berkembang ke arah pendekatan global (hilal internasional).
Prinsip utamanya adalah telah terjadi ijtimak (konjungsi) dan bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam.
Dalam pendekatan global, jika hilal sudah “wujud” dan memenuhi syarat secara astronomi di suatu wilayah di Bumi, maka hal itu dapat menjadi dasar penentuan awal bulan Hijriah secara lebih luas (tidak terbatas pada satu negara).
Artinya, penentuan tidak selalu bergantung pada visibilitas di Indonesia saja, tetapi mempertimbangkan kesatuan waktu global umat Islam.
Mengapa Australia Bisa Lebih Dulu?
Pada 19 Maret 2026, di beberapa wilayah Australia, posisi hilal sudah memenuhi kriteria tertentu sehingga Idul Fitri ditetapkan 20 Maret, sementara di Indonesia, hilal belum memenuhi kriteria pemerintah.
Hal ini terjadi bukan karena perbedaan waktu semata, tetapi karena letak geografis dan sudut posisi bulan terhadap matahari, serta kemiringan lintasan bulan di langit. Dengan kata lain, dua tempat yang waktunya berdekatan bisa memiliki posisi hilal yang berbeda.
Perbedaan yang Sering Disalahpahami
Di masyarakat, perbedaan sering dipersepsikan sebagai “NU dan Muhammadiyah berbeda metode, sehingga hasilnya berbeda.”
Padahal secara ilmiah keduanya sama-sama menggunakan dasar astronomi dan perbedaannya terletak pada kriteria dan cakupan wilayah (lokal vs global).
Pemerintah dan NU berbasis visibilitas lokal (rukyat/imkanur rukyat), sedangkan Muhammadiyah berbasis eksistensi hilal secara astronomis (hisab global).
Perbedaan sebagai Kekayaan Ilmu, Bukan Konflik
Para ahli menegaskan bahwa perbedaan ini merupakan bagian dari ijtihad keilmuan dalam memahami fenomena alam.
“Ini bukan soal siapa yang benar atau salah, tetapi bagaimana kriteria ilmiah digunakan dalam kerangka yang berbeda lokal dan global,” ujar seorang pakar astronomi.
Pesan untuk Masyarakat
Masyarakat diharapkan memahami bahwa, penentuan Idul Fitri bukan sekadar melihat jam atau selisih waktu, akan tetapi hasil dari perhitungan astronomi yang kompleks.
Dengan pemahaman ini, perbedaan tidak perlu dipertentangkan, melainkan dipahami sebagai bagian dari dinamika ilmu dan praktik keagamaan.
Perbedaan Lebaran sejatinya menunjukkan bahwa Islam memiliki tradisi keilmuan yang kaya menggabungkan antara observasi, perhitungan, dan ijtihad. Di atas semua itu, nilai utama Idul Fitri tetap sama: persatuan, kebersamaan, dan saling memaafkan. (*)





Tinggalkan Balasan