oleh

Capai 687 Kasus, Dinkes Catat Angka Stunting Meningkat di Palopo

PALOPO, TEKAPE.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palopo mencatat, jumlah anak yang mengalami stunting di Kota Palopo mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya.

Dibanding tahun 2020 lalu, yang terdapat 374 kasus, tahun 2021 ini, mengalami peningkatan sebanyak 313 kasus, sehingga total keseluruhan sebanyak 687 kasus.

Angka stunting ini tersebar di sembilan kecamatan.

Stunting ini terkait masalah kurang gizi kronis, yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kota Palopo, Ceria Amalia SKM, Kamis 24 Juni 2021, menjelaskan, faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting pada seorang anak.

“Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, seperti berat lahir, pemberian Air Susu Ibu (ASI), status ekonomi, serta pendidikan ibu,” ungkapnya.

Ceria menyebutkan, stunting juga dipengaruhi pada saat seorang ibu sedang mengandung atau pada proses kehamilan.

Padahal, Pemerintah Kota Palopo, melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan KB (DP2KB), belakangan ini telah gencar menggelar Safari KB dan Grebek Balita, dengan memberikan bantuan kepada balita gizi kurang yang didata dari PLKB dan Sub BBKBD.

Bahkan, Plt Kepala Dinas DPPKB, Farid Kasim Judas (FKJ), dalam rilis humas di beberapa media di Palopo, mengaku tidak akan tidur jika masih ada balita yang gizi kurang di wilayahnya.

Namun demikian, Dinas kesehatan telah melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi kenaikan jumlah stunting di Palopo, diantaranya:

  1. Pemeriksaan ibu hamil di pelayanan kesehatan, baik puskesmas, posyandu, pustu maupun puskeskel, apabila ada ibu hamil KEK (kekurangan energi kronis) langsung diberikan edukasi serta pemberian makanan tambahan dan pendampingan kepada ibu hamil sampai melahirkan.
  2. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan pada bayi baru lahir sampai 5 tahun (balita), sekaligus menilai status gizi balita apabila di deteksi ada yang bermasalah (gizi kurang) dan diintervensi melalui edukasi kepada keluarga balita dan pemberian makanan tambahan pada balita.
  3. Dilakukan kelas ibu hamil, untuk menambah wawasan dan pengetahuan ibu hamil tentang konsumsi makanan bergizi saat hamil, tanda-tanda bahaya saat hamil sampai melahirkan serta pemberian asi eksklusif.
  4. Dilakukan kelas ibu balita, untuk menambah wawasan dan pengetahuan dari orang tua balita tentang pemberian makanan bergizi bagi balita, imunisasi, serta pembelajaran tentang cara menjaga kesehatan balita.
  5. Pemberian tablet penambah darah pada remaja putri. (*)

Komentar

Berita Terkait