Asap Kretek Rempah, Ikhtiar Tradisional yang Jadi Perbincangan di Toraja Utara
ASAP tipis mengepul dari ramuan rempah. Aroma khas memenuhi ruangan. Di tengah kepulan asap tersebut, satu per satu pasien datang membawa keluhan kesehatan yang mereka rasakan.
Sejak 29 Juli 2026, layanan terapi tradisional menggunakan asap kretek rempah mulai dikenal dan menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten Toraja Utara.
Lokasinya berada di Jalan Poros Tagari-Bolu, Kecamatan Tallunglipu, tepatnya sebelum Simpang Tiga arah Panga.
Tempat ini merupakan bagian dari komunitas yang dikenal dengan metode terapi tradisional ‘sedot jero’, menggunakan asap dari racikan rempah.
Metode tersebut sebelumnya dikenal di Karangdaleman, Daleman, Danurejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Kini, praktik terapi tradisional itu hadir di Toraja Utara. Dalam sehari, tempat tersebut disebut tidak pernah sepi dari pasien yang datang dengan beragam keluhan.
Salah seorang jurnalis media siber, Erlinuddin, mengaku sempat ragu ketika pertama kali mendengar metode terapi tersebut.
Namun, rasa penasaran membuatnya memberanikan diri mencoba.
“Awalnya sih enggak berani. Tapi karena penasaran dan ada kondisi kesehatan yang kerap saya rasakan, makanya saya berani mencobanya. Setelah mencoba, puji Tuhan memang ada manfaat yang saya rasakan dari terapi asap rempah ini,” kata Erlin saat ditemui di lokasi terapi, Selasa (18/8/2026) sore.
Erlin mengatakan, dari pengamatannya, pasien yang datang berasal dari berbagai kelompok usia dan latar belakang.
Bukan hanya masyarakat biasa, sejumlah orang yang dikenal di Toraja, termasuk ASN dan warga Toraja yang berdomisili di Jakarta, disebut turut mencoba metode tersebut.
Erlin sendiri mengaku memiliki sejumlah keluhan yang selama ini dirasakannya, di antaranya kecemasan, gangguan lambung dan migrain.
Meski demikian, ia menyebut terapi tersebut sebagai salah satu bentuk ikhtiar yang dijalaninya.
“Semoga dengan hadirnya komunitas kretek rempah ini bisa menyelamatkan nyawa ratusan bahkan ribuan orang. Kalau saya lihat, ini sebuah misi kemanusiaan yang tidak semua orang tahu,” tuturnya.
Cerita serupa juga datang dari sejumlah pasien lainnya.
Ada pasien yang mengaku sebelumnya telah menjalani berbagai upaya pengobatan, termasuk berobat hingga ke luar negeri, namun belum mendapatkan perubahan seperti yang diharapkan.
Setelah mencoba terapi asap rempah, mereka mengaku merasakan perubahan pada kondisi tubuhnya.
Namun, pengalaman tersebut merupakan kesaksian pribadi pasien dan belum dapat dijadikan bukti medis bahwa terapi tersebut dapat menyembuhkan penyakit tertentu.
Di balik praktik tersebut, para pengelola menyebut terapi dilakukan oleh orang-orang yang telah mendapatkan pelatihan khusus di wilayah Yogyakarta.
Bagi para pasien yang datang, terapi asap rempah ini dipandang sebagai sebuah ikhtiar alternatif untuk menjaga dan memulihkan kondisi tubuh.
Kehadirannya di Toraja Utara pun kini mulai menjadi perbincangan.
Di antara aroma rempah dan kepulan asap yang memenuhi ruangan, para pasien datang membawa harapan masing-masing.
Sebagian datang karena rasa penasaran. Sebagian lainnya datang setelah mendengar pengalaman orang terdekat.
Bagi mereka, kesembuhan tetap berada di tangan Tuhan, sementara berbagai upaya pengobatan menjadi bagian dari ikhtiar manusia. (*)





Tinggalkan Balasan