Sekdis Kesehatan Toba Diduga Rampas HP Wartawan saat Doorstop Interview
TOBA, TEKAPE.co – Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Toba, Siti Nuraya Sirait, menjadi sorotan setelah diduga melakukan tindakan yang menghalangi kerja jurnalistik.
Dugaan itu muncul menyusul insiden saat ia diduga berupaya merampas telepon genggam milik seorang wartawan ketika doorstop interview usai rapat di Kantor Desa Huta Dame, Kecamatan Balige, Kamis (16/7/2026).
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 16.30 WIB, sesaat setelah rapat yang membahas dugaan ketidakhadiran berkepanjangan seorang oknum bidan desa berinisial IRS, yang selama ini dikeluhkan masyarakat karena dinilai jarang menjalankan tugas pelayanan kesehatan di Desa Huta Dame.
Sebelumnya, wartawan disebut tidak diperkenankan meliput jalannya rapat. Setelah kegiatan selesai, salah seorang wartawan, Agus Simanjuntak, berupaya meminta klarifikasi kepada Sekdis Kesehatan melalui doorstop interview mengenai hasil rapat dan langkah yang akan diambil pemerintah terhadap persoalan tersebut.
Namun, menurut pengakuan Agus, alih-alih memberikan penjelasan, Sekdis justru diduga berusaha merebut telepon genggam yang digunakan untuk merekam wawancara.
“Itu benar. Saat saya melakukan wawancara doorstop interview, HP saya berusaha dirampas oleh dia (Sekdis). Padahal niat saya hanya ingin mewawancarai terkait hasil rapat yang mereka lakukan,” ujar Agus saat dikonfirmasi Tekape.co Senin (20/7/2026).
Agus mengaku telah mengantongi rekaman video yang merekam insiden tersebut. Selain itu, ia menyebut terdapat sejumlah saksi yang menyaksikan langsung peristiwa itu.
“Saya memiliki alat bukti berupa video dan juga beberapa orang saksi yang melihat kejadian tersebut. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 16.30 WIB dan saat ini saya akan menindaklanjuti hal ini ke pihak berwenang,” tegasnya.
Salah seorang saksi berinisial AS, yang mengaku berada di lokasi saat kejadian, membenarkan adanya insiden tersebut. Ia menilai tindakan yang diduga dilakukan pejabat tersebut tidak mencerminkan sikap seorang aparatur publik.
“Itu merupakan bentuk keangkuhan seorang pejabat. Yang ditanyakan wartawan adalah persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Setahu saya, wartawan berhak meminta penjelasan mengenai persoalan publik. Sangat tidak pantas jika sampai berusaha mengambil alat kerja wartawan,” ujar AS.
Insiden tersebut bermula dari mencuatnya keluhan masyarakat terkait dugaan sering absennya oknum bidan desa berinisial IRS. Warga menilai pelayanan kesehatan di desa terganggu karena yang bersangkutan disebut jarang berada di tempat tugas, meski telah difasilitasi kendaraan dinas berupa sepeda motor untuk menunjang pelayanan ke wilayah pelosok.
Keluhan masyarakat itu kemudian mendorong pemerintah menggelar rapat di Kantor Desa Huta Dame guna membahas persoalan tersebut. Namun, hasil rapat belum sempat dijelaskan kepada publik setelah terjadi insiden saat wawancara berlangsung.
Peristiwa ini pun memicu reaksi dari kalangan insan pers dan aktivis yang menilai dugaan upaya merampas alat kerja wartawan merupakan tindakan yang patut disesalkan. Mereka meminta aparat penegak hukum mengusut dugaan tersebut secara objektif apabila laporan resmi telah disampaikan.
Hingga saat ini, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Toba, Siti Nuraya Sirait, enggan memberikan keterangan terkait dugaan insiden tersebut.
(Abednego Manalu)






Tinggalkan Balasan