Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Pemkot Palopo Abai, Warga Sendana Swadaya Perbaiki Jembatan

Warga Kelurahan Sendana, Kecamatan Sendana, Kota Palopo, bergotong royong memperbaiki jembatan kayu secara swadaya yang menjadi akses utama aktivitas masyarakat dan distribusi hasil pertanian. (ist)

PALOPO, TEKAPE.co – Kondisi jembatan kayu di Kelurahan Sendana, Kecamatan Sendana, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, kembali menjadi sorotan.

Di tengah keterbatasan, warga memilih bergotong royong memperbaiki akses utama tersebut secara swadaya.

Sementara, Pemerintah Kota (Pemkot) Palopo belum menunjukkan langkah konkret untuk pembangunan jembatan permanen.

BACA JUGA: Jalan Poros Paniki–Bokin Amblas, Warga Minta Pemkab Torut Segera Bertindak

Jembatan yang menghubungkan wilayah Lewadang, Sampoddo, hingga Songka itu menjadi jalur vital bagi mobilitas warga sekaligus distribusi hasil pertanian.

Namun, kerusakan yang kian parah memaksa masyarakat mengambil inisiatif perbaikan dengan mengganti papan kayu lapuk dan memperkuat struktur penyangga, tanpa dukungan anggaran pemerintah.

Warga menilai, kondisi ini mencerminkan minimnya perhatian pemerintah terhadap infrastruktur dasar yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

BACA JUGA: Status Sudah PPPK, Gaji Belum Ada: 410 Guru dan Tendik Palopo Terkatung

Jembatan tersebut diketahui dibangun secara swadaya sejak 2009 dan hingga kini belum mendapatkan peningkatan menjadi jembatan permanen.

Salah seorang warga, Rombe, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berulang kali menyampaikan usulan pembangunan melalui jalur anggaran daerah, namun belum membuahkan hasil.

“Jembatan ini sudah lama, dibuat sekitar 2009. Dari awal memang masyarakat yang bangun sendiri,” ujar Rombe kepada wartawan, Minggu (29/3/2026).

Ia menambahkan, usulan pembangunan jembatan permanen sudah disampaikan sejak 2025, tetapi belum mendapat tanggapan nyata dari Pemkot Palopo.

“Kami sudah beberapa kali mengusulkan agar dibangun permanen, tapi sampai sekarang belum ada realisasi. Jadi kami berinisiatif memperbaiki sendiri supaya tetap bisa digunakan,” katanya.

Kondisi jembatan yang semakin rapuh dinilai membahayakan keselamatan warga, terutama pengendara roda dua yang kerap melintasinya untuk mengangkut hasil panen.

Di tengah kebutuhan mendesak tersebut, masyarakat berharap adanya respons serius dari pemerintah daerah.

“Kami tentu berharap ada perhatian dari pemerintah, karena ini akses penting bagi masyarakat, khususnya petani,” tuturnya.

Petani setempat, Asmuddin, juga menyampaikan harapan serupa.

Menurutnya, jembatan tersebut memiliki peran krusial dalam menopang roda perekonomian warga.

“Semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan kondisi jembatan itu. Itu adalah jalan yang sering kami lalui untuk mengangkut hasil panen,” ujar Asmuddin.

Hingga kini, belum terlihat langkah nyata dari Pemkot Palopo untuk menindaklanjuti usulan pembangunan jembatan permanen.

Situasi ini menegaskan kontras antara kebutuhan masyarakat dan respons pemerintah daerah, di saat warga terus berupaya bertahan dengan keterbatasan demi menjaga akses vital tetap berfungsi.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini