Maddoja Roja Warnai Hari Jadi ke-67 Luwu, Wujud Syukur dan Komitmen Lestarikan Adat Tana Luwu
LUWU, TEKAPE.co – Pemerintah Kabupaten Luwu bersama masyarakat menggelar ritual adat Maddoja Roja di Baruga Arung Senga, Jumat malam (3/7/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-67 Kabupaten Luwu.
Tradisi sakral yang diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi simbol rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus komitmen menjaga kelestarian adat, budaya, dan nilai-nilai spiritual Tana Luwu.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Luwu Muhammad Dhevy Bijak Pawindu, Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu Muh. Rudi, Ketua DPRD Kabupaten Luwu Gazali, Kapolres Luwu, Danramil Belopa, Ketua TP PKK Kabupaten Luwu Ny. Hj. Kurniah Patahudding, Ketua Bidang I TP PKK Ny. Nila Sari, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Luwu Ny. Rafika Liakat Muh. Rudi, serta para kepala OPD.
Turut hadir pula Yang Mulia Macenning Luwu Andi Sitti Husaima, Makole Baebunta Hj. Andi Syarifah Muhaeminah, Maddika Ponrang Andi Saddawero Kira, Maddika Bua Andi Syarifuddin, Patunrung Luwu Andi Saddakayi Arsyad, Direktur Utama PT Masmindo Dwi Area, para pemangku adat, serta tamu undangan lainnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Luwu, Mulianto Taro, menjelaskan bahwa Mappacekke Wanua merupakan ritual adat yang bermakna mendinginkan negeri.
“Tradisi ini menjadi ikhtiar bersama untuk membersihkan negeri dari hal-hal buruk, memohon keselamatan, kedamaian, serta keberkahan bagi masyarakat Luwu,” ujarnya.
Ia mengatakan, rangkaian Mappacekke Wanua diawali dengan prosesi Mallekke Wai, yakni pengambilan air dari sumber mata air yang disakralkan. Selanjutnya dilaksanakan Maddoja Roja, tradisi berjaga semalam suntuk yang diisi doa, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dan zikir.
Prosesi tersebut akan dilanjutkan pada Sabtu (4/7/2026) melalui ritual Mangeppi Wai, yaitu pemercikan air suci sebagai simbol penyucian negeri sekaligus doa keselamatan bagi seluruh masyarakat.
Sementara itu, sambutan Bupati Luwu H. Patahudding yang dibacakan Wakil Bupati Muhammad Dhevy Bijak Pawindu menyampaikan bahwa Mappacekke Wanua memiliki makna mendalam sebagai ikhtiar membersihkan negeri, baik secara lahir maupun batin.
“Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mempererat hubungan antarsesama, serta memperkuat persatuan masyarakat,” ungkapnya.
Menurutnya, Maddoja Roja bukan hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur, tetapi juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Luwu memandang pelestarian adat dan budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah.
“Kemajuan Luwu harus berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas budaya, memperkuat karakter masyarakat, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda,” jelasnya.
Melalui pelaksanaan Maddoja Roja dan rangkaian Mappacekke Wanua, Pemerintah Kabupaten Luwu bersama para pemangku adat terus meneguhkan komitmennya menjaga warisan budaya sebagai jati diri Tana Luwu.
“Tradisi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah akan semakin bermakna apabila tetap berpijak pada nilai-nilai adat, spiritualitas, dan kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur,” tandasnya. (hms)






Tinggalkan Balasan