Listrik Padam Saat Akan Operasi di RSUD Bulukumba, Keluarga Pasien Kritik PLN
BULUKUMBA, TEKAPE.co – Keluhan terhadap layanan PT PLN (Persero) Bulukumba kembali mencuat setelah padamnya listrik di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba saat proses operasi pasien berlangsung.
Insiden tersebut memicu kekecewaan keluarga pasien yang menilai gangguan listrik terjadi di momen krusial.
Sappewali Kutong, warga Desa Tugondeng, Kecamatan Herlang, mengaku panik saat listrik tiba-tiba padam ketika anaknya tengah menjalani tindakan operasi di ruang bedah.
BACA JUGA: Empat Warga Luka, Polisi Perketat Pengamanan Bentrok Walenrang Luwu
“Anak saya ada di dalam, sedang mau dioperasi. Tiba-tiba listrik mati selama 2 jam mulai pukul 17:40 sebelum shalat magrib hingga shalat isya lampu baru menyala. Sebagai orang tua, siapa yang tidak panik? Ini menyangkut nyawa, bukan sekadar urusan mati lampu biasa,” ujarnya.
Ia menilai kejadian tersebut menunjukkan lemahnya kesiapan sistem kelistrikan untuk fasilitas vital seperti rumah sakit.
Menurutnya, RSUD seharusnya mendapatkan prioritas pasokan listrik tanpa gangguan, terutama di ruang operasi.
BACA JUGA: Panik Anak Dioperasi, Keluarga Pasien Malah Dibentak Satpam RSUD Bulukumba
Sappewali juga menyinggung soal tanggung jawab pihak penyedia listrik dalam menjamin stabilitas pasokan di fasilitas publik.
“Kami warga kecil hanya ingin kepastian pelayanan. PLN harusnya paham bahwa ada tempat-tempat yang tidak boleh mati lampu sedetik pun. Saya harap ini jadi evaluasi besar, jangan sampai ada korban jiwa karena masalah teknis seperti ini,” tegasnya.
Hingga saat ini, pihak RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja diketahui menggunakan sistem Automatic Transfer Switch (ATS) untuk beralih ke genset saat terjadi pemadaman listrik.
Namun, jeda waktu maupun potensi kegagalan sistem saat transisi disebut menjadi titik rawan dalam pelayanan medis.
Sementara itu, pihak PT PLN (Persero) Bulukumba belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pemadaman listrik pada waktu kejadian tersebut.
Warga berharap adanya evaluasi menyeluruh agar gangguan serupa tidak kembali terjadi, khususnya di fasilitas kesehatan yang menangani kondisi darurat dan pasien kritis.
(Sakril)





Tinggalkan Balasan