Konflik Timur Tengah Panaskan Harga Minyak, Pertamina Tahan Kenaikan BBM
JAKARTA, TEKAPE.co – PT Pertamina (Persero) menyatakan belum akan menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) meskipun harga minyak dunia tengah menanjak tajam akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.
Lonjakan harga terjadi setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah fasilitas di Iran pada akhir pekan lalu, yang kemudian diikuti kabar penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan perseroan masih mencermati dinamika tersebut bersama para pemangku kepentingan.
BACA JUGA: Khofifah Pimpin Panen Raya, Kontribusi Jagung Jatim Nyaris 30 Persen Nasional
“Penetapan tarif BBM ke depan masih dalam proses evaluasi dengan melihat perkembangan situasi,” ujarnya di Grha Pertamina, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Ia menegaskan hingga kini belum ada rencana kenaikan harga BBM, terutama untuk jenis non-subsidi.
Menurut Baron, fokus utama perusahaan saat ini adalah menjaga ketersediaan pasokan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.
BACA JUGA: 150 UMKM Ramaikan Festival Cap Go Meh Makassar 2026 di Kawasan Pecinan
“Stok dalam kondisi aman. Itu menjadi prioritas kami,” kata dia.
Baron mengakui harga minyak global telah melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok sebesar US$70 per barel.
Berdasarkan laporan Bloomberg, harga West Texas Intermediate (WTI) pada Selasa berada di atas US$71 per barel setelah melonjak lebih dari 6 persen sehari sebelumnya. Sementara itu, Brent ditutup mendekati US$78 per barel.
Di tengah lonjakan tersebut, Pertamina disebut terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk mencari sumber alternatif impor minyak mentah, terutama jika pasokan dari Timur Tengah terganggu.
Baron menyebut porsi impor crude dari kawasan itu saat ini sekitar 19 persen dari total impor.
“Alternatif sedang diproses. Kami akan menyampaikan perkembangan selanjutnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh langkah akan dilakukan sesuai prinsip tata kelola yang baik dengan mengutamakan ketahanan energi nasional.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah menyiapkan skenario mitigasi jika distribusi minyak mentah melalui Selat Hormuz terganggu.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah mengalihkan sebagian impor crude dari Timur Tengah ke Amerika Serikat.





Tinggalkan Balasan