Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Dolar Sentuh Rp 18.000, BI Sebut Arus Modal Keluar Tekan Rupiah

Ilustrasi Dollar AS (Foto: Mackenzie Marco/ Unsplash).

JAKARTA, TEKAPE.co – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini telah menembus level Rp 18.000 per dolar AS.

Bank Indonesia menilai pelemahan tersebut dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS.

BACA JUGA: Dividen BSI Naik 44 Persen, Pemegang Saham Terima Rp32,81 per Saham

Kondisi itu turut memicu kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan risiko inflasi global.

Menurut Destry, situasi tersebut mendorong investor menarik dana dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga memberi tekanan terhadap mata uang domestik.

“Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN),” ujar Destry dalam keterangan tertulis, Jumat (5/6/2026).

Ia menjelaskan, tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri berasal dari aktivitas korporasi, terutama untuk pemulangan dividen ke luar negeri serta pembayaran kewajiban utang dalam valuta asing.

Meski demikian, Destry menegaskan pelemahan rupiah bukan hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah mata uang di kawasan regional juga mengalami tekanan akibat sentimen global yang sama.

“Secara umum, pelemahan Rupiah juga masih sejalan dengan regional, secara YTD melemah 7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026,” ujar Destry.

Bank Indonesia, kata dia, akan terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap bergerak sesuai fundamental ekonomi nasional.

Selain intervensi di pasar, bank sentral juga berupaya memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang dinilai lebih menarik bagi pelaku pasar.

Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga arus modal asing tetap masuk ke instrumen keuangan domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian global. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini