oleh

Belum Ditemukan di Palopo, Dinkes Intens Sosialisasi Bahaya Difteri

PALOPO, TEKAPE.co — Penyakit difteri yang mewabah di Indonesia menjadi perhatian khusus Dinas Kesehatan (Dinkes) Palopo.

Pasalnya, penyakit ini telah banyak ditemukan di beberapa daerah. Daftar kasus difteri terus meningkat hingga mencapai ratusan di berbagai daerah. Bahkan sampai ada yang meninggal dunia.

Terkait hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Palopo, mengklaim saat ini di daerah Kota Palopo belum ditemukan penyakit difteri, dan tidak ada laporan mengenai hal itu.

Hal itu ditegaskan Kadis Kesehatan Kota Palopo, Dr dr HM Ishak Iskandar, MKes, 15 January 2018. dr Ishak mengatakan, meski belum ada temuan kasus difteri, pihaknya terus melakukan sosialisasi terhadap penyakit tersebut.

“Penyakit difteri ini sudah menyebar di berbagai daerah. Jadi kami terus lakukan sosialisasi kepada masyarakat agar masyarakat tahu gejala dan bahaya dari penyakit ini. Dan Alhamdulillah sampai saat ini belum ada laporan dari rumah sakit dan puskesmas mengenai kasus ini,” sebutnya.

Menurutnya, penyakit difteri ini adalah penyakit yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat mempengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

“Jenis penyakit ini dapat menular melalui saluran pernapasan, batuk, dan udara yang terlalu dingin. Dan penyakit ini sangat rentan menyerang anak-anak, karena daya kekebalan tubuh mereka yang rendah, sehingga mereka harus diimunisasi dengan lengkap,” jelasnya.

Lanjutnya, jika masyarakat telah terkena gelaja dari penyakit difteri ini diharapkan untuk segera membawahnya ke puskesmas atau ke rumah sakit agar mendapatkan penangangan langsung.

Adapun gelaja dari penyakit difteri ini adalah terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel. Demam disertai menggigil, sakit tenggorokan yang menyebabkan suara serak, sulit bernapas atau napas yang cepat, pembengkakan kelenjar limfe pada leher, lemas dan lelah, pilek awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

”Adapun untuk pencegahan terhadap penyakit ini yaitu jika batuk dan bersin selalu menggunakan etika batuk dan bersin seperti menutup mulut ketika batuk dan bersin. Pemberian imunisasi yang rutin terhadap anak-anak baik melalui puskesmas, posyandu bahkan imunisasi di setiap sekolah,” sebutnya.

Ia melanjutkan, antisipasi pada intinya harus melakukan pola hidup sehat dan rutin melakukan imunisasi serta pemberian serum anti bakteri terhadap orang dewasa.

Dia menambahkan, sosialisasi tentang difteri sudah rutin dan lama dilakukan di berbagai posyandu, puskesmas dan rumah-rumah sakit.

“Untuk jadwal sosialisasinya di berbagai Posyandu, Puskesmas, rumah sakit-rumah sakit dan di sekolah-sekolah sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan tergantung dari keadaan dan kondisi,” tandasnya. (*)

Komentar

Berita Terkait