Tekape.co

Jendela Informasi Kita

OPINI: Tidak Ada Tabungan Masa Depan

ilustrasi (AI)

Penulis: Ilham (Pegiat Media Sosial)

OPINI, TEKAPE.co – Hari-harinya dijalani dengan sederhana. Apa yang diperoleh hari ini, itulah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hari ini. Soal esok, menurutnya, akan dipikirkan ketika waktunya tiba. Tidak ada tabungan untuk masa depan, tidak ada investasi, bahkan tidak ada dana cadangan. Yang ada hanyalah rasa syukur atas apa yang masih bisa dinikmati saat ini.

Begitulah curahan hati seorang kawan yang saya dengarkan dalam sebuah perjalanan. Di sela perjalanan menuju suatu tempat, ia bercerita tentang hidup, pekerjaan, dan kondisi ekonomi yang semakin sulit ia hadapi.

Kawan saya bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan yang telah kolaps. Perusahaan tersebut sebelumnya mempekerjakan ribuan orang, namun kini sebagian besar karyawannya telah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Berbagai aset perusahaan bahkan dikabarkan telah menjadi jaminan di bank. Beruntung, ia masih dipertahankan sebagai tenaga keamanan, mungkin untuk menjaga aset-aset yang masih tersisa di lokasi perusahaan.

Ia mengenang suasana tempat kerjanya yang dahulu ramai dan penuh aktivitas. Kini, kawasan yang luas itu terasa sunyi. Tidak jarang ia harus berjaga seorang diri dalam keheningan yang panjang. Namun, menurutnya, kesunyian di tempat kerja tidak sesepi kondisi ekonomi yang sedang ia rasakan.

“Yang penting hari ini bisa makan bersama anak. Soal besok, besok lagi dipikirkan. Tidak ada tabungan masa depan,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Ucapan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kenyataan yang tidak ringan. Ia kemudian menyinggung cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki tabungan hingga miliaran rupiah.

Bahkan, menurutnya, ada anak-anak pengusaha besar yang masih berusia sekitar 20 tahun namun telah memiliki kekayaan bernilai miliaran hingga triliunan rupiah. Sementara dirinya, yang telah bekerja selama puluhan tahun, tidak memiliki tabungan sama sekali.

“Tabungan saya nol rupiah,” katanya sambil tertawa, meski di balik tawa itu tersimpan kepasrahan yang sulit disembunyikan.

Ia mengaku menerima gaji setara upah minimum regional (UMR). Namun, penghasilan tersebut hampir selalu habis untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga, biaya pendidikan anak, serta berbagai kebutuhan sehari-hari yang terus meningkat. Pada akhir bulan, nyaris tidak ada sisa yang bisa disimpan.

Menurutnya, kondisi tersebut menggambarkan ketimpangan ekonomi yang masih lebar di Indonesia. Di satu sisi, ada kelompok masyarakat yang mampu mengakumulasi kekayaan dalam jumlah sangat besar. Di sisi lain, masih banyak pekerja yang harus berjuang hanya untuk memastikan dapur tetap mengepul hingga akhir bulan.

Ia tidak sedang iri kepada mereka yang lebih beruntung. Ia hanya mempertanyakan mengapa kerja keras yang dilakukan selama puluhan tahun belum mampu memberinya rasa aman secara finansial. Namun, setiap kali pertanyaan itu muncul, ia memilih mengembalikannya kepada keyakinannya tentang takdir.

“Mungkin ini sudah menjadi jalan hidup yang Tuhan berikan kepada saya. Jadi saya cukup bersyukur saja,” tuturnya.

Percakapan singkat itu meninggalkan kesan mendalam. Di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi yang sering dibanggakan, masih ada banyak orang yang hidup tanpa jaminan hari esok. Mereka bekerja keras, menjalankan kewajiban, membesarkan anak-anak, dan tetap berusaha tersenyum meski tidak memiliki tabungan untuk menghadapi masa depan.

Kisah kawan saya mengingatkan bahwa kemiskinan tidak selalu lahir dari kemalasan, sebagaimana kekayaan tidak selalu semata-mata hasil kerja keras. Ada faktor kesempatan, akses, warisan ekonomi, pendidikan, dan kebijakan yang turut menentukan nasib seseorang.

Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah bangsa seharusnya bukan hanya berapa banyak orang yang berhasil menjadi sangat kaya, melainkan seberapa banyak warga yang mampu hidup layak, memiliki harapan, dan menatap masa depan tanpa rasa cemas.

Pada akhirnya, yang paling menyentuh dari kisah ini bukanlah tentang tabungan yang kosong, melainkan tentang keteguhan hati seorang ayah yang tetap bekerja, tetap bertahan, dan tetap bersyukur di tengah keterbatasan. Sebab bagi sebagian orang, tabungan terbesar bukanlah angka yang tersimpan di rekening, melainkan kemampuan untuk terus berdiri dan berharap, meski kehidupan berkali-kali mengajarkan arti kehilangan.

Di akhir perbincangan, kawan saya menyampaikan kalimat yang sederhana, tetapi sarat makna. Kalimat itu seolah menjadi pegangan hidupnya dalam menghadapi ketidakpastian yang terus membayangi. Dengan suara tenang dan wajah yang tetap menyimpan senyum, ia berkata, “Kita jalani kehidupan dengan rasa sabar, ikhlas, bersyukur, dan selalu berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa.”

Ucapan tersebut mengandung pelajaran yang mendalam. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, ketika tabungan masa depan tidak dimiliki dan hari esok masih penuh tanda tanya, ia memilih untuk tetap menjaga harapan. Bukan dengan kemewahan atau kepastian finansial, melainkan dengan kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, serta keyakinan bahwa selalu ada pertolongan Tuhan bagi mereka yang terus berusaha dan tidak berhenti berdoa. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini