OPINI: Pancasila dalam Perbuatan
Wahyu Hidayat
Dosen Universitas Cokroaminoto Palopo
Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 Tingkat Provinsi Kalimantan Barat menjadi perhatian publik di media sosial. Lomba ini semestinya menjadi ruang untuk menguji pengetahuan peserta tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Namun beberapa waktu terakhir, publik justru lebih ramai membicarakan kontroversi penilaian dewan juri daripada substansi nilai yang diperlombakan.
Perdebatan muncul ketika keputusan juri dianggap tidak adil. Publik menyoroti adanya pengurangan poin terhadap regu dari SMA Negeri 1 Pontianak meskipun jawaban mereka dinilai benar, sementara jawaban serupa pada kesempatan lain justru diberi poin penuh. Situasi ini memantik reaksi luas di media sosial. Banyak netizen menyerang dewan juri, bahkan pembawa acara. Emosi publik meledak. Kekecewaan berubah menjadi kemarahan kolektif.
Saya tentu tidak dalam posisi membela dewan juri. Bagaimanapun, memang ada kekeliruan yang menimbulkan kekecewaan publik. Kritik terhadap penyelenggaraan lomba adalah sesuatu yang wajar dalam negara demokrasi. Namun di titik inilah sebenarnya kita sedang diuji, apakah kita mampu tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila ketika berada dalam situasi yang memancing emosi?
Karena itu, sudah saatnya polemik ini dihentikan. Jangan sampai lomba yang membawa nama Empat Pilar justru melahirkan ruang saling menghina dan memperuncing permusuhan. Mari kita belajar dari sikap SMA Negeri 1 Pontianak yang memilih legowo dan berbesar hati. Sikap seperti inilah yang justru memperlihatkan kedewasaan moral dan kebangsaan.
Di tengah suasana panas itu, justru hadir pelajaran paling penting dari seluruh peristiwa tersebut. Sikap besar hati yang ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Pontianak untuk menolak final ulang dan tetap mengakui kemenangan SMA Negeri 1 Sambas adalah inti paling luhur dari Pancasila itu sendiri.
Di situlah kita melihat bahwa Pancasila tidak selalu hadir dalam pidato panjang, slogan, atau hafalan pasal demi pasal. Pancasila justru tampak nyata ketika manusia mampu mengendalikan ego, menghormati orang lain, dan menjaga persatuan di tengah situasi yang berpotensi memecah belah. Kita menyebut sikap itu sebagai Pancasila dalam perbuatan.
Selama ini, kita terlalu sering menjadikan Pancasila sekadar materi lomba, bahan ujian, atau hafalan di ruang kelas. Anak-anak diajak mengingat bunyi sila demi sila, tetapi sering kali tidak diajak memahami bagaimana nilai itu hidup dalam tindakan sehari-hari. Padahal esensi Pancasila bukan berada pada kemampuan mengucapkannya, melainkan pada kemampuan mengamalkannya.
Sebagai dosen di Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, saya sering menyampaikan kepada mahasiswa di kelas bahwa nilai Pancasila bukan sekadar dihafalkan. Jika Pancasila hanya berhenti pada hafalan, maka ia mudah diucapkan tetapi sulit diwujudkan. Orang bisa sangat fasih berbicara tentang persatuan, tetapi mudah menghina orang lain di media sosial. Orang bisa berbicara tentang keadilan sosial, tetapi gemar menjatuhkan sesama. Orang bisa mengutip nilai kemanusiaan, tetapi kehilangan empati ketika berbeda pandangan.
Karena itu, kejadian dalam lomba tersebut sebenarnya menjadi ujian bagi kita semua, apakah kita benar-benar memahami Pancasila, atau hanya memahami teks tentang Pancasila?
Ketika publik ramai menyerang juri dan saling menghujat, kita sebenarnya sedang diuji oleh nilai kemanusiaan dan persatuan. Ketika ada pihak yang memilih menahan ego demi menjaga suasana tetap kondusif, di situlah nilai musyawarah, kebesaran hati, dan persaudaraan bekerja.
Pancasila memang tidak pernah diuji pada saat keadaan tenang. Nilainya justru tampak ketika manusia berada dalam situasi panas, kecewa, dan merasa dirugikan. Dalam keadaan seperti itu, orang bisa memilih memperbesar konflik atau memilih menjaga persatuan. Dan sikap SMA 1 Pontianak menunjukkan kedewasaan yang patut diapresiasi.
Mereka bisa saja terus memperpanjang polemik. Mereka bisa saja menuntut dengan keras, memperbesar tekanan publik, atau membiarkan kemarahan terus menyala. Namun keputusan untuk menerima hasil dan tetap menghormati SMA 1 Sambas sebagai juara menunjukkan bahwa kemenangan sejati tidak selalu berbentuk trofi. Kadang kemenangan terbesar adalah kemampuan menjaga martabat dan persaudaraan.
Sikap ini juga mengingatkan kita bahwa kompetisi tidak boleh menghilangkan nilai kemanusiaan. Dalam dunia hari ini, banyak orang terlalu terobsesi pada kemenangan hingga lupa cara menghargai orang lain. Kita hidup di tengah budaya yang sering mengajarkan bahwa menang adalah segalanya, bahkan jika harus menjatuhkan pihak lain. Akibatnya, ruang publik menjadi penuh kebisingan, kemarahan, dan saling serang.
Di sinilah Pancasila seharusnya kembali dihadirkan, bukan sebagai simbol kosong, tetapi sebagai etika hidup bersama.
Kita perlu mengajarkan generasi muda bahwa nasionalisme bukan hanya berdiri tegak saat upacara. Nasionalisme juga tampak ketika seseorang mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan dan konflik. Keadilan bukan hanya slogan di podium, tetapi juga keberanian bersikap bijaksana ketika keadaan tidak ideal. Kemanusiaan bukan hanya konsep dalam buku pelajaran, tetapi kemampuan menahan diri untuk tidak merendahkan orang lain.
Peristiwa ini akhirnya menjadi pengingat bahwa bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kurang adalah keteladanan dalam bersikap. Dan mungkin, di tengah riuh kontroversi lomba tersebut, pelajaran terbesar justru lahir bukan dari siapa yang paling banyak menjawab soal, melainkan dari siapa yang paling mampu menunjukkan nilai Pancasila dalam tindakan nyata. (*)





Tinggalkan Balasan