61.169 Gen Z Bekerja di Kawasan IMIP Morowali, Lulusan SMA/SMK Mendominasi

Sejumlah pekerja dari kalangan Generasi Z beraktivitas di kawasan industri PT IMIP, Morowali, Sulawesi Tengah. Gen Z mendominasi tenaga kerja di kawasan tersebut dengan jumlah 61.169 orang atau 60,06 persen dari total karyawan. (ist)

MOROWALI, TEKAPE.co – Generasi Z mendominasi komposisi tenaga kerja di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Tercatat sebanyak 61.169 pekerja atau 60,06 persen dari total karyawan di kawasan industri berbasis pengolahan mineral nikel tersebut berasal dari kelompok usia muda.

Besarnya jumlah pekerja Gen Z ini menunjukkan industri hilirisasi mineral menjadi salah satu sektor yang membuka peluang kerja bagi angkatan kerja produktif, sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk membangun pengalaman dan mengembangkan karier.

Berdasarkan rekapitulasi Departemen HR PT IMIP per 24 Oktober 2026, jumlah keseluruhan karyawan di kawasan tersebut mencapai 101.846 orang.

BACA JUGA: Wakil Ketua II DPRD Dorong Penguatan Regulasi dan Anggaran Perlindungan Perempuan dan Anak di Lutim

Dari jumlah itu, pekerja berusia 17-29 tahun atau kategori Gen Z mendominasi dengan 61.169 orang (60,06 persen).

Sementara itu, kelompok milenial berusia 30-45 tahun tercatat sebanyak 38.750 orang atau 38,05 persen. Adapun pekerja berusia 46 tahun ke atas atau Gen X mencapai 1.927 orang atau sekitar 1,89 persen.

Media Department Head PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan dominasi pekerja usia muda tersebut mencerminkan besarnya keterlibatan generasi muda dalam aktivitas industri.

BACA JUGA: Krisis Ekonomi Menghantam Keluarga, Bupati Delis Tantang Bapak GKST Jadi Teladan

Menurutnya, peran mereka tidak hanya terlihat pada operasional produksi, tetapi juga mencakup berbagai fungsi pendukung di lingkungan kawasan industri.

Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa sektor industri dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperoleh pengalaman profesional dan meningkatkan kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja.

“Jika dilihat dari jenjang pendidikan, lulusan SMA/SMK 64,77 persen atau 65.965 pekerja, Diploma 4,68 persen atau 4.766 pekerja, untuk lulusan S1 sebanyak 28,10 persen atau berjumlah 28.623 pekerja. Sementara di jenjang SD, SLTP dan Pascasarjana, ada 2,45 persen atau berjumlah 2.492 pekerja,” jelas Dedy Kurniawan, Kamis (5/11/2026).

Lulusan SMA/SMK Paling Banyak Terserap

Data pendidikan tersebut menunjukkan lulusan SMA/SMK menjadi kelompok terbesar yang bekerja di kawasan IMIP, dengan jumlah mencapai 65.965 orang atau 64,77 persen dari total karyawan.

Posisi berikutnya ditempati lulusan sarjana (S1) sebanyak 28.623 orang atau 28,10 persen. Kemudian lulusan Diploma sebanyak 4.766 orang atau 4,68 persen.

Sementara pekerja dengan latar belakang pendidikan SD, SLTP, dan pascasarjana secara keseluruhan berjumlah 2.492 orang atau 2,45 persen.

Dedy menjelaskan, kesempatan bekerja di sektor industri tidak hanya berkaitan dengan penghasilan. Lebih dari itu, lingkungan kerja industri dapat menjadi tempat bagi generasi muda untuk membangun kedisiplinan, mengasah kemampuan teknis, memahami standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga meningkatkan kemampuan berkolaborasi dalam tim.

Meski peluang kerja semakin terbuka, kesiapan calon tenaga kerja tetap menjadi faktor penting.

Perkembangan teknologi dan proses produksi di sektor industri menuntut pekerja memiliki kemampuan beradaptasi, kemauan untuk terus belajar, serta pemahaman terhadap prosedur operasional.

Karena itu, pendidikan, pelatihan vokasi, dan pengalaman praktik dinilai menjadi bekal penting untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi para pencari kerja.

Tenaga Kerja Lokal Perlu Tingkatkan Kompetensi

Di sisi lain, pertumbuhan industri di Morowali juga membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan partisipasi dalam kegiatan ekonomi.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya tenaga kerja lokal, menjadi salah satu hal penting agar masyarakat setempat dapat mengambil bagian dalam perkembangan industri di daerahnya.

IMIP sebagai kawasan industri pengolahan dan hilirisasi mineral menjadi salah satu lingkungan kerja yang menampung tenaga kerja dari berbagai latar belakang pendidikan dan kelompok usia.

Besarnya proporsi Gen Z di kawasan tersebut memperlihatkan bahwa generasi muda telah mengambil peran signifikan dalam aktivitas industri.

Dedy menegaskan, tantangan ke depan bukan hanya memperluas kesempatan kerja, tetapi juga memastikan tenaga kerja muda memiliki kemampuan yang memadai, mendapatkan lingkungan kerja yang aman, serta memperoleh kesempatan untuk berkembang secara profesional.

“Ke depan, tantangan yang perlu dijawab bukan hanya memperluas kesempatan kerja, tetapi juga memastikan tenaga kerja muda memiliki kompetensi memadai, berada pada lingkungan kerja aman, dan mempunyai kesempatan berkembang secara profesional,” ujarnya.

Ia berharap, kehadiran IMIP dapat menjadi salah satu jalan bagi generasi muda untuk meningkatkan kualitas hidup sekaligus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan penguatan industri nasional.

“Keberadaan IMIP diharapkan dapat menjadi jalan bagi generasi muda untuk meningkatkan kualitas hidup sekaligus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan penguatan industri nasional,” pungkas Dedy. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini