58 Tahun di Tepian Matano: Menjaga Air, Merawat Kehidupan

Panorama Danau Matano yang direkam dari atas perahu rap, akhir Juli 2026. (dok tekape.co)

MENJAGA air, berarti merawat kehidupan. Selama 58 tahun industri nikel berdenyut di Sorowako, menghadirkan tantangan, sekaligus tanggung jawab untuk menjaga air, hutan, spesies endemik, dan kehidupan masyarakat tetap berjalan beriringan.

Laporan: Abd Rauf
*Wartawan Tekape.co, melaporkan dari Sorowako

“Masih jernih ya?”

Pertanyaan itu terlontar spontan dari Yudono Yanuar Akhmadi, wartawan senior Tempo yang juga menjadi bagian dari tim Tempo Institute, ketika kami singgah di tepian Danau Matano, akhir Juli 2026 lalu.

Saat itu, rombongan baru saja menyelesaikan perjalanan mengelilingi sebagian kawasan danau, dengan menggunakan perahu rap, melalui pintu Matano Yacht Club.

Sejak pagi, rombongan wartawan telah dijemput menggunakan bus listrik PT Vale Indonesia. Bus berkapasitas 48 penumpang itu membawa kami berkeliling Sorowako.

Penggunaan bus listrik tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya perusahaan untuk menekan emisi karbon, sekaligus menerapkan praktik operasional yang lebih ramah lingkungan.

Tujuan pertama kami adalah Danau Matano.

Dua perahu rap berkapasitas masing-masing 25 orang telah menunggu di tepian. Tak lama kemudian, kedua perahu itu bergerak perlahan, membawa rombongan menyusuri danau purba yang dikelilingi perbukitan.

Dari atas perahu, Sorowako terlihat dalam dua wajah.

Di satu sisi, bentang alam hijau dan permukiman masyarakat membingkai danau. Di sisi lain, tampak beberapa kawasan perbukitan yang telah menjadi bagian dari aktivitas pertambangan.

Sebuah kontras yang sulit dihindari.

Danau Matano berada begitu dekat dengan denyut industri nikel. Aktivitas pertambangan telah berlangsung di kawasan Sorowako selama 58 tahun. Namun, kejernihan air danau itu masih menjadi pemandangan pertama yang menyambut siapa pun yang datang menyusurinya.

Danau Matano sendiri memiliki panjang sekitar 28 kilometer dan lebar delapan kilometer. Kedalamannya mencapai sekitar 590 meter.

Permukaan danau berada pada ketinggian sekitar 382 meter di atas permukaan laut. Danau ini dikenal sebagai danau terdalam di Asia Tenggara, sekaligus 10 besar danau terdalam di dunia.

Perjalanan kami sempat menuju salah satu gua purba. Namun, saat rombongan tiba, mulut gua tertutup oleh air.

Perahu kemudian berputar arah.

Kami kembali menyusuri danau, menuju kawasan permukiman masyarakat dan perbukitan yang mengelilingi Matano.

Pemandangan itu kembali memperlihatkan hubungan yang begitu dekat antara kehidupan masyarakat, alam, dan aktivitas industri yang telah menjadi bagian dari sejarah Sorowako.

Penampakan air di tepian Danau Matano. (dok tekape.co)

Namun, menjaga Danau Matano bukan hanya soal memastikan air tetap jernih.

Di bawah permukaannya, danau ini menyimpan kehidupan yang tidak ditemukan di banyak tempat lain.

Salah satunya adalah ikan butini atau glossogobius matanensis, spesies endemik Danau Matano yang populasinya kini menghadapi berbagai ancaman.

Keberadaan ikan invasif seperti louhan dan sapu-sapu menjadi salah satu persoalan bagi keberlangsungan spesies endemik di danau tersebut.

Data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan mencatat Danau Matano memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Di danau ini terdapat berbagai spesies endemik, mulai dari puluhan jenis ikan, udang air tawar, diatom, gastropoda hingga kepiting air tawar.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah ikan purba butini.

Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk menjaga keberadaan spesies tersebut.

Senior Coordinator PTPM Livelihood PT Vale Indonesia, Sainab Husain Paragay, mengatakan perusahaan terus melakukan konservasi Danau Matano. Salah satunya melalui identifikasi dan penghitungan populasi ikan butini.

Di sisi lain, upaya pengendalian ikan invasif juga dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk komunitas penyelam.

Komunitas tersebut ikut memburu ikan louhan dan sapu-sapu yang keberadaannya dikhawatirkan mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam spesies endemik.

Namun, Sainab mengakui pekerjaan menjaga ekosistem Danau Matano tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Upaya konservasi, kata dia, masih membutuhkan evaluasi dan peningkatan secara berkelanjutan.

Upaya menjaga Danau Matano juga datang dari pemerintah daerah.

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur saat ini tengah mendorong pengusulan Geopark Matano menuju status Geopark Nasional.

Salah satu langkah yang sedang dilakukan adalah percepatan penetapan keragaman geologi atau geodiversity Matano sebagai warisan geologi atau geoheritage.

Penetapan tersebut menjadi salah satu syarat penting dalam pengusulan kawasan Geopark Matano.

Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, dalam sejumlah kesempatan menegaskan, pemerintah daerah terus berupaya memenuhi berbagai persyaratan yang dibutuhkan agar Geopark Matano dapat memperoleh pengakuan di tingkat nasional.

“Ini bagian dari upaya kami dalam menjaga Danau Matano,” ujarnya.

Lebih dari sekadar status, geopark diharapkan menjadi instrumen untuk menjaga kekayaan geologi, lingkungan, sekaligus budaya masyarakat di kawasan Matano.

Namun, perjalanan menjaga kehidupan Danau Matano ternyata tidak berhenti di tepian danau.

Dari Matano, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Politeknik Sorowako atau Poliwako, kampus binaan PT Vale Indonesia, yang sebelumnya dikenal sebagai Akademi Teknik Sorowako.

Di kampus itu, kami melihat bagaimana pendidikan dikaitkan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Salah satu program yang menarik perhatian adalah kewajiban bagi mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan untuk menghasilkan teknologi tepat guna, yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Salah satunya berupa mesin pembuat pakan.

Mesin tersebut digunakan untuk mengolah limbah ikan invasif hasil tangkapan komunitas menjadi pakan.

Dengan demikian, ikan invasif yang diburu dari Danau Matano tidak hanya dibuang, tetapi dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Sebuah teknologi sederhana yang menghubungkan dunia pendidikan dengan upaya menjaga ekosistem.

Direktur Poliwako, Harjuma, mengatakan syarat tersebut telah diterapkan dalam beberapa tahun terakhir.

Bagi mahasiswa, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ada tuntutan agar pengetahuan yang diperoleh dapat kembali memberi manfaat kepada masyarakat.

“Inovasi yang dibuat kelompok mahasiswa ini kemudian wajib diserahkan ke kelompok masyarakat untuk digunakan,” katanya.

Dari Poliwako, perjalanan berlanjut ke Lamella Gravity Settler atau LGS.

Di tempat inilah kami melihat salah satu bagian dari sistem pengelolaan air sebelum air dilepas ke lingkungan.

Rombongan diterima oleh Supervisor Mine Infrastructure PT Vale Indonesia, Aris Kallolangi, bersama Supervisor Hydrology and Compliance PT Vale Indonesia, Andi Burhanuddin.

Burhanuddin menjelaskan, sistem tersebut terintegrasi dengan 11 titik sediment pond atau kolam pengendapan.

LGS menjadi bagian dari sistem pengelolaan air untuk mengendalikan sedimen dan menjaga kualitas air sebelum dialirkan.

“LGS ini berfungsi sejak 2016. Keunggulannya, satu banding 10 jika dibandingkan dengan pond biasa. Namun, biaya perawatannya memang lebih mahal,” kata Burhanuddin.

Sebelum masuk ke LGS, air lebih dahulu melewati kolam retensi dengan kapasitas sekitar 4.000 meter kubik per jam dan kedalaman sembilan meter.

Proses tersebut menjadi bagian dari sistem pengolahan air yang dilakukan secara berlapis.

Burhanuddin mengatakan kualitas air terus dipantau.

“Air itu normalnya memiliki pH antara 6 sampai 9. Hasil dari LGS berada di angka 7 pH,” ujarnya.

Di balik kejernihan Danau Matano yang terlihat dari permukaan, terdapat sistem yang bekerja untuk mengelola air dari kawasan operasi.

Namun, menjaga lingkungan tidak hanya dilakukan melalui teknologi pengolahan air.

Seorang karyawan Nursery PT Vale Indonesia di Sorowako merawat salah satu tanaman, akhir Juli 2026. (dok tekape.co)

Perjalanan kami kemudian berlanjut ke Nursery PT Vale.

Di kawasan seluas sekitar 15 hektare itu, ribuan bibit tanaman dipersiapkan untuk mendukung kegiatan reklamasi dan penghijauan.

Dari papan informasi yang terpasang di lokasi, kapasitas produksi nursery mencapai sekitar 700.000 bibit per tahun.

Puluhan jenis tanaman dikembangkan, mulai dari tanaman lokal berdaur pendek dan panjang hingga tanaman eksotis dan tanaman multiguna.

Secara keseluruhan, terdapat 74 jenis tanaman lokal yang dikembangkan di kawasan nursery tersebut.

Bibit-bibit itu nantinya digunakan untuk mendukung reklamasi kawasan pascatambang. Sebagian juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penghijauan lainnya.

Di kawasan yang sama, terdapat pula penangkaran satwa.

Sebanyak 20 ekor rusa dipelihara di sana. Tak jauh dari kandang rusa, terdapat seekor anoa jantan.

Anoa, yang dikenal sebagai kerbau kerdil endemik Sulawesi, menjadi salah satu satwa yang mendapat perhatian dalam upaya konservasi.

Meski demikian, upaya pengembangbiakan masih menghadapi tantangan karena belum tersedia pasangan betina untuk anoa tersebut.

Komitmen menjaga air dan lingkungan di Sorowako memiliki arti yang lebih luas.

Operasi PT Vale di kawasan ini ditopang oleh tiga Pembangkit Listrik Tenaga Air, yakni PLTA Larona, Balambano, dan Karebbe.

Ketiganya memanfaatkan sistem aliran Sungai Larona yang terhubung dengan Danau Matano, Mahalona, dan Towuti.

Total kapasitas terpasang dari ketiga pembangkit tersebut mencapai 365 megawatt.

Energi yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk mendukung operasi dan pengolahan nikel.

Sebagian listrik juga disalurkan ke jaringan PT PLN untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.

Sebanyak 10,7 megawatt listrik disalurkan untuk mendukung pasokan listrik di Kabupaten Luwu Timur.

Di Sorowako, air bukan sekadar bagian dari lanskap.

Air menghidupkan pembangkit listrik. Air mengalir ke sungai. Air menjadi ruang hidup bagi ikan-ikan endemik. Air juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang telah tinggal di tepian Danau Matano jauh sebelum industri tumbuh di kawasan ini.

Karena itu, menjaga Danau Matano berarti menjaga lebih dari sekadar kejernihan air. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini