Mahasiswa Protes Krisis Air, Demo di Kantor Perumda TM Palopo Berujung Dugaan Penganiayaan

Tangkapan layar video yang memperlihatkan kericuhan antara mahasiswa GAM Luwu Raya dan sejumlah pegawai Perumda TM Palopo saat aksi demonstrasi, Senin (2/11/2026).

PALOPO, TEKAPE.co – Aksi demonstrasi Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) Luwu Raya di Kantor Perumda Tirta Mangkaluku (TM) Kota Palopo, Sulawesi Selatan, berakhir ricuh, Senin (2/11/2026).

Kericuhan tersebut terekam dalam video yang beredar. Dalam rekaman itu, terlihat sejumlah mahasiswa terlibat keributan hingga diduga menjadi korban penganiayaan oleh pegawai Perumda TM Palopo.

Ketua GAM Luwu Raya, Ahmad Hanifullah, mengungkapkan, aksi tersebut digelar untuk menyuarakan dua tuntutan, yakni evaluasi jajaran direksi Perumda TM serta pemberian kompensasi kepada pelanggan yang terdampak gangguan distribusi air bersih.

BACA JUGA: MDA Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis di Latimojong, Ribuan Warga Terlayani

Menurut Ahmad, tuntutan tersebut merupakan bentuk keresahan mahasiswa terhadap kondisi pelayanan air bersih di Palopo, terutama saat masyarakat menghadapi kekeringan.

“Kami datang menuntut agar adanya kompensasi pembayaran. Kita ketahui saat ini semenjak kekeringan air tidak jalan, dan kami meminta adanya kompensasi untuk pelanggan di situ,” kata Ahmad kepada awak media, Senin (2/11/2026).

Dia menjelaskan, sebelum kericuhan terjadi, massa aksi terlebih dahulu menggelar orasi dan teatrikal menggunakan ember serta timba sebagai simbol protes terhadap pelayanan air bersih.

BACA JUGA: Pemkab Lutim Kalahkan Tuan Rumah Luwu di Laga Eksebisi, Bupati Irwan Canangkan Digelar Bergilir di Luwu Raya

Namun, situasi disebut mulai memanas setelah seorang pegawai Perumda TM diduga menendang ember yang digunakan mahasiswa dalam aksi teatrikal tersebut.

“Jadi kami awalnya datang dan orasi sembari kami melakukan teatrikal dengan menggunakan ember dan timba sebagai bahan teatrikalnya,” ujarnya.

“Namun baru sekitar tiga orator yang menyampaikan aspirasinya, tiba-tiba seorang pegawai datang menendang ember teatrikal massa,” sambungnya.

Meski demikian, massa tetap melanjutkan aksi dengan membakar ban di sekitar lokasi demonstrasi.

Ahmad menyebut, tidak lama setelah pembakaran ban, sejumlah pegawai Perumda TM mendatangi massa aksi hingga terjadi aksi saling dorong yang kemudian berujung pemukulan.

Akibat insiden tersebut, sekitar 10 mahasiswa diklaim menjadi korban. Beberapa di antaranya mengalami memar di bagian wajah hingga bekas cakaran pada leher.

“Sekitar 10 massa aksi yang dipukul, bahkan ada yang memar di wajah dan bekas cakar di leher,” beber Ahmad.

GAM Luwu Raya mengaku telah melakukan visum terhadap mahasiswa yang mengalami luka. Mereka juga berencana membawa persoalan tersebut ke ranah hukum dengan melaporkannya ke Polres Palopo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini