Tekape.co

Jendela Informasi Kita

UMKM Palopo Dihadapkan pada Pilihan: Beradaptasi dengan Digital atau Kehilangan Daya Saing

Yuyun Angraeni dan Naila Nur Fatimah, mahasiswa Prodi akuntansi FEB Universitas Muhammadiyah Palopo. (ist)

PALOPO, TEKAPE.co – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berbelanja, bertransaksi, hingga mencari informasi mengenai suatu produk.

Perubahan tersebut menghadirkan tantangan baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), termasuk di Kota Palopo, yang dituntut mampu beradaptasi agar tetap bertahan di tengah persaingan.

Di satu sisi, kemajuan teknologi membuka peluang pasar yang lebih luas. Namun di sisi lain, masih banyak pelaku UMKM yang menjalankan usahanya secara konvensional sehingga kesulitan mengikuti perubahan perilaku konsumen yang kini semakin mengandalkan platform digital.

BACA JUGA: Tak Mau Antre di Bengkel? Begini Cara Booking Servis Motor Honda Lewat MotorkuX

Sebagai salah satu sektor penopang perekonomian daerah, keberadaan UMKM dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, kemampuan pelaku usaha memanfaatkan teknologi menjadi faktor yang menentukan daya saing mereka di masa depan.

Yuyun Angraeni, mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palopo ini menilai digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan menjadi strategi agar UMKM mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah perubahan.

BACA JUGA: 67 Sekolah Swasta Gratis Disiapkan Appi untuk Tampung Siswa Tak Lolos SPMB

“Transformasi digital bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi merupakan upaya agar UMKM mampu bertahan, berkembang, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa penerapan teknologi harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi digital, kemampuan mengelola keuangan, serta komitmen menjalankan usaha secara jujur, transparan, dan bertanggung jawab.

Fenomena pergeseran perilaku konsumen juga dinilai menjadi alasan mengapa pelaku UMKM perlu memperkuat kehadiran di ruang digital.

Saat ini masyarakat lebih banyak mencari produk melalui media sosial, marketplace, maupun mesin pencari sebelum memutuskan melakukan pembelian.

Akibatnya, produk berkualitas yang belum dipasarkan secara digital berpotensi kalah bersaing dibandingkan produk lain yang lebih aktif memanfaatkan teknologi untuk promosi.

Selain aspek pemasaran, persoalan pengelolaan keuangan juga masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku usaha.

Masih banyak UMKM yang mencatat transaksi secara manual atau bahkan tidak memiliki pencatatan keuangan sama sekali.

Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat pelaku usaha dalam menghitung keuntungan, menentukan harga jual, hingga menyusun strategi pengembangan usaha.

Padahal, berbagai aplikasi pencatatan keuangan digital kini tersedia secara gratis dan mudah diakses melalui telepon pintar.

Dalam mendorong transformasi tersebut, konsep Socio-technopreneur dinilai menjadi pendekatan yang relevan.

Konsep ini mengedepankan pemanfaatan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat.

Melalui pendekatan itu, pelaku UMKM didorong memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi, marketplace untuk memperluas jangkauan pasar, QRIS sebagai metode pembayaran digital, hingga kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk membantu membuat desain promosi dan konten pemasaran.

Meski demikian, keberhasilan transformasi digital tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pelaku usaha.

Pemerintah daerah dinilai memiliki peran dalam menyediakan pelatihan, pendampingan, serta akses permodalan bagi UMKM.

Perguruan tinggi juga diharapkan dapat mengambil bagian melalui program pengabdian kepada masyarakat dengan melibatkan mahasiswa sebagai pendamping bagi pelaku usaha.

Sementara, Naila Nur Fatimah yang juga mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palopo mengagtakan, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan solusi nyata bagi pengembangan UMKM, tidak hanya mempelajari teori di ruang perkuliahan.

“Mahasiswa tidak cukup hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga perlu hadir di tengah masyarakat sebagai bagian dari solusi bagi perkembangan UMKM,” katanya.

Selain penguasaan teknologi, transformasi digital juga dinilai perlu dibangun di atas nilai-nilai etika. Kejujuran dalam promosi, amanah dalam mengelola keuangan, dan tanggung jawab kepada konsumen menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan di era digital.

Upaya digitalisasi pun dinilai sebaiknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari pendataan UMKM yang belum memanfaatkan teknologi, pemberian pelatihan pemasaran digital, pendampingan penggunaan aplikasi pencatatan keuangan, hingga fasilitasi pembukaan toko di marketplace.

Program tersebut juga perlu disertai evaluasi secara berkala agar perkembangan usaha dapat dipantau sekaligus menjadi dasar penyempurnaan kebijakan ke depan.

Dengan langkah yang berkelanjutan, transformasi digital diyakini mampu meningkatkan daya saing UMKM, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat pertumbuhan ekonomi lokal.

Yuyun Angraeni menegaskan, keberhasilan UMKM pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi juga kemampuan menjaga kepercayaan masyarakat.

“Keberhasilan UMKM di era digital bukan hanya diukur dari kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi juga dari kemampuan menjaga kepercayaan, integritas, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutupnya.

(Kelompok 2: Yuyun Angraeni dan Naila Nur Fatimah Adalah Mahasiswa Prodi akuntansi FEB Universitas Muhammadiyah Palopo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini