Tambal Sulam Jalinsum di Hutaraja Tak Tuntas, Warga: Tunggu Korban Lagi?

Kondisi ruas Jalan Lintas Sumatera di Desa Hutaraja, Kecamatan Sipoholon, Taput, yang telah dikeruk untuk pekerjaan tambal sulam, tetapi belum dilanjutkan dengan pengaspalan, Rabu (4/11/2026), (Dok: Abednego Manalu)

TAPUT, TEKAPE.co – Pengerjaan tambal sulam di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), tepatnya di Desa Hutaraja, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatera Utara, dikeluhkan warga.

Pasalnya, ruas jalan yang telah dikeruk selama dua pekan terakhir itu belum juga dilanjutkan dengan pengaspalan maupun perbaikan permukaan.

Berdasarkan pantauan TEKAPE.co di lokasi, Rabu (4/11/2026), bagian jalan yang dikeruk memiliki kedalaman sekitar 3–5 sentimeter. Kondisi tersebut membuat permukaan jalan tidak rata dan menyulitkan kendaraan yang melintas.

Sejumlah pengendara sepeda motor maupun mobil terlihat memperlambat laju kendaraan, bahkan mengambil jalur lain untuk menghindari bagian jalan yang telah dikupas. Situasi ini berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan, terutama pengendara roda dua.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, pekerjaan tersebut merupakan bagian dari kegiatan penanganan jalan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Utara, di bawah Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum.

Salah seorang warga setempat, Sibagariang, mengatakan kondisi jalan tersebut telah berlangsung sekitar dua pekan tanpa ada kelanjutan pekerjaan. Ia bahkan mengungkapkan, seorang pengendara sepeda motor dilaporkan terjatuh saat melintasi ruas jalan itu pada pekan ini.

“Sudah dua minggu begini-begini saja. Untuk apa dilakukan pengerukan kalau tidak langsung dikerjakan? Ini berbahaya. Minggu ini sudah ada pengendara sepeda motor yang jatuh di sini. Apa harus menunggu ada korban berikutnya baru diperbaiki?” ujarnya.

Persoalan lain yang turut dikeluhkan warga adalah keberadaan pohon di sekitar badan jalan yang kondisinya nyaris tumbang. Warga meminta instansi terkait segera melakukan pemeriksaan dan penanganan sebelum pohon tersebut roboh dan mengancam keselamatan pengguna jalan.

Mengingat Jalinsum merupakan jalur penghubung yang setiap hari dilalui berbagai jenis kendaraan, warga menilai pekerjaan pemeliharaan jalan semestinya dilaksanakan secara berkesinambungan. Pengerukan tanpa penyelesaian justru berisiko mengubah pekerjaan yang seharusnya meningkatkan kualitas infrastruktur menjadi titik rawan kecelakaan.

Masyarakat berharap BBPJN Sumatera Utara segera menuntaskan pekerjaan tersebut sekaligus menindaklanjuti kondisi pohon yang dikhawatirkan tumbang.

Hingga berita ini disusun, pihak BBPJN Sumatera Utara belum berhasil dikonfirmasi mengenai penyebab terhentinya pekerjaan selama dua pekan maupun kepastian waktu penyelesaiannya.

(Abednego Manalu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini