Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Radar THAAD AS di Yordania Dihantam Iran, Kerugian Capai Rp 5 Triliun

THAAD, pencegat rudal AS. Ralph Scott/Departemen Pertahanan AS. (ist)

JAKARTA, TEKAPE.co – Iran dilaporkan berhasil menghancurkan radar penting milik Amerika Serikat yang digunakan untuk sistem pertahanan rudal di kawasan Teluk.

Radar tersebut merupakan bagian dari sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang ditempatkan di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania.

Laporan Bloomberg yang mengutip pejabat Amerika Serikat menyebutkan, serangan itu terjadi pada hari-hari awal konflik dan mengakibatkan kerusakan pada radar AN/TPY-2 yang berfungsi mengarahkan sistem pertahanan rudal jarak jauh.

BACA JUGA: Mojtaba Khamenei Disebut Terpilih Gantikan Ali Khamenei, Pemerintah Iran Bantah

Sejumlah analis menilai kerusakan radar tersebut dapat menimbulkan celah dalam sistem pemantauan pertahanan udara di kawasan.

“Jika benar berhasil, serangan terhadap radar THAAD ini akan menjadi salah satu operasi militer Iran yang paling berhasil sejauh ini,” ujar Ryan Brobst, Wakil Direktur Center on Military and Political Power di Foundation for Defense of Democracies.

Namun, ia menambahkan bahwa militer Amerika Serikat dan sekutunya masih memiliki sejumlah radar lain yang dapat menjaga cakupan pertahanan udara dan rudal.

BACA JUGA: AS Akui Ingin Perubahan Rezim Iran, Tegaskan Fokus pada Rudal dan Nuklir

Foto satelit yang dianalisis oleh CNN menunjukkan radar AN/TPY-2 buatan RTX Corp bersama peralatan pendukungnya mengalami kerusakan di pangkalan udara tersebut.

Sistem radar itu diperkirakan bernilai sekitar US$300 juta atau setara lebih dari Rp5 triliun.

Kerusakan tersebut kemudian dikonfirmasi oleh seorang pejabat Amerika Serikat.

Data dari Foundation for Defense of Democracies mencatat dua serangan Iran yang diduga terjadi di Yordania, yakni pada 28 Februari dan 3 Maret.

Pada awalnya kedua serangan itu dilaporkan berhasil dicegat, namun hilangnya radar tersebut mengindikasikan adanya dampak signifikan dari serangan tersebut.

Ganggu Sistem Pertahanan Rudal

Sistem THAAD dirancang untuk mencegat rudal balistik di luar atmosfer atau pada ketinggian sangat tinggi.

Dengan tidak berfungsinya radar AN/TPY-2, kemampuan pencegatan rudal akan lebih banyak bergantung pada sistem Patriot.

Padahal, persediaan rudal pencegat Patriot jenis PAC-3 disebut terbatas.

Sebelumnya, radar peringatan dini AN/FPS-132 di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan Iran.

Radar tetap tersebut bernilai sekitar US$1,1 miliar dan berfungsi mendeteksi ancaman jarak jauh.

Meski mampu memberikan peringatan dini, radar tersebut dinilai tidak memiliki akurasi tinggi untuk pengendalian tembakan seperti radar THAAD.

Kerusakan beberapa instalasi sensor militer AS di kawasan Teluk dinilai sebagai upaya Iran untuk melemahkan jaringan deteksi yang menjadi bagian dari sistem pertahanan udara terpadu Amerika Serikat dan sekutunya.

Tekanan pada Persediaan Senjata

Serangan drone dan rudal Iran juga disebut meningkatkan tekanan terhadap persediaan sistem pencegat milik negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk.

Situasi ini mendorong Pentagon mempercepat produksi persenjataan.

Perusahaan pertahanan seperti Lockheed Martin dan RTX bahkan telah bertemu dengan pejabat pemerintah AS di Gedung Putih untuk membahas peningkatan produksi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan produsen pertahanan besar di negaranya telah sepakat meningkatkan produksi sejumlah senjata strategis.

“Mereka telah setuju untuk melipatgandakan produksi senjata ‘kelas istimewa’ karena kami ingin mencapai tingkat produksi tertinggi secepat mungkin,” kata Trump.

Di sisi lain, Korea Selatan juga disebut tengah berdiskusi dengan Washington mengenai kemungkinan relokasi sebagian sistem pertahanan rudal Patriot milik AS yang saat ini ditempatkan di negara tersebut.

Langkah itu dipertimbangkan menyusul laporan bahwa beberapa sistem Patriot dapat dipindahkan untuk mendukung operasi militer di Timur Tengah.

Kerugian Militer AS Diperkirakan Capai US$2 Miliar

Menurut perkiraan yang dihimpun Anadolu Agency dari berbagai data terbuka, Amerika Serikat diperkirakan telah kehilangan aset militer hampir US$2 miliar sejak konflik dengan Iran meningkat.

Kerusakan terbesar berasal dari radar AN/FPS-132 di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, yang bernilai sekitar US$1,1 miliar.

Selain itu, tiga pesawat tempur F-15E Strike Eagle juga dilaporkan hilang dalam insiden tembakan salah sasaran oleh pertahanan udara Kuwait.

Seluruh awak pesawat selamat, namun kerugian materi diperkirakan mencapai sekitar US$282 juta.

Iran juga dilaporkan menyerang fasilitas komunikasi satelit milik Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain.

Dua terminal satelit yang diduga menjadi target adalah sistem AN/GSC-52B dengan nilai sekitar US$20 juta.

Di kawasan lain, Iran mengklaim telah merusak komponen radar AN/TPY-2 dari sistem THAAD yang ditempatkan di Kota Industri Al-Ruwais, Uni Emirat Arab. Berdasarkan citra satelit dari sumber terbuka, kerusakan pada instalasi tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$500 juta.

Jika digabungkan, nilai aset militer AS yang dilaporkan rusak di kawasan itu diperkirakan mencapai sekitar US$1,9 miliar.

Sejauh ini, Iran disebut telah menargetkan sedikitnya tujuh lokasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk markas Armada Kelima di Bahrain, Kamp Arifjan dan Kamp Buehring di Kuwait, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, Pangkalan Erbil di Irak, Pelabuhan Jebel Ali di Uni Emirat Arab, serta Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini