oleh

OPINI: Milenial Memilih Tanpa Berselisih

Oleh: Muh Ari Fahmi Abidin
(Mahasiswa FISIP Unismuh Makassar)

PERHELATAN pilkada serantak di beberapa wilayah di Indonesia diagendakan pada tanggal 9 Desember 2020.

Yang sebelumnya beberapa kali mengalami revisi tanggal pelaksanaan pilkada serentak, dikarenakan adanya pandemi Covid-19 yang belum melandai secara signifikan, sehingga tidak memungkinkan akan dilaksanakan pada tanggal yang telah ditentukan pada bulan-bulan sebelumnya.

Dalam hal ini kabupaten Luwu Utara ikut serta akan melaksanakan pesta demokrasi yang telah ditetapkan oleh KPU meski di tengah pandemi Covid-19 dan setelah musibah banjir bandang pada tanggal 13 Juli 2020 yang memporak-porandakan sebagian ibu kota kapubaten serta beberapa kecamatan yang ada di Lutra.

Dari sekian banyak pemilih di Lutra, para milenial menjadi mayoritas pemilih.

Peran milenial saat ini sangat penting untuk menentukan siapa yang layak menahkodai bahtera kepemimpinan Lutra selama 5 tahun kedepan.

Masa depan milenial sangat ditentukan terhadap siapa yang akan menjadi pemimpinnya kelak, maka dari itu kita harus memilih orang yang tepat. Kita jangan menjadi apatis terhadap politik, tetapi turut serta mengambil bagian dengan menjadi pemilih yang cerdas.

Apalagi saat ini kita para milenial berada pada bonus demografi (usia produktif), dan tentunya potensi ini perlu dikelolah dengan serius oleh pemimpin yang betul-betul memperhatikan masa depan kaum milenial.

Maka dari itu, sebelum menentukan pilihan, kita kaum milenial perlu memahami terlebih dahulu visi-misi para calon bupati dan wakil bupati yang akan bertarung di pilkada Lutra.

bulan memilih karena hanya ikut-ikutan terhadap suatu kelompok yang mempunyai tujuan tertentu untuk kepentingan kelompoknya saja, ataupun kepentingan pribadi, yang patut kita pilih adalah pemimpin yang mampu mewakili, serta memperhatikan kepentingan kaum milenial dan mewujudkan aspirasi orang banyak, terutama pada lapisan eleman masyarakat kalangan bawah yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

Ini dikarenakan hasil pertanian merupakan indikator utama pertumbuhan ekonomi masyarakat di Luwu Utara.

Jangan sampai suara para pemuda dan pemudi mampu di ukur dengan angka rupiah.

Memang saat ini kita tidak bisa menafikan bahwa setiap orang membutuhkan uang untuk kelangsungan hidupnya, akan tetapi pantaskah idealisme kita di ukur dengan sebuah kertas yang bernilaikan angka rupiah? Pantaskah untuk kita perjual-belikan?

Tan Malaka salah satu Pahlawan Nasional pernah mengatakan “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”

Pemuda dan Pemudi harus berani menentukan pilihan, apapun konsekuensi dari keputusan yang telah diambil.

Dalam hal menentukan pilihan kita boleh saja berbeda akan tetapi persatuan kita harus tetap berdiri kokoh sebagi Wija to Luwu yang berbudaya, menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur “Sipakatau, Sipakainge’, Sipakalebbi”.

Dalam pemilihan yang bebas ini kita perlu mengawal egoisme kita masing-masing jangan hanya karena berbeda pilihan dapat menimbulkan perpecahan dan janganpulah juga mudah untuk terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Apalagi dengan kondisi saat ini, Lutra belum sepenuhnya pulih dari musibah banjir bandang, kita perlu saling menguatkan satu-sama lain, serta saling membantu sesama, bukan malah ingin saling menjatuhkan dan menebar ujaran kebencian, hanya karena mendengar isu-isu yang bersifat propokatif yang tidak jelas sumbernya ataupun tidak mampu untuk dipertanggungjawabkan.

Mari kita kawal proses pemilihan dengan damai dan aman demi mewujudkan Luwu Utara yang berintegritas.

Mari kita memilih kepala daerah yang Bisa menjadi Pemimpin Semua Golongan untuk Rumah Kita Luwu Utara.

Milenial memilih tanpa berselisih. (*)

Komentar

Berita Terkait