Ma’riu Batu Warnai Rangkaian Rambu Solo’ Ne’ Winner di Rantebua, Simbol Kehormatan Bangsawan Toraja
TORAJA UTARA, TEKAPE.co – Suasana duka sekaligus penuh kekhidmatan menyelimuti Tongkonan To’ Semba di Lembang Pitung Penanian, Kecamatan Rantebua, Kabupaten Toraja Utara.
Keluarga besar, kerabat, dan masyarakat bergotong royong mempersiapkan pelaksanaan upacara adat Rambu Solo’ bagi almarhumah Lai’ Lotong (Ne’ Winner).
Rangkaian upacara diawali dengan penancapan pohon induk (enau) di halaman tongkonan pada Senin (29/6/2026).
Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya ritual adat yang akan berlangsung selama sepekan.
Mewakili keluarga besar, Kepala Lembang Pitung Penanian, Yohanis Rantebunga, menyampaikan belasungkawa sekaligus harapan agar seluruh tahapan upacara berjalan lancar.
“Kami turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga besar almarhumah. Semoga seluruh rangkaian Rambu Solo’ berlangsung dengan khidmat, keluarga diberi ketabahan, dan Tuhan menerima almarhumah di pangkuan-Nya,” ujarnya, Selasa (30/6/2026).
Salah satu prosesi yang menjadi perhatian dalam Rambu Solo’ kali ini adalah Ma’riu Batu atau Mangriu’ Batu, yaitu ritual menarik dan menegakkan batu menhir (Simbuang Batu) di arena upacara.
Tradisi ini tidak dilaksanakan pada setiap Rambu Solo’, melainkan hanya diperuntukkan bagi keluarga dari strata bangsawan tinggi (Tana’ Bulaan) yang menggelar upacara adat dalam tingkatan besar.
Sebelum menhir ditegakkan, keluarga terlebih dahulu menancapkan pohon induk sebagai poros utama seluruh rangkaian ritual.
Selanjutnya, masyarakat bersama-sama menarik batu besar dari lokasi asalnya menggunakan tali rotan menuju lapangan upacara.
Prosesi berlangsung dalam semangat gotong royong, diiringi tabuhan musik tradisional, sorak-sorai penyemangat, serta lantunan syair adat yang menjadi ciri khas budaya Toraja.
Setelah tiba di lokasi, batu kemudian ditancapkan secara tegak melalui prosesi adat yang dipimpin pemangku adat (To Minaa).
Simbuang Batu selanjutnya difungsikan sebagai tempat mengikat kerbau, termasuk Tedong Bonga, yang akan dikurbankan pada puncak pelaksanaan Rambu Solo’.
Bagi masyarakat Toraja, Simbuang Batu bukan sekadar bagian dari prosesi adat.
Batu tersebut menjadi simbol penghormatan terakhir kepada mendiang, penanda status sosial keluarga, sekaligus monumen yang akan terus dikenang oleh generasi penerus.
Di balik kemegahan ritual itu, Ma’riu Batu juga mencerminkan nilai luhur masyarakat Toraja, yakni semangat kebersamaan, solidaritas, dan gotong royong yang tetap terpelihara dalam setiap pelaksanaan upacara adat.
(Erlin)






Tinggalkan Balasan