oleh

LAI Luncurkan 5.000 Alkitab Berbahasa Mori, Bupati Delis: Kuatkan Keimanan dan Lestarikan Budaya

MORUT, TEKAPE.co – Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) meluncurkan serta mendistribusikan sebanyak 5.000 buku Alkitab atau kitab suci Umat Kristen yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Mori, suku yang mendiami Kabupaten Morowali Utara (Morut) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

“Dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, atas nama LAI, kami luncurkan dan dan distribusikan Alkitab dalam bahasa Mori, agar dapat mendekatkan Umat kepada Tuhan, dan dimana firman Tuhan diberitakan di sana UmmatNya menjadi berkat,” ucap Kepala Departemen Penerjemahan LAI, Pdt Dr Anwar Cen Phd, dalam kegiatan peluncuran Alkitab berbahasa Mori tersebut.

Dengan peluncuran ini, maka secara otomatis Alkitab Bahasa Mori kini telah tersedia, untuk Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Acara yang dihadiri Bupati Morut, Dr dr Delis Julkarson Hehi MARS, dan Ketua TP PKK Morut, Febriyanthi Hongkiriwang Ssi Apt, sejumlah Pimpinan OPD dijajaran Pemda Morut, serta Wakil Ketua 1 Sinode GKST Tentena, Pdt Dr Tertius Lantigimo, para pendeta dari berbagai gereja.

Juga hadir Camat dan para kepala desa, yang dipusatkan di Gereja GKST Jemaat Pa’antorini Korowalelo, Kecamatan Lembo, Senin 31 Oktober 2022, yang bertepatan dengan Hari Reformasi Gereja.

Kegiatan tersebut, dihadiri sekitar 500 Jemaat, yang seluruhnya menggunakan pakaian Adat Mori dari berbagai anak suku yang ada.

Peluncuran Alkitab bahasa Mori ini, diawali dengan ibadah syukur yang dipimpin Sekretaris Umum (Sekum) Sinode GKST Tentena, Pdt Jetroson Rense MTh.

Pendeta Jetroson, memimpin jemaat untuk membaca sejumlah ayat dalam Alkitab bahasa Mori Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tersebut.

“Proses penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Mori ini, berlangsung selama 15 tahun, dengan melibatkan sembilan orang penerjemah,” kata Jetroson, dalam khotbahnya.

Dari penjelasan LAI, untuk tahap pertama ini, telah dicetak sebanyak 5000 eksemplar dan akan dibagikan secara gratis kepada umat Kristiani yang ada di Morut.

“Untuk sementara ini, belum ada stok untuk dijual di toko-toko buku, namun kami berencana untuk menggelar kegiatan bhakti sosial untuk membagikan Alkitab ini, dengan sumbangan sukarela dari masyarakat Mori,” ujar salah seorang penerjemah, Marto Waeari.

Bupati Delis, dalam sambutannya, mengatakan, peluncuran Alkitab dalam bahasa Mori tersebut, memiliki dua manfaat utama, pertama, untuk menguatkan iman dan kepercayaan umat kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya.

Kedua, melalui penerjemahan Alkitab ini, budaya dan bahasa mori bisa dilestarikan, khususnya di kalangan generasi muda, yang saat ini sudah semakin banyak tidak bisa memahami, serta menggunakan bahasa mori.

Sementara itu, Wakil Ketua 1 Sinode GKST Tentena, Pdt Tertius Lantigimo, mengatakan, Alkitab dalam bahasa daerah ini, perlu terus dikembangkan dan dilestarikan, karena bahasa daerah adalah bahasa batin atau bahasa ibu, sehingga para pembacanya akan lebih memahami dan meresapi arti setiap kalimat, karena disampaikan dengan budaya yang ada.

“Kalau baca Alkitab bahasa Indonesia, terasa terlalu formal, tapi kalau baca dalam bahasa daerah akan lebih akrab sehingga lebih mudah untuk dipahami,” ujarnya.

Kegiatan peluncuran Alkitab bahasa Mori tersebut, ditandai dengan kirab tokoh agama dan warga jemaat di dalam Desa Korowalelo, serta tari-tarian khas daerah ‘lumense’ yang disajikan remaja gereja setempat.

Pada kesempatan itu, Bupati Morut, Delis Julkarson Hehi, memberikan bantuan untuk pembangunan gedung Gereja GKST Jemaat Pa’antorini Korowalelo yang baru, sebesar Rp50 juta. (MCDD/NAL)

Komentar

Berita Terkait