oleh

Komitmen Perbaiki Tatanan Kedatuan Luwu, Tokoh Adat Ini Pilih Bergabung ke Pancai Pao

PALOPO, TEKAPE.co – Salah satu tokoh adat Tana Luwu, Andi Asrul Nyili Opu To Sau, menyatakan sikap untuk memilih bergabung dengan adat Pancai Pao.

Alasannya, salah satu tokoh adat tana Luwu yang banyak mengetahui dan menyimpan salinan Lontara sejarah Kedatuan Luwu ini ingin memperbaiki tatanan adat Kedatuan Luwu, yang saat ini banyak menyimpang.

Juga tak ingin berada di salah satu kubu dalam Kedatuan Luwu.

Sebab selama ini, terjadi dualisme Datu Luwu, yakni Datu Luwu ke-39, Andi Iwan Bau Alamsyah Djemma Barue, dan Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau.

Opu To Sau memang selama ini sebagai Balirante Kedatuan Luwu, versi Datu Luwu ke-39, Andi Bau Iwan Alamsyah.

Opu To Sau lebih memilih bergabung ke Adat Pancai Pao, karena tak ingin ada tanggapan negatif dari pihak lain, dengan terjadinya dualisme Datu Luwu.

“Saya ingin hubungan kekeluargaan dengan Datu Andi Iwan dan Datu Andi Maradang tetap terjaga, sehingga saya lebih baik ikut bergabung bersama adat Pancai Pao yang lebih netral,” ujarnya, Jumat 3 Desember 2021.

Opu Sau mengaku, selama ini dirinya melihat, dewan adat Pancai Pao dari dulu tetap memilih netral. Tidak berpihak ke Andi Iwan, begitu juga tidak miring ke Andi Maradang.

Opu Sau mengaku memilih netral, karena untuk kepentingan Kedatuan Luwu, agar jika diundang dari versi siapapun, selama itu untuk kepentingan adat dan budaya, maka bisa tetap hadir.

“Andi Iwan dan Andi Maradang adalah keponakan saya,” kata Opu Sau.

Adapun pilihan bergabung dengan Pancai Pao, karena dirinya memang juga dari turunan Pancai Pao.

“Ceritera Pancai Pao atau Petta Pao, pada abad ke-15, adalah kakak kandung Petta Pattimang, yang menjabat Raja Luwu ke-15. Pada dimensi ketiga, awal masuknya Islam di tana Luwu,” jelas Opu Sau.

Opu Sau mengatakan, dalam tatanan adat Kedatuan Luwu di abad ke-15, Pancai Pao adalah pemegang simbol kemuliaan, payung.

“Kita ketahui, simbol tertinggi Kerajaan Luwu adalah payung. Itulah peran Petta Pao, sebagai pemilik simbol tertinggi di Kedatuan Luwu,” tegas Opu Sau.

Sementara itu, Petta Pattimang adalah Raja Luwu pada abad 15, sebagai penguasa di masa pemerintahan Kerajaan Luwu. Sehingga Pancai dan Raja Luwu atau pajung, tak bisa dipisahkan. Selain bersaudara kandung, juga satu kesatuan menjaga marwah Kedatuan Luwu untuk rakyatnya.

“Itulah salah satu sebabnya, jika Raja Luwu ingin ke tana Pancai, maka harus menenuhi syarat tertentu, baik lewat darat maupun laut, baru bisa masuk di tana Pancai,” katanya.

Sebab, jelas Opu Sau, Petta Pao adalah raja di tana Pancai. Sehingga Datu Luwu, kalau masuk di tana Pancai, tak boleh bermalam, karena tak boleh ada dua raja di tana Pancai 1×24 jam.

“Begitu mulianya kedudukan Pancai Pao, walaupun bukan Raja Luwu, tapi ada komitmen antara Raja dan Pancai, yang merupakan sumpah di masa lampau yang harus ditaati,” ujar Opu Sau.

Opu Sau mengatakan, Pancai adalah kakak Raja Luwu ke-15. Pancai berhak menegur adiknya sebagai raja, jika dalam pemerintahannya ada hal yang keliru dalam menjalankan amanah.

“Terlepas dari semua ceritera itu, saya juga ingin sampaikan bahwa pemegang mandat adat Pancai Pao, Abidin Arief to Pallawarukka, adalah adik sepupu tiga kali saya, sehingga tentu lebih mudah untuk kami bersinergi dalam melaksanakan amanah leluhur kami,” jelas dia.

Terpisah, Pemegang Mandat Adat Pancai Pao, Abidin Arief menyambut baik keinginan Opu Sau untuk bergabung ke Pancai Pao, untuk memperbaiki tatanan adat Kedatuan Luwu.

Abidin juga membenarkan bahwa Opu To Sau memang turunan Pancai Pao. Sehingga bergabungnya di adat Pancai Pao, sudah menjadi pilihan yang tepat.

“Pada prinsipnya, siapapun yang bergabung, semua pasti kita sambut baik. Apalagi jika anak turunan Pancai Pao, sebab adat Pancai ini miliknya wija to Luwu,” ujar Pancai.

Abidin juga mengatakan, salah satu pesan moral Petta Pao adalah adat Pancai Pao tidak punya hak untuk mengurusi harta benda Kedatuan Luwu.

Sebab, adat Pancai Pao tupoksinya adalah menjaga tatanan, untuk menjaga kemuliaan Kedatuan Luwu, demi tana Luwu dan Wija to Luwu. (rin)

Komentar

Berita Terkait