oleh

Jaga Air Limbah, PT Vale Terapkan Teknologi Lamella Gravity Settler

LUWU TIMUR, TEKAPE.co – Berusia 51 Tahun, PT Vale Indonesia tidak henti-hentinya melakukan perbaikan dan pembenahan sebagai Perusahan Pertambangan.

Selain penerapan reklamasi lahan pasca tambang dan penggunaan boiler electric atau mesin uap yang memiliki teknologi terkini, PT Vale Indonesia juga telah menerapkan Teknologi Lamella Gravity Settler (LGS) agar menjamin mutu air limbah.

Sejak tahun 2013, PT Vale telah menerapkan program Effluent Project, untuk mengolah limbah cair secara terintegrasi dengan mengoperasikan Pakalangkai Waste Water Treatment (WWT).

Kegiatan penambangan ini menimbulkan reaksi pembentukan limbah cair (effluent) berupa Total Padatan Tersuspensi (TSS) dan Kromium valensi (Cr6+).

Sehingga, PT Vale Indonesia membuat kolam sedimen, pengerukan lumpur pada kolam sedimen, pengelolaan Cr6, dan upaya reklamasi pasca tambang untuk menjaga kualitas air agar masih memenuhi baku mutu yang ditetapkan Pemerintah.

Dengan menggunakan metode konvensional tersebut, PT Vale sebenarnya masih bisa memenuhi ketentuan baku mutu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 9 Tahun 2006 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan Bijih Nikel.

Hasil pengukuran kadar TSS dan Cr6+ di titik-titik pengukuran yang bermuara ke Danau Matano dan Danau Mahalona selalu berada jauh di bawah baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah.

Badan air danau terlihat jernih meskipun PT Vale telah beroperasi selama 51 tahun di Sorowako.

“Namun kami ingin melakukan upaya lebih,” ungkap Mine Environment Team Leader PT Vale, Erwin Rusli, Jumat 2 Agustus 2019.

Untuk meningkatkan efisiensi penurunan beban pencemaran dari TSS dan Cr6+ itu, PT Vale telah membangun Lamella Gravity Settler (LGS) di Blok Sorowako dengan kapasitas 4.000 m3/jam dan biaya sebesar 3,2 juta dollar Amerika Serikat.

“Kami telah membangun fasilitas Lamella Gravity Settler (LGS). Fasilitas LGS terintegrasi dengan 17 kolam pengendapan berkapasitas 16 juta meter kubik. Pembangunan fasilitas ini merupakan bentuk kepatuhan atas pemberlakuan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 9 Tahun 2006 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan Bijih Nikel,” terang Erwin Rusli.

Kunjungan wartawan ke PT Vale, dalam program media visit gelombang kedua tahun 2019.

Di 2018, PT Vale mengoptimalkan kinerja fasilitas LGS meski biaya operasi terbilang mahal, mencapai AS$1 juta per tahun.

Rencana ke depan, PT Vale akan membangun lagi fasilitas LGS di Blok Petea.

Dalam pembangunan, pengawasan, dan penilaian kinerja LGS, PT Vale bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Penerapan teknologi Lamella Gravity Settler di PT Vale Indonesia adalah yang pertama diterapkan untuk industri pertambangan.

Selain LGS, PT Vale juga memiliki Pakalangkai Waste Water Treatment yang beroperasi sejak 2013 dengan investasi sebesar USD 1,9 juta.

Fasilitas ini terintegrasi dengan 85 kolam pengendapan limbah cair (pond).

Vale juga melakukan pemantauan berkala di laboratorium independen terakreditasi untuk mengetahui kualitas air hasil pengolahan effluent.

Pengukuran dilaksanakan menggunakan metode SNI 6989.59:2008 Air dan Air Limbah, serta Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater 21th Edition (2005), 1060, Collection and Preservation.

Terkait efisiensi penggunaan air, sepanjang 2014-2018, PT Vale telah melakukan efisiensi air rata-rata 190m3/ton.

Air yang didaur ulang berasal dari pencucian kendaraan ringan dan dari pembersihan area kerja proses pengolahan.

Air terlebih dahulu dialirkan ke kolam pengendapan untuk memisahkan dari sedimen, kemudian air dipompa kembali ke dalam penampungan berupa kolam impermeable dan tangki.

Upaya daur ulang ini menggantikan penggunaan air yang sebelumnya menggunakan air yang dipompa dari danau. (Bolang)

Komentar

Berita Terkait